Kamis, 27 Oktober 2016

The name of life

Sore ini, hujan berlahan menghadirkan rasa itu. Sebuah kenangan kebahagian dan sedih menyatu. Rasa kini dan samar-samar masa nanti.

Ada rasa kecewa pada diri yang menyesakkan dada. Lantunan instrumen piano 'The name of life' dan 'Always with me' membuatku terenyuh. Aku menghela napas, menatap langit-langit kamar.

Entah mengapa aku ingin berteriak. Bahkan air mataku kini sudah menetes. Aku marah, marah pada diriku.

Aku sering bertanya-tanya, salahku dimana? Aku tak bisa berlari kencang. Aku bahkan tak bisa berjalan stabil. Sering kali terjatuh.

Jujur saja aku benci dengan hari-hariku kini. Sulit membuatku senang dengan apa yang ku lakukan. Meski ini pilihan dan aku terus berusaha menjadikannya terbaik. Tapi, ini semua membuatku ingin meledak, perasaan salah dan muak menumpuk seperti bom waktu.

Aku ingin pulang. Aku ingin memeluk Mama Bapak. Untuk pertama kalinya, kali ini aku sungguh-sungguh akan memeluknya dan mengatakan semua yang kurasakan. Maafkan aku yang selama ini hanya ingin namun tak bisa berkata apa-apa dan malah memilih menangis diam-diam.

Aku ingin mendatangi rumah sahabatku dan berkata, 'Jangan menghilang dariku.' Jika dia tak mau mendengarkan ku, aku akan berteriak biar semua orang tau, bahwa selama ini aku merindukannya.

Aku ingin dunia, mereka yang menganggap ku begitu dalam jalur istimewa tau bahwa aku sesungguhnya tak tahu apa-apa. Aku tidak mengerti apa-apa, aku tak bisa apa-apa. Maka aku membutuhkan mereka. Karena aku belum mencapai apa-apa padahal aku sudah berusaha sekeras yang kubisa.

Apa aku baik-baik saja?

Iya. Aku menjawabnya. Nyatanya?
Aku jauh dari kondisi itu. Terlena dengan kemarahan diri, terbawa arus dan sulit untuk mempertahankan diri, segudang impian ini.

Diriku semakin hari semakin melemah. Aku bahkan pernah mengutuk hari-hari melelahkan dulu yang membuat bahagia. Hingga kini aku terus merasa belum dan belum melakukan apa-apa, karena dulu rasa sulit itu begitu menyenangkan. Aku menyukainya. DULU. Kini? Aku benci, saat ini.

Mengapa aku belum melakukan apa-apa. Mengapa belum ada yang berubah. Sedangkan waktu hanya sedikit tersisa.