Minggu, 10 Agustus 2014

"Pinjam ya?"

Aku diam-diam mengambil kunci motor dan nekat melaju di jalan raya pertama kalinya. Ini demi masa depanku, hari terakhir pendaftaran SMA yang menjadi harapan terakhirku. Sekolah itu sekitar 25 km dari rumahku. Aku memarkir motor curian--motor kakak laki-laki yang tak pernah merestui pendidikanku.

Sepi. Aku melirik sekitar, hanya ada dua anak yang tidak terlalu kuperhatikan. Jam tangan biru kesayanganku, menunjukan pukul 11.10 WITA. Aku menuju ruangan bertuliskan "Tempat pengambilan formulir pendaftaran".  Di balik kaca bening itu seorang perempuan berjilbab dan bersahaja tersenyum sambil menyodorkan beberapa lembar kertas. Aku meraih, membalas senyumnya dan mengucapkan terima kasih.

Aku duduk di salah satu bangku, mencari pulpen, aku mengacak-acak seisi tasku tapi tak menemukan benda penting itu. Aku menggigit bibirku kesal. "Berangkat terburu-buru dan pake acara kabur, gak izin. Ini akibatnya!" celotehku pada diri. Saat aku mengangkat wajah dari fokus tasku, kusadari sorot mata itu memperhatikanku. Seseorang yang ku duga calon siswa sepertiku. Aku hanya tersenyum kikuk dan membuang pandangan ke arah gadis yang sibuk dengan lembaran formulir miliknya. Gadis di bangku depanku hanya berjarak dua meter.

Aku ingin bertanya pada gadis, apa dia memiliki dua buah pulpen, tak jadi, takut mengganggunya yang sedang serius.  Cowok yang tergolong ganteng di sana, sedang bersantai, kuduga selesai mengisi formulir, ia sibuk membaca ulang kertas itu. Dia harapanku satu-satunya setelah aku melirik ke kaca dan perempuan yang kuduga ibu guru itu tak ada di tempat. "Oh, Nurmi beranilah. Kamu cuma butuh kata hai!" bisikku pada diri agar berdiri dan menghampiri.

Langkahku cepat menghampiri. Tanpa basa-basi seperti yang terencana dibenakku, aku langsung duduk di sampingnya.

"Sudah selesai?" Tanyaku to the point. Cowok berkulit bersih dan tidak kurus itu tersenyum tak menjawab. Ia menunjukan kertasnya padaku. Aku tersenyum antara senang dan malu, takut dikira SKSD (sok kenal sok dekat).

"Boleh pinjam pulpennya kan?" Ia belum berkata "iya" atau sekedar mengangguk. Bersamaan dengan terlontarnya pertanyaanku, aku meraih pulpen yang tergenggam longkar di tanganya.

Tak tau malu, aku mengisi cepat formulirku dan menyerahkannya kembali pada panitia pendaftaran. Lalu kembali duduk di samping cowok yang tak beranjak dari tadi.

"Loh? Kamu enggak ngumpul formulirmu?" Tanyaku heran.

"Aku belum tanda tangan." Jawabnya santai dan menunjukan lembar terakhir formulir.

"AHH.... Maaf ya. Aku enggak tau dan asal pinjem pulpen aja. Hehe--" Aku menyodorkan pulpennya yang kugenggam

"Hehe.... Tak apa." Ia menandatangi, aku bisa mendengarkan helaan napasnya yang kurasa ungkapan perasaan legah atau bisa jadi perasaan heran terhadapku yang kere, sudah mau SMA tapi pulpen saja tidak punya. Aku terdiam, merasa malu.

Ia berdiri dan mengumpulkan formulirnya. Aku berdiri dan menuju parkiran. Kurasa ia menoleh saat mendengar suara motorku.

***
"Ma. Aku berangkat ya? sama Tiara. Jadi gak perlu dengerin ocehan kakak dulu. Lagipula masih ngorok tu." Aku mencium tangan Ibuku dan merapikan dasiku mengumpulkan semangat. Hari ini tes masuk SMA.

Ruangan 2. Aku duduk di bangku urutan ke-3 dari depan dan samping kananku dinding. Oh, sulit sekali. Aku hanya bisa menjawab beberapa soal bahasa inggris. "OMG. Masa depanku hancur sudah!" Tak sadar suaraku tergolong keras karena suasana damai ruangan, semua mata seisi ruangan tertuju padaku, beruntung pengawas saat itu sedang keluar sebentar.

Aku cemberut, kembali menatap hampa lembar-lembar soal. Seperti sebelumnya aku merasa pupuslah harapaku menjadi anak SMA jika tidak lulus tes. Waktu tersisa dua puluh menit. Aku merebahkan kepala di atas meja dan pasrah. Tak cukup semenit aku menyerahkan segalanya pada takdir, kursiku bergerak. Aku menoleh pelan-pelan, sebelumnya aku melirik pengawas.

"Ini untukmu! Minta punyamu!"

Lembar soal itu berisi jawaban yang dilingkari dengan pensil. Aku terdiam dan berpaling melihat lembar soalku.

"Tak usah mengisinya! Tukar saja! Cepatlah! Nanti waktunya habis." Bisiknya lagi.

Aku mengawasi situasi, meraih pensilku dan menulis 'Thanks' dan gambar senyum di bagian atas soal, berbalik, dua detik kemudian sibuk mengisi lembar jawaban miliku yang masih banyak kosong.

Bel berbunyi. Siswa-siswa berseragam SMP berhamburan keluar dari lima ruangan tes. Aku mencari-cari cowok itu, tak ada. Hingga sepi dan Tiara memanggilku untuk pulang, aku tak menemukannya. Ini kedua kalinya dia menolongku tapi aku tak tau namanya.

***
Sabtu kemarin pengumuman siswa yang lulus dan perlengkapan apa yang harus dibawa untuk kegiatan MOS. Hari ini aku kembali bertemu dengannya. Upacara rutin setiap senin sekaligus penyambutan siswa baru pagi ini, kami berada di garis barisan yang sama. Sayang kami berbeda kelas MOS.

Pita merah di rambutku menjadi identitasku sebagai bagian dari kelas Nusa, sedangkan dia berada di kelas Bangsa. Kelas berdasarkan nilai rengking tes. Bagaimana bisa dia di bawahku?

Hari terakhir MOS. Di siang yang terik, semua siswa berbaris rapi dengan properti masing-masing. Inilah puncak hari sial untukku. Setelah hari pertama dihukum karena pitaku kurang, entah terjatuh di mana. Hari kedua menjadi bahan bully karena surat yang kubuat terlalu berani terhadap kakak tergalak. Hari ini, aku menjadi perserta sasaran untuk dibuat menangis.

"Jadi, apa kalian tau salah kalian? Sudah tau?" suara itu meninggi lagi.

"Kamu? Salahmu apa?"

"Gak tau kak. Semua yang kakak-kakak tuduhkan salah." Aku membela diri. Sementara di ruangan isolasi itu kami sedang mencari pembenaran diri, di luar sana, siswa-siswa yang lain sedang asik memilih coklat dan memakannya bersama, coklat yang kami berikan beberapa hari ini sebagai syarat memperoleh tanda tangan.

"Jadi, salah kalian itu..." Gadis berekor kuda itu berteriak.

"Salah kalian wahai ade-adeku yang manis, yaitu... " Gadis lain berkata dengan lembut.

"Siapa suruh kalian lahir di bulan ini!" Kak Baim tersenyum sumberingah, merasa tak bersalah. Berbagai kalimat permohonan maaf dan pujian keluar dari mulut-mulut mereka, senior-senior.  Kami kembali bergabung dengan yang lain. Deretan senior, guru-guru, dan kepala sekolah di hadapan kami. Ucapan selamat dan nasehat karena kami telah resmi menjadi siswa SMA begitu menyejukkan perasaan.

***
Letih. Aku duduk bersandar di bangku depan perpustakaan menunggu menjemput. Mataku bengkak, dan bajuku begitu kotor. Mataku terpejam, langkah kaki terdengar mendekat.

"Hallo, kenalkan. Namaku Hendra." Aku membuka mata pelan. Sebuah tangan terulur menanti dijabat. Aku tersenyum senang.

"Hallo, Hendra. Aku Nurmi. Senang berkenalan denganmu."

"Semoga kita sekelas ya."

"Semoga. Mahendra N R."

"Hei, bagaimana kau tau nama asliku."

"Dari bet nama abstrak yang setia menemani kita tiga hari. Haha..." Kami tertawa bersama.

----

Tantangan menulis dari 

---Harus kisah anak SMA.
---Maksimal 1000 kata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam kenal. Semoga bermanfaat. Thanks atas kunjungan dan komentarnya.