Rabu, 09 Oktober 2024

Mengimplementasikan Manajemen Kelas Efektif dan Disiplin Positif (Tugas Level 2 - Wardah Insparing Teacher 2024)

Hallo,

"Assalamualaikum.... 
Selamat pagi,
Selamat siang,
Selamat malam,
Sehat selalu dan semoga lancar segala aktivitas kita. "



KLIK UNTUK MELIHAT POSTINGAN TUGAS DI INSTAGRAM




Apa itu displin positif?

Disiplin positif adalah menumbuhkan disiplin yang didorong dalam diri anak tanpa hukuman dan hadiah. Keluarga memerlukan aturan dan batasan yang jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan untuk kepentingan bersama.

Bagaimana menerapkan disiplin positif di sekolah? 
Berikut ini beberapa contoh penerapan disiplin positif di sekolah:

  1. Datang ke sekolah lebih awal.
  2. Berpakaian rapi dan sopan.
  3. Memulai dan mengakhiri pelajaran tepat waktu.
  4. Menerapkan peraturan di kelas.
  5. Memberi contoh menjaga kebersihan lingkungan.
  6. Disiplin administrasi dan berkas guru.
  7. Adil menegakkan kedisiplinan.


Apa itu manajemen kelas efektif?

Manajemen pembelajaran yang efektif adalah elemen kunci dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang produktif dan memastikan kesuksesan siswa. Ini melibatkan sejumlah strategi dan pendekatan yang dirancang untuk memfasilitasi pembelajaran yang efektif dan merangsang perkembangan siswa secara menyeluruh.


Rabu, 25 September 2024

Why? Harus Bangga Menjadi Guru Merdeka Belajar (Tugas Level 1 - Wardah Inspiring Teacher 2024)


"Assalamualaikum.... 
Selamat pagi,
Selamat siang,
Selamat malam,
Sehat selalu dan semoga lancar segala aktivitas kita. "

Guru?

"DiGugu dan ditiRu" 
"Dipercaya dan diikuti"

Digugu artinya perkataan dan perbuatan guru harus bisa dipertanggungjawabkan.
Ditiru artinya setiap sikap dan perbuatan guru pantas untuk dijadikan tauladan bagi siswa.

Sesuai/ Tidak Sesuai Harapan?


Namun masihkah hal tersebut dapat berjalan baik sesuai harapan guru dan sesuai harapan siswa. 
Seiring waktu, perkembangan teknologi, kurikulum yang berubah, dan kebutuhan siswa yang berubah, serta dunia yang berkembang pesat, baik bidang pendidikan maupun berbagai bidang lain. 

Apakah bapak/ibu guru saat ini pernah merasa ingin menyerah menjadi guru karena tantangan yang semakin meningkat dan merasa sulit menyesuaikan diri? Tidak sedikit yang merasakan hal tersebut, termaksud saya. Namun, Bapak/ibu ada hal yang harus kita perjelas dalam diri kita. Kita harus tau tujuan kita, bagaimana merencanya dan tentu merefleksikan apa yang kita lakukan. Hal ini sejalan dengan "Merdeka Belajar" saat ini. 

Jangan Menyerah!


Jika bapak/ibu guru ingin menyerah, ingat lagi alasan dan tujuan bapak/ibu guru. 

Berikut ini sedikit kisah saya yang terus berusaha menjadi guru yang merdeka belajar dan semakin bangga menjadi guru.

Saya adalah anak pertama perempuan  dari orang tua yang sehari - hari bekerja sebagai petani yang lahir di kabupaten Paser, Kalimantan Timur.  Pada 2003 di desa anak - anak yang bersekolah hingga jenjang SMP hanya sekitar 5 anak, terlebih jenjang berikutnya. Selain akses yang sulit karena berada di pesisir, tidak ada sekolah selain SD. Ketika anak- anak yang ingin bersekolah harus berpisah dengan orang tua dan membayar biaya tinggal.

Berawal dari  GURU berakhir jadi GURU


Saya ingin menjadi guru, terinspirasi dari guru IPA SD, maka saya terus berusaha melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Berbagai upaya diusahakan termaksud berusaha mendapatkan beasiswa. Bekerja di sela waktu kuliah. Bersyukur saya dapat menyelesaikan pendidikan dan mengikuti seleksi SM3T (Sarjana Mendidik daerah 3T,  tertinggal, terpencil, tertinggal). Berhasil hingga tes akhir, saya menjadi guru di Jayawijaya. Tahun 2015 kembali ke Kalimantan Timur.

Berada di daerah Papua ternyata membuat saya belajar banyak hal dan penasaran dengan daerah - daerah lain. Bagaimana pendidikan Indonesia yang sebenarnya, apa kah masih banyak daerah yang sangat memerlukan sarana dan prasaran, dan selalu ada guru yang berjuang disegala tantangan keterbatasan akademik siswa, akses, dan timbal balik (gaji) yang tidak tergolong layak pula.

Sebelum saya memulai PPG (Profesi Pendidikan Guru), saya menjadi relawan pendidikan dan juga mengikuti berbagai komunitas pendidikan yang bertugas mendatangi secara langsung lokasi sekolah dan menjalankan program. 

Perbagai hal yang ditemukan dan saya jalani di berbagai daerah di momen berbeda menghasilkan pembelajaran yang berarti, membuat saya sadar bahwa saya TIDAK BOLEH BERHENTI menyebarkan pengetahuan. Banyak cara untuk berbagi pengetahuan, namun menjadi GURU membuat saya marasa mimiliki KEBANGGAAN tersendiri dan lebih banyak memberi.

Klik 

--> untuk melihat tugas Level 1 saya di Intagram 

 





===

Kamis, 12 Januari 2023

Refleksi diri 10 Tahun (12 Januari 2023)

Hari ini, tantangan menulis refleksi 10 tahun lalu. Jujur, nggak tau mau nulis apa. 
Yang aku ingat awal 2013 ketika teman selesai PPL dan siap untuk sidang skripsi. Sedangkan aku baru mendaftar PPL lagi karena mengundurkan diri disemester 7, waktu itu alasanya sakit lumayan lama setelah pulang KKN dan sibuk kerja untuk menambah tabungan biaaya skripsi (nanti), padahal proposal saja aku belum mengajukan, hahaha, harus selesai PPL dulu. Pikirku saat itu.

Dapat sekolah PPL yang sulit akses (naik angkot serbah tidak sampai lewat jalur manapun) padahal setiap hari masih ngampus dan harus ke sekolah juga. Nekat beli motor dengan niat hemar di trasportasi tapi kudu lebih lembur kerja untuk menutupi pengeluaran yang semakin banyak.

Ku kira 2012 yang terberat ketika harus kehilangan rumah dilahap habis si jago merah, 1 bulan tidak mau kuliah, hampir menyerah menunda KKN, pulang KKN sakit, mengundurkan diri dari PPL gelombang 1. Menarik diri dari berbagai aktivitas yang berhubungan dengan banyak orang. Pagi kampus, siang kerja, malam kerja, sabtu kerja. Ternyata 2013 lebih dari itu.

Bahkan aku harus merahasikan sakitku dari keluarga, sahabat, dan orang terdekat. Secara fisik mungkin baik-baik saja (terlihat) namun tidak dengan faktanya. Wahai diri kamu kuat, kataku setiap hari. Uangmu yang kau kumpulkan dengan kurang tidur harus habis. Bahkan makan harus kau hemat demi trasportasi PPL dan biaya skripsi yang proposal saja ditolak melulu.  Kau (diriku) terlalu gengsi meminta kepada orang tua meski hanya selembar karena terllau tau diri dengan keadaan.

"Aku baik-baik saja," Suara bergetar menjawab terdengar tanya melalui telpon genggammu yang tak punya kamera.

10 tahun lalu, masih ingatkah kau (diriku) menangis sepanjang  malam kehilangan sahabat terdekat selamanya karena musibah, lalu kehilangan seseorang karena keegoisan tanpa mempertimbangkan 5 tahun berlalu dengan baik karena bersama. hari-harimu menjadi sepi dikampus karena teman-teman dekat sudah sarjana sedangkan pagi ini kau masih harus mengantri di bank membayar biaya semester 9. Kabar baiknya kau telah lulus PPL dengan nilai A. Siangnya kamu masih harus seolah merengek untuk jadwal sidang proposal skripsi. Lalu saat penelitian hingga sidang , entah berapa banyak PHP keadaan dan dosen yang sulit ditemui, yang akhirnya menyadarkanmu bahwa berbesarbesar hati mengikhlaskan adalah yang yang harus kau lakukan lagi. Yah, relakan lah tahun ini.


10 September 2013. Di luar bintang bersinar terang, jam di kamar menunjukan pukul 10, gagal sudah rencana tidur nyenyakmu. Seseorang menulis di kolom sosmed mu. Menghakimimu  pemalas dan membandingkan dengan yang lain. Dia mengibaskan pedang tanpa tau perjuanganmu yang bahkan tangga kampuspun lebih mengerti.
Ah, ingin membalas tapi dia harusnya menjadi panutan (karena dia dosen, yang tidak pernah mengajarmu, bagaimanapun dia dosen), bagimu kini ia tak layak untuk menjadi panutan, lebih tidak layak untuk kamu ladeni ocehannya, tapi bagaimanapun hatimu terluka, hingga menangis tersedu dimalam ulang tahunmu. Dejavu perjuanganmu bahkan dimuali 2003 saat mencuri kesempatan untuk mendaftar diri di SMP dan menjadi egois tanpa bertanya pada orang tua, karena akan jauh dari rumah, meninggalkan keluarga.


Kamu. Iya! kamu yang 10 tahun lalu kerap merasa tak layak, kerap dibujuk menyerah oleh keadaanm sedih karena kehilangan. Kamu hebat karena tetap bertahan. Melalui semua dengan baik. 

Berdamailah dengan diri sendiri!
Optimislah 10 tahun kedepan bahkan 10 tahunnya lagi kamu akan tetap mengingat hari itu,  hari ini dan hari ini tetaplah berarti dalam prosesmu. 

"Terimakasih ya, Kamu kuat. I love u, sini kau peluk dan tepuk-tepuk pundakmu. Wahai diriku yang berarti."


Mi Nurmi, 2023