“Pelangi Papua”
Siapa aku?
Ingin rasanya menjawab begini,
“Anak bangsa yang memiliki hak yang sama dan berharap menjadi orang yang
bermanfaat. Menjadi pendidik yang berguna bagi bangsa dan negara.”
Hahaha. Mungkin kamu tertawa dan menganggap
itu terlalu berlebihan. Mau dikata apapun, jawabanku akan tetap sama karena
mimpu itu nyata. Salah satu cara mewujudkan harapanku adalah ikut program SM3T.
Apa itu SM3T? Cari saja di internet akan muncul berbagai informasi tentang
SM3T. Ya, meskipun aku pertama kali tau tentang program ini bukan dari internet
tapi dari dosen yang membicarakannya, lalu rasa ingin tahuku membuatku menggali
informasi dari senior angkatan sebelumnya. Setelah resmi menjadi sarjana pendidikan
berjurusan Pendidikan Fisika sebagai lulusan Universitas Mulawarman, aku mendaftarkan
diri, alahmdulillah aku lulus hingga tahap tes terakhir dan berangkat menuju
daerah penempatan. Kami semua 30 orang guru dengan amanah SM3T (Sarjana
Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, Tertingga) mendarat di kabupaten
Jayawijaya yang lebih terkenal dengan kota Wamena pada tanggal 28 Agustus 2014.
Senang rasanya para senior
menyambut kami. Apa yang menjadi pusat perhatianku pertama kali? Wah, ada yang
gak pake baju. Wah, ini bandaranya? Kok gini banget ya? Ini bandara? Usut punya
usut memang habis terbakar jadi sangat sederhana kini sambil menunggu pembangunan
kembali. Dan, yang gak pake baju itu, orang-orang asli yang masih menggunakan
Koteka. Yang dalam keseharian selama setahun pengabdianku, menjadi pemandangan
yang biasa.
***
Sore ini setelah makan dan
menyimpan barang-barang di kamar penginapan. Kami semua bersama dosen pengantar
dan senior yang akan kembali dua hari lagi duduk di halaman penginapan
membentuk sebuah lingkaran. Senior kami bercerita banyak, ada rasa khawatir di
raut wajah teman-teman tapi tak sedikit tips yang diberikan senior kami mampu
membuat kami siap untuk menjalani hari, lagipula tekat kami sudah bulat, kami
juga sudah belajar banyak selama 12 prakondisi sebelum keberangakatan. Apapun
yang akan terjadi nanti, inilah takdir Tuhan, tidak ada cobaan dan masalah yang
Tuhan berikan melampaui batas kemampuan hambanya. Bismillahi Rohmanirohim.
1 September 2014, upacara
penyerahan peserta SM3T kepada dinas pemerintahan daerah. Kami mendapatkan teman 36 dari LPTK Riau. Setelah
upacara itu, kami langsung berpencar sesuai dengan pembagian sekolah kemarin.
Kepala sekolah yang memilih kami.
Siang ini, bus dinas
perhubungan berhenti di depan pagar sekolah, SD Inpres Isaima. Anak-anak itu berlarian
menghampiri. Mereka tersenyum menyambutku dan temanku turun dari bus. Mereka
bahkan berebut untuk mengangkat barang-barang kami.
Setelah menyimpan barang-barang
itu di rumah satu-satunya milik sekolah, aku dan kawanku menuju sekolah. Kami
membariskan siswa/i itu di depan kantor. Menyapa mereka, mengajarkan yel-yel
yang menyemangatkan, mengucapkan beberapa kalimat perkenalan dan ucapan terima
kasih karena telah disambut. Bahagianya mengetahui mereka sengaja menunda
kepulangan sekolah hanya untuk menyambut kami.
***
Diawal keberadaanku di sini,
terasa sedih dengan keadaan sekolah yang tidak terurus. Jujur, aku mendapati
kantor yang tidak tertata baik, bahkan buku-buku di lemari belum pernah disusun
baik sejak bertahun-tahun buku bantuan itu diserahkan. Siswa/i yang sedikit
masuk sekolah, datang sangat terlambat dan ingin pulang cepat. Angka sebelas
yang selalu mewarnai pemandangan wajah mereka, sesekali bersuara saat ditarik
kembali. Aduh, belum lagi mereka yang memakai seragam kotor karena jarang
dicuci malah dipakai bermain sepulang sekolah. Bersyukur masih memakai seragam,
ternyata banyak juga yang tidak memiliki seram, oh Tuhan. Jangan kira mereka
memakai sepatu, bahkan kaki dan tangan mereka berwarna lain karena lumpur telah
mengering dan menyatu dengan kulit mereka. Kelas? Kelas mereka jarang disapu,
sapu juga bisa dihitung jari dan tentu keadaanya tak sebaik yang diharapkan.
Bagaimana aku bisa mengajar
dengan baik, jika ruangan kelas V dan VI terdiri dari satu ruangan yang
disekat. Suaraku keras. Suara kawanku, Wira juga keras. Kami sering bernyanyi
dan melakukan permainan sederhana saat belajar. Oh tidak! Kenapa banyak yang
tidak membawa alat tulis, aku harus meminjamkan pulpenku atau aku harus meminta
selembar kertas pada siswa yang lain demi memberikan kepada temannya. Hei,
bagaimana ini? Siswa kelas V tidak hapal abjad? Tidak hapal perkalian 1. Belum
lagi hal lain yang membuatku bertekat melakukan perubahan secepat mungkin. Jadi
guru di sini memang harus S3 (Sangat Sabar Sekali).
***
Sejak hari pertamaku mengajar.
Mereka harus terbiasa berbaris rapi sebelum masuk kelas. Cara mengucap salam
harus diperbaiki. Di setiap kelas harus ada pemilihan ketua kelas secara
demokrasi. Berbagai cara kulakukan agar mereka tidak menjadi pemalu, lebih
semangat ke sekolah, mereka semangat belajar dan tentu agar mereka lebih
disiplin serta tau sopan satun yang baik.
Aku juga mengajak mereka
olahraga rutin setiap hari kamis, sering mengajak mereka melakukan permain
sederhana yang mendidik. Aku juga selalu menyisipkan nasehat-nasehat sederhana
setiap kegiatan. Pernah siswa/i ku menangis hanya karena nasehat-nasehatku
tentang keseharian mereka. Ternyata mereka anak-anak yang peka dan mudah
terharu.
Aku mengajarkan mereka cara menjaga
kebersihan dengan baik. Mengajarkan cara mencuci tangan dan menggosok gigi.
Mengharuskan mereka membersihkan ingus sebelum mulai belajar. Memeriksa kuku
setiap 2 kali seminggu, memeriksa kerapian pakaian dan tentu mengingatkan
mereka untuk mandi.
Upacara sangat penting untuk
membuat kita mengenang jasa para pahlawan kita, menyadarkan kita bahwa kita
sudah merdeka dan kini memiliki hak untuk lebih baik serta meraih cita-cita
kita. Upacara juga menumbuhkan rasa nasionalisme,
selain itu hal ini menyadarkan anak-anak Papua bahwa mereka bagian dari NKRI,
generasi harapan bangsa ini untuk lebih baik. Maka ku ajarkan upacara pada
mereka, hal ini tidak mudah. Bahkan lagu kebangsaan saja mereka tidak hapal,
berlahan tapi pasti minggu ketigaku di sekolah ini, kami melaksanakn upacara
bendera pertama kalinya sejak sekolah ini berdiri 14 tahun yang lalu.
Kuberikan bimbingan belajar, ku
ajak mereka membuat perpustakaan kecil di kelas-kelas, ku jelaskan puluhan kali
hal yang sama agar mereka mengerti. Ini demi memperbaiki CaLisTung (Baca,
tulis, hitung) mereka
Kuajak mereka mencintai
lingkungan dengan menjaga kebersihan sekolah, kelas, membuat taman sekolah,
bertanggung jawab atas taman—taman di depan kelas mereka
Betapa sedihnya, jika kalian
mendapati seorang guru memukul siswa tanpa tau alasan kesalahanya. Rasanya aku
ingin menangis membelanya, tapi apalah daya tak bisa. Ini membuatku selalu
mengajarkan saling mengasihi agar mereka tidak melakukan hal yang sama kelak
pada temannya, pada saudaranya, apa lagi pada orang lain. Jujur, saya sulit
memahami kondisi para guru-guru di pulau ini, terkhusus di kabupaten ini,
terkhusus lagi di sekolahku ditempatkan. Bagaimana mereka? Aku tak bisa menceritakan
banyak pada publik, tapi jika ingin tanyalah pribadi padaku.
Aku, temanku, pak guru dan
kepala sekolah setuju kami memindahkan kelas V dan VI di kelas baru berganti
tempat dengan kelas I dan II. Itulah awal segalanya dimulai.
Banyak hal terlalui. Tak
selamanya yang kita lakukan disukai oleh orang, terlebih jika ia merasa iri.
Guru honor di sekolah ini, sepertinya tak suka pada kami. Ia memanfaatkan
keberadaan kami untuk menuntut berbagai macam hal pada sekolah. Permintaan yang
tak masuk akal untuk terpenuhi. Selama tinggal bersamanya aku dan kawanku
selalu bersikap sebaik mungkin padanya, anak dan istrinya. Namun, semua itu
sia-sia. Sering siswaku tiba-tiba bercerita padaku tentang apa yang dibicarakan
pak guru itu kepada masyarakat. Dan, di sayangkan kata-kata kasar bahkan kata
usir terlontar dari mulutnya, terlebih kawanku hampir ditampar. Berbagai hal
membuatnya memilih keluar dari sekolah dan rumah dinas sekolah.
***
Lain kisah dengan siswa/i ku yang
suka duka itu, kisahku berusaha memahami masyarakat dan mempelajari budaya dan
adat-istiadat mereka merupakan pengalaman yang juga tak terlupakan. Seru,
kadang bagiku itu melelahkan namun menyenangkan dan menghadirkan warna baru
dalam hari-hari pengabdianku.
Mendapat undangan adat ‘Bakar
Batu’ di hari ketiga berada di desa pengabdian. Lalu seterusnya selalu
mengikuti kegiatan-kegiatan adat yang diselenggarakan. Sapaan selamat pagi, selamat siang, selamat
sore yang tak pernah absen ku dengarkan setiap hari, berkali-kali, diucapkan
setiap orang yang bertemu, dari anak-anak hingga sesepuh dan kepala suku. Bukan
cuma menyapa, mereka juga menjabat tanganku. Tak jarang jika ada orang tua
siswa yang gemas padaku langsung mendekap, mama-mama itu biasanya berkata.
“Aduh sayang, ibu guru ajar kitorang anak baik sekali. Datang jauh bikin kita
pu anak pintar dan rajin sekolah jadi.”
Bagaimana tidak bahagia jika
mereka senang akan kehadiran kita. Mereka tak pernah mempermasalahkan hanya aku
dan kawanku yang menjadi pendatang di desa ini, seolah aku menjadi artis,
hingga beberapa desa tau akan kehadirnaku, di manapun aku pergi mereka pasti
tau diriku ‘ibu guru’. Bahkan hanya diriku seorang yang muslim, dan itu kentara
dengan jilbab yang selalu menutup kepalaku. Bagi mereka, akulah sosok harapan
anak-anak mereka.
Mereka tau apa yang boleh dan
tidak boleh aku makan. Perna, sengaja mereka bercanda padaku untuk menyantap
babi dengan alasan yang tegas, saat aku dengan berbagai alasan berusaha menolak
dengan halus. Mereka malah tertawa dan berkata “Ibu guru muslim. Kami tau tidak
makan Wam. Kami, tadi masak Hipere juga tidak dicampur dengan Wam. Ibu guru
bisa makan Hipere dan sayur toh? Kami juga masak ayam yang Bakar Batunya tidak
dengan Wam.”
Aku tersenyum senang tiada
hentinya mengucap syukur. “Wa wa wa Mama, Bapak. Saya suka makan Hipere.” Semua
membalas dengan kata yang sama lalu kami tertawa bersama-sama.
Aku sering ikut ke kebun mereka
melihat bahkan terkadang mencoba melakukan apa yang mereka lakukan dan tak
jarang itu menjadi hal lucu bagi mereka hingga menggundang tawa. Belum lagi
jika aku ikut serta menonton mereka menangkap ikan di kolam dengan tangan atau
jaring yang berupa tas noken buatan para Mama.
Hei, aku juga sering berkunjung ke rumah siswa, berjalan
hingga berkilo-kilo dan mengenal keluarga mereka. Ternyata melakukan hal ini
banyak maknanya, aku jadi tau banyak dan aku lebih memahami keadaan siswa.
Aku belajar menganyam membuat
tas Noken, aku juga belajar menari, di mana saja aku dengan segudang
pertanyaanku akan menjadi sosok yang di sambut hangat. Bahkan tidak bertanya
saja mereka sering memberitahukanku. Begini ibu guru, harusnya begitu ibu guru.
Ini fungsinya ini ibu guru. Itu namanya ini ibu guru.
Mereka orang yang ramah. Yah,
meskipun mereka juga terkenal keras karena adat dan budaya mereka. Tenang saja,
percayalah jika kita baik maka orangpun akan baik kepada kita. Toleransi mereka
besar, bahasa mereka memang susah. Dimana kaki dipijak di situ langit dijunjung,
begitu pribahasanya kan. Belajar saja, nanti juga bisa menyesuaikan diri. Aku?
Jika mengerti kubalas, jika tidak mengerti ya bertanya pada yang kiranya mengerti,
jika tidak paham juga ya senyum saja.
***
Oia, keinginanku untuk
menikmati indahnya Papua tercapai. Mataku dimanjakan dengan awan putih tebal
dan langit biru cerah. Gunung-gunung menjulang tinggi. Mengunjungi goa
terpanjang, danau tertinggi, mumi, pasir putih di atas gunung batu, air garam
di atas bukit, dan wisata-wisata lain. Pelangi yang hampir di setiap hari kulihat.
Lebih special Festival Budaya Lembah Baliem, di mana saya bangga melihat
murid-murid saya menari menghibur pengunjung lokal, nasional dan internasional.
Indonesia memang memiliki
beragam budaya dengan berbagai adat istiadat yang berbeda di setiap daerah. Mau
bagaimana orang menilainya, ya inilah budaya Papua. Papua yang juga bagian
negeri tercinta ini. Memakai Koteka, Sali, memasak makanan dengan Bakar Baru,
Menari, Perang-perangan dengan panah dan berbagai budaya mereka.
***
Bagi sebagian orang, setahun itu
bukan waktu yang lama. Setahun pengabdian mungkin saja tak terlukis nyata
perjalannya. Tapi bagi kami, setahun itulah yang menghadirkan banyak pelajaran
hidup. Setahun itulah yang mengubah hidupku. Setahun itulah yang mengenalkanku
pada banyak makna, banyak warna.
Setahun itulah perjuanganku
dimulai. Perjuangan memberi manfaat. Setahun itulah awalku membangun ketulusan
dalam diri. Setahun itulah pelangiku terlukis paling indah. Dan, setahun itulah
yang tak akan terlupakan.
“SM-3T punya cerita tentang
cita-cita dan cinta”
Setahun itulah yang membuatku
mencintai negeriku. Membuatku malu jika kelak akan menyerah dan mengeluh.
“Wa wa wa. Terima kasih Tuhan.
Terima kasih semuanya. I Love Papua. Always Love Indonesia.”
====
Wam, sebutan untuk babi
Hipere, sebutan untuk ubi jalar
Wa wa wa, Ucapan terimah kasih
Penulis,
Nurmiati, S. Pd
|