Minggu, 24 Mei 2015

Pasir Putih Lagi

Minggu, 24 Juni 2015 
Ini bukan pertama kalinya, aku mengunjungi tempat ini. Bahkan setiap kali aku menuju tempat tugas dari kota, atau sebaliknya, aku akan melihat tempat ini dari beberapa ratus meter. Pasir putih, begitu orang-orang menyebutnya. Tak heran mereka menyebutnya begitu, karena tempat ini dari jauh terlihat sangat  mencolok dengan pasir putih yang memanjang dari atas hingga di sekitar batuan besar.

Sekilas jika dilihat dari kejauhan, orang-orang akan menyangka bahwa hanya sedikit pasir putih yang berada di situ. Nyatanya, jika kamu mendekat dan berada di tempat ini, kamu pasti menagngguk iya jika ak







Wisata Hotel Jerman di Kabupaten Jayawijaya Papua

Minggu, 24 Mei 2015

Hotel Jerman (Jayawijaya)

Minggu, 24 Mei 2015

Jumat, 01 Mei 2015

Muara Pantuan



Aku menguap kecil di kamar kost (Mantan kamar), tanganku dengan cepat merapa sekeliling mencari ponsel yang bergetar.

"Iya. Walaikumsalam. Kenapa kakak." Aku menjawab dan ternyata sambungan itu terputus. Aku mendengus kesal, sedetik kemudian membaca pesan.

"Mimi sudah bangun, mau ikut ke kampungku kah?" Aku tak membalas namun memberitahukan Qory.

*Pukul 06.25*

"Q. Kampung kak Unna di mana sih?"
"Muara Pantuan kayanya. Hari ini dianya mau pulang."
"Iya tadi dismsin, ditanya mau ikut atau enggak."
"Oh, iya dia ngajakin teman-teman, katanya sayang kalau nyewa kapal besar orangnya sedikit."
"Yang jalan siapa aja?"

---Karena memang sudah lama ingin ke daerah itu tapi belum pernah, selain itu kesempatan jalan-jalan gratis dengan teman akrab belum tentu akan ada lagi. Kutunda perjalanan pulang kampungku hari ini, dengan 15 menit aku sudah siap dengan baju orange, jilbab dan celana hitam.

*Pukul 06.45*

"Aduh ijah belum datang. Qoqoi, dijemput Dedep kak?"

"Gak tau ini. Kayanya gak deh. Sudah sms ijah?"

"Sudah."

---Perkiraan akan sampai sore perjalanan ini, sedangkan ijah ingin memakai motorku untuk mengantar surat lamaran pekerjaan, ory tidak di jemput, dan aku yakin jika aku tidak pergi Qory tidak akan pergi, tidak mungkin juga aku pergi meninggalkan Qory. Ponselku berdering.

"Qoqoi. Angkat."

"Iya Unna." Mendengar nama itu aku langsung berbisik bilang kita sudah dijalan, padahl waktu itu aku sedang berpikir bagaimana baiknya.

"Kita sudah di tunggu." Kata Qory. di Menjid Raya, Pelabuhan di depannya itu jauh loh dari kos kami yang terletak di jalan Pramuka.

Selama ini aku mendapatkan julukkan paling taat peraturan di antara teman-teman, pagi ini aku melanggar aturan lalu lintas. Gonceng 3, hahaha yang bikin lucu itu tiga-tiganya pake helm beda warna, aku di tengah pake baju orange, Qoqoi di pake baju ungu, dan Iajh yang gonceng pake baju hitam.

"Jadi lewat mana?" Tanya ijah serius.

"Lewat jalan tikus aja." Jawabku dan Qoqoi hanya mengangguk.

---Motor hijau milikku melaju melewati kampus dan berbelok menuju jalan Belatuk. Upss, ada jalan santai,  maklum ini masih pagi. Yaelah kita di teriakin cabe-cabean. Ih, malu deh tapi masa bodoh deh karena kami lagi ditungguin.
--Bersambung dulu ya ceritanya, kapal Ferrynya sudah mau berlabuh ni. Heheh,"