Senin, 12 Januari 2015

Pasir Putih di Atas Gunung (Jayawijaya)

Sebuah pasir putih ternyata tidak hanya berada di pantai, di Distrik Kurulu (Jayawijaya), tepatnya di Libarek terdapat sebuah pasir putih yang banyak, keluar dari balik bebatuan di atas gunung.
Jalan masuk menuju pasir putih di antara bebaruan besar
Sekilas terlihat dari jauh, pasir-pasir ini tidak banyak namun semakin mendekat dan naik ke atas pasir-pasir ini begitu banyak.

 Inilah pemandangan dari atas batuan besar. Tampak di bagian belakang kami daerah distrik Kurulu. Indah kan? Inilah alam negeri kita, menakjubkan.
 Teman baru bukan berarti malu-malu untuk berekspresi bersama, selfie dan menikmati hari-hari yang menyenangkan bersama.  mengenal mereka baru beberapa hari tapi rasanya seperti sudah mengenal mereka lama karena sikap welcome mereka terhadapku. Thanks—


12 Januari 2015

Siang setelah sholat Zuhur (karena kami dari Mumi Jiwika–Kami menumpang sholat disalah satu pos teman SM3T yang ditempatkan di SMP-SMA Kurulu), lalu kami menumpang kendaraan truk yang menuju ke kota. Di desa Libarek tepatnya di pasir putih, kami turun dari truk. Satu persatu kami mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati sang sopir.
Tanpa menunggu lama kami langsung menuju ke tempat wisata yang cukup terkenal ini. Tidak terlalu jauh dari jalan sekitar 200 m dari jalan raya, dan terlihat jelas jika kita dari kota ataupun menuju kota melewati jalan raya.
Saat teman bertanya, bayar atau tidak. Aku juga bingung, sebagian teman yang pernah kesini bilang bayar 1000/orang tapi ada juga yang bilang 50.000 atau 100.000/rombongan sesuai dengan tawaran yang berhasil di lakukan. Nyatanya, di sini tidak ada pos tempat pembayaran apa lagi orang yang menjaga. Da, kata teman lagi, biasanya orang di sekitar sinilah yang meminta bayaran semaunya.

Dari jalan pasir putih ini terlihat biasa saja, sekumpulan batu dengan garis pasir putih ditengah-tengahnya, memanjang seperti air yang mengalir turun. Namun, semakin dekat dan mendekat barulah kau menyadari bahwa batuan di sini sangatlah besar.
Masih di bagian bawah bebatuan, sibuk dengan suasana hati dan kegiatan masing-masing. Aku membuat tulisan diatas pasir memotretnya dan membuat sebuah vidio mini saat jari telunjukku menuliskan huruf satu persatu nama orang-orang yang terpikirkan begitu saja olehku.
Seolah tak sabar, beberapa menit kemudian kami mulai berjalan mendaki menaiki bebatuan besar. Jika menginjak bagian pasir maka kamu akan menyadari betapa tebalnya basir-pasir ini, selain begitu putih, pasir-pasir ini juga begitu halus.
Tidak lengkap jika ketempat keren gak narsis, heheh. Untuk kenang-kenangan dan sebagai rasa senang begitu banyak foto dengan berbagai ekspresi masing-masing, baik moment sendiri atau bersama-sama.
Semakin ke atas semakin sedikit pasir yang terlihat tetap masih ada dan masih ada lagi. Sebelum berada dibagian atas kalian akan berpikir ini hanya sebuah bukit tapi nyatanya berjalan menanjak di anatara batuan besar benar-benar membuatmu terengah-engah.
Semakin keatas dan semakin keatas. Aku berusaha mengingatkan teman-teman baruku ini untuk berhenti cukup di ketinggian itu, karena menurut berita yang saya dengar ‘Dilarang untuk naik hingga puncak karena ditakutkan akan ada orang dari balik gunung membawa parang atau hal lain yang berbahaya, entah dia mabuk atau tidak yang jelas ditakutkan akan memalak atau meminta harta benda’.
Mereka mengiyakan, aku tersenyum karena senang, meskipun begitu aku juga penasaran sebenarnya seperti apa pemandangan dibalik bukit ini, menurut hayalanku terlihat jalan ke kota bahkan mungkin isi kota, dan di kaki bukit terdapat kampus. Lalu jika mengangkat wajah lebih keatas dan keatas lagi akan merasasejajar dengan gunung-gunung yang membentang seperti pinggiran mangkuk (ditengah mangkuk adalah kab Jayawijaya ini).

Kalau kamu ke Jayawijaya, jangan lupa ya ke tempat wisata ini ‘Pasir Putih’. Dan mungkin saat kalian berkunjung sudah bayar, hehehe. Saat ini sudah di bangun tiga pos tempat peristirahatan loh

Sabtu, 10 Januari 2015

Goa Lokale, Jayawijaya Papua, Indonesia

Dibanding goa lainnya di Indonesia, Goa Lokale tergolong unik dan misterius, karena hingga saat ini belum ditemukan ujungnya, bahkan diyakni menjadi salah satu goa terpanjang di dunia. Letaknya di Desa Wosilimo, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Untuk sampai ke pintu masuk gua, anda hanya cukup berjalan lima menit dari parkiran mobil. Kemudian anda akan melewati hutan pinus terlebih dahulu, dengan jalan setapak yang mempermudah perjalanan. Berjalan sekitar 850 meter dengan membawa senter, anda akan menemukan aula besar di dalam gua. Bila sanggup berjalan dua kilometer ada aula kedua di Goa Lokale yang jauh lebih luas. Seperti gua pada umumnya, terdapat banyak stalagtit dan stalagmit di berbagai sisi dan langit-langit gua. Selain itu, ada beberapa dinding yang seakan-akan diukir, sehingga tampak sangat indah, jika gelap seperti banyak permata di dinding goa membuat semakin keren.
Di dalam gua sangatlah gelap sehingga anda diwajibkan membawa senter atau penerangan lainnya. Di dalam gua juga terdapat dua aula besar. Di salah satu dinding gua memiliki rongga yang apabila di ketuk akan menimbulkan bunyi gendang.

Gua Lokale ditemukan pada tahun 1962 oleh tuan Kalet Entama yang secara tidak sengaja menemukan keberadaan gua saat dia sedang membabat rumput di perkebunannya ketika secara tiba-tiba keluar burung walet dari sebuah lubang di kaki bukit. Setelah diselidiki ternyata lubang tersebut cukup besar dan mencoba masuk ke dalam lubang dengan menggunakan penerangan obor dengan mengajak 3 orang temannya mereka masuk sampai kedalaman 200 meter.
Gua Lokale dibuka tahun 1992. Tahun 1996, ahli gua dari Amerika datang ke goa ini. Masyarakat setempat percaya, Goa Lokale sebagai salah satu gua terpanjang di dunia. Alasannya, karena sampai saat ini belum pernah ada satu orangpun yang berhasil mencapai ujung gua ini. Untuk menjelajahi Goa Lokale, ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi oleh para pengunjung, seperti larangan buang sampah, buang air, dan mengambil apapun dari gua. 


Perjalanan dimulai, kami berkumpul di rumah Mama Rais sesuai kesepakatan. Dilanjutkan menaiki angkutan ke daerah pasar baru, simpangan 3 pike tujuan utama kami untuk menunggu kendaraan (gratis/tumpangan). Karena jumlah yang lumayan banyak (25 orang), maka dibagi menjadi dua mobil angkutan. Biaya angkutan 7000/orang, yang awalnya hanya 5000. Kenaikan tarif ini dampak kenaikan BBM. Sambil menunggu mobil yang kiranya supir mau berbaik hati memberi tumpangan canda-canda terlontar diantara kami semua sebari berkenalan satu sama lain karena perjalanan ini terdiri dari 3 LPTK (UNMUL dan UR penempatan tugas Jayawijaya, UNNES penempatan Yahukimo). 20 Menit kemudia barulah ada mobil yang ingin berhenti. Truk yang berarah berjalanan sejalur dengan tujuan kami. Aku berbicara kepada sopir, dan akhirnya saya bisa mempersilahkan teman-teman untuk naik. “Teman-teman, tujuan kita pertama goa ya? Coz, kita mulai wisata kita dari tempat terjauh, pulangnya baru mampir ke Mumi dan Pasir  Putih.” “Siiippp, atur aja, kita ngikut.” “Okey. Hehehe, karena mobil ini sekalian jauh gitu, makanya kubilang tadi sama supir, kita sampai Wosi.” Aku tersenyum pada mereka. Sepanjang berjalanan terdengar jeritan kaget dan jeritan senang, tawa karena serunya perjalanan beramai-ramai menaiki truk dengan jalan yang tidak selalu mulus, meski bukan tanjakan namun jalanan lumayan berkelok. Sempat mengabadikan beberapa moment saat perjalan adalah hal yang tidak ketinggalan. Okey. Sekitar km 27, simpang 3 Wosi tempat perhentian kami. Mobil berbedah arah dengan kami yang harus berbelok ke kanan. Bukan, masalah kami akan berjalan kami karena jarak tidak terlalu jauh dari tempat tujuan.