#Anda harus tau agar tak salah menilai saya.
#Ini jujur bukan rekayasa!!!
#Ini pertama kali saya bercerita,
Jalan masing2 org berbeda. Kehidupan saya memang keras. Mau sekolah aja dr SMP, SMA, Kuliah nekat daftar tanpa bilang keluarga. Pake uang sendiri. Kadang jika tak sanggung membeli buku meminta orang tua dgn terpaksa dan tak memaksa. Saya bangga jadi anak perempuan tertua, anak petani, orang tua sy yg tua setiap yg melihat mengira kakek saya. Saya bangga kuliah sambil kerja. Diwarung makan, pembuat nota laundry, di trevel, ngajar private, dan tempat-tempat lain yang rela menolong saya. Bahkan jadi salah satu tukang setrika di rumah orang. Asal semua itu halal dan meringankan beban orang tua saya.
Ngekos dari SMP demi sekolah. menahan 10 tahun kerinduan dan rasa bersalah yang menumpuk. memendam perasaan kekurangan perhatian. Menangis di tengah malam. Belum lagi ortu yg gaptek dan tak bisa membaca. Hanya bisa mendengar suaranya saat pulang yang bisa di hitung sebelah jari dalam setahun. Aku tetap bangga.
AKU BANGGA!!!
Belum lagi saat sakit tak tega memberi tahu mereka. Uang makan direlakan untuk kesembuhan. Aku memang tangguh dan kuat bekerja seperti anak laki-laki, tapi itu dulu, saat SD hanya bisa jajan jika mecari uang sendiri atau mama akan memberikannya jika ada rejeki lebih. Tapi kini aku tidak setangguh masa sekolahku. Saat kuliah, aku lemah terhadap penyakit. Yah, semua kurahasiakan dari keluarga, termaksud sahabat dekatku.
Dan saat tabunganku habis, saat aku belum mendapat sepeserpun dari hasil keringatku, aku rela memakan nasi goreng yang hanya bercampur bawang dan garam berhari-hari. Aku malu untuk meminta pada orang tua, yang kutau belum tentu mereka makan dengan lauk ikan.
Aku bangga jadi anak mereka!!!
.
Dan tahun lalu saat kami kehilangn rumah, segala sesuatu yang kami punya rata dengan tanah. Aku ingin kembali untuk selamanya. Mengakhir segalanya. Tapi karena harapan mereka aku tetap berangkat ke ujung kalimtan, yah KKN, ketempat yang tak pernah kubayangakn sebelumnya. Saat kembali aku sakit, hari lebaran kuhabiskan untuk bebaring di kasur hingga hampir seminggu dan terlambat untuk daftar konfirmasi sebagai peserta PPL 2, aku rela bekerja lebih keras menunggu semester berikutnya. Kembali Tuhan mengujiku dengan memberi lokasi yang jauh, tak ada angkutan umum, hingga aku rela nekat mengkredit motor, 5 bulan di sekolah membuatku merasa berharga, dan bangga kelak mendidik anak bangsa, ah--setengahnya kini sudah lunas, motor itu nanti kuberikan pada adikku yg kurasa lebih memerlukannya.
Saat Laporan PPL, perpisahan, dll tentang PPL usai. Aku pulang untuk menenangkan diri semunggu rencananya. Tapi aku bertahan 2 bulan, alasan sederhana sakitku yang tak parah tapi begitu terasa menyiksa sesekali, terlebih di tengah malam yang dingin. Setiap ortu bertanya aku mengeluarkan begitu banyak alasan yang entah di mengerti atau tidak oleh mereka.
Selama itu aku tak berdiam diri, aku tak ingin semuanya diketahui, aku sibuk membantu ayahku yang mulai rentah seperti anak laki-laki. Tak kubiarkan mama mengerjakan segala tugasnya sendiri. Aku akan star dulu sebelum mama melakukannya. Tak sekalipun aku malu. Tak malu sama sekali dengan tatap orang-orang yang kutau ingin berkomentar ini itu. Inilah aku yang ingin melakukan segalanya untuk yang terkasih.
.
Karena harapan mama lebih baik kelaklah, aku masih di sini saat ini di tempat penuh air mata perjuangan. Memperjuangkan segalanya yang sempat tertunda.
Bahkan saat target2 menjadi mubazir karena keadaan. Penyesalan dan rasa bersalah selalu menghantui, walau kutau tak akan mengubah apa-apa.
"Maafkan aku,"
hanya kata itu yang mampu terucap saat tangis menjadi teman.
Iyah. Maafkan aku!!! Maafkan aku.
#mungkin yg membaca menganggap lebay. Tapi saya menangis seperti anak kecil saat menulisnya
Kisah pengabdian di Papua, kegiatan relawan dan kegiatan sosial penulis, materi pelajaran, info pendidikan, kegiatan KBM, kegiatan komunitas yang bermanfaat, review film dan novel sampai foto-foto alam yang dipotret sendiri oleh penulis, tentunya blog ini juga berisi curhatan dan uneg-uneg penulis. Salam kenal. selamat membaca dan semoga bermanfaat. Jangan lupa follow ya.
Selasa, 27 Desember 2016
Rasa ini
Sabtu, 10 Desember 2016
Energi Potensial Listrik dan Potensial Listrik
Kali ini Nurmi akan membahas tetang 'Energi Potensial Listrik dan Potensial Listrik.'
=======
Kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan materi ini. Kan sudah dipelajari di SMP, dan di SMA kembali dipelajari saat semester 1 di kelas 3.
=======
Kalian sudah perhatikan gambar di atas?
Salam kenal. Thanks atas kunjungan dan komentar blognya...
Senin, 05 Desember 2016
Mari Pulang
Menghitung hari kepulanganku. Masa tugas itu harusnya sudah selesai. Ketika teman-teman sudah berpamitan dan menanti detik demi detik hingga penjemputan di kota. Aku masih menyenangkan diri untuk terus datang. Kurulu-Isaima-kota-kurulu setiap hari.
Tak mudah memang meninggalkan segalanya begitu saja. Seakan tak rela, aku masih terus menguras otak agar melakukan sesuatu. Hingga aku tak kuasa lagi menawar waktu. Memanfaatkan yang ada.
Hari ini, Sabtu. Dan, Senin nanti aku berpamitan pada seluruhnya. Anak-anakku, para mutiaraku, kebanggaanku, pelangiku.
Duduk di ruang kelas selepas pulang sekolah. Aku menangis dalam kesunyian, syukur dan sedih mengaduk-aduk perasaan ini. "Rabu nanti aku akan pulang. Apakah Tuhan akan menakdirkan kami bertemu kembali kelak. Apa aku hanya memotivasi, membuat mereka percaya takdir Tuhan tapi aku sendiri ragu." Siang terik yang melelahkan, membuat pikiran dan perasaan tak berarah dengan jelas.
Aku terbangun dari lamunan kala bayangan seseorang berlahan mendekat dan muncul seorang bapak tua di pintu kelas. "Ibu guru trada pulang? Ibu guru menangis?" "Ah, tidak. Saya hanya bersedih sedikit saja." Cepat ku usap air mataku dan berdiri tegap. Mengepak-ngepak meja dengan telapak tangan seolah membersihkan. Itu hanya peralihan yang tak berhasil. "Bapak su mau pulang?" "Tidak. Saya kira tadi ibu guru lupa kunci pintu lalu terbuka, jadi saya cek." Bapak Kaken tersenyum. Guru pribumi satu-satunya guru di sekolah ini. Guru yang berdedikasih tinggi dan penyayang. "Ah, mari kita pulang bapak." Alihku cepat agar beliau tak membahas mengenai diriku lagi. Tetap saja saat berjalan menuju kantor, ia banyak bercerita tentang kesedihannya akan kepergian kami, guru SM3T.
Bagiku. Beliau sosok orang tua yang bijaksana. Menyayangi kami. Dan menjaga serta tiada hentinya berbagi dan bertanya. Tiada lelahnya menjawab pertanyaan saya yang segudang karena haus akan keingin tauan.
Terima kasih bapak.
#Diary #Truestory #SM3T #AngkatanIV #LptkUNMUL #Jayawijaya #Papua #20142015
