Jumat, 25 November 2016

Review Film Sekai Kara Neko Ga Kieta Nara

Hai, pengunjung blog Nurmi. Kali ini Nurmi mau nulis review film yang semalam baru ditonton. Film ini belum terlalu lama keluar, masih tahun ini, 2016. Tepatnya tanggal 14 bulan Mei. 

Pertama tertarik nonton film ini karena aktor dalam film ini Takeru Satoh. Heheh, Nurmi salah satu fansnya. Yang suka nonton film-film Jepang pasti nggak asing lagi sama sosok ini. Cowok yang lahir 1989 ini lebih terkenal dengan Himura Kenshin. Oia, filmnya cukup banyak loh guys jika kalian pengen nonton. Kali ini Nurmi nulis review film yang Nurmi suka banget disetiap bagian dalam film. Ah, gomen ne, Nurmi kebanyakan bacot. Mari kita kupas tentang film sedih ini.




Judul Film ini "Sekai Kara Neko Ga Kieta Nara".  Bahkan lagu ending film ini sangat mendukung cerita sedih film ini. Lagu penutup "Hizumi". Membuatku semakin yakin ini film Jepang tersedih di 2016.
Sebenarnya film ini simple, terkesan sederhana tapi makna ceritanya dalam dan berhasil bikin saya nangis. 
"Jika kucing menghilang dari dunia, bagaimana dunia akan berubah?
Jika aku menghilang dari dunia ini, siapa yang akan sedih untukku? Kau mungkin tidak percaya, tapi semuanya ini benar-benar terjadi padaku. Dan tak lama lagi, Aku akan mati. Surat ini adalah surat terakhir yang saya tulis untukmu. Dan ini keinginanku."

Ya ampun. Kalimat pembukanya aja udah sedih gini.

Moment bersama kucingnya :)

Eh, Disini kisahnya si tokoh utama ini lagi kena tumor otak, sesuai novelnya pemuda yang bekerja sebagai tukang pos. Kemungkinan hidupnya hanya sebentar, kira-kira cuma seminggu.

Mengetahui hal menyakitkan tersebut, ia jadi terbayang bagaimana sedihnya orang-orang di sekitarnya seperti ayah, teman, serta orang yang ia cintai merasa kehilangan saat ia meninggal.  Saat ia itulah muncul sesosok “iblis” yang wujudnya sangat mirip dengan dirinya, menawarkan sebuah pilihan menggiurkan. Iblis tersebut berkata dapat memperpanjang hidupnya dengan syarat menukarkan sesuatu yang ada di dunia sebagai gantinya. Sesuatu tersebut akan menghilang dan tidak akan diingat orang yang berhubngan dengan hal tersebut.

Oia, surat yang dimaksud di sini tulisan mamanya sebelum meninggal. Dan,surat yang dia tulis diakhir cerita untuk ayahnya.

===
Intinya sih, film ini menceritakan.
Seandainya kita akan mati. Hal apa yang paling ingin kita lakukan? Apa kah kita mengorbankan hal berharga hanya untuk bisa hidup lebih lama? Meski sehari saja? Relakah kita hidup tapi mengorbankan hal tersebut? Termaksud kehilangan yang paling disukai, sahabat, kekasih, keluarga dan segalanya selama ini, termaksud kenangan.
Itu menurut Nurmi. Bagaimana menurut kalian yang sudah nonton film ini?
===
Film ini diadopsi dari novel Kawamura Genki yang berjudul sama, atau bisa juga dikenal dengan judul Seka Neko.

Film ini disutradarai oleh Akai Nagai. Di film ini, pemeran tokoh wanita sebagai mantan pacar yaitu Miyazaki Aoi.  Yang dalam cerita, menjadi sosok yang ingin dihubungi sebelum ponsel dikorbankandari dunia. Em, gadis inilah juga yang mengirimkan surat dari ibunya, karena saat ibunya memberikan langsung dulu ia tak mau menerima dan malah membentak ibunya.

Permintaan iblis yang pertama adalah menghilangkan ponsel dari dunia. Jadi Sato diberikan kesempatan untuk menelpon seseorang terakhir kalinya. Dia bingung, apakah ia akan menelpon bapaknya. Namun, tidak jadi, ia mengenang masa kecilnya. Ketika pertama kali menemukan kucing disaat hujan, dan mengendap-ngendap masuk kerumah karena bapaknya sedang bekerja di bagian depan (memperbaiki arloji). 


Namun sang ayah, mendengar percakapannya dengan ibunya. Saat itu Sato sedang membujuk agar sang kucing boleh menginap semalam saja. Sang ayah menghampiri. Nurmi kira akan marah atau melarang, tapi ternyata hanya memberikan arloji yang sudah diperbaiki ke ibu Sato dan tanpa kata kembali bekerja. 

Ibu Sato bukan tak ingin memelihara kucing, hanya saja ia alergi kucing. Namun, sang ibu tetap membiarkanya memeliharanya, agar dia juga mencoba terbiasa dengan kucing. Eh, malah kucingnya akrab dengan sang ibu. Ah, manis banget.

Setelah terbangun, ia mengelus kucingnya (kucing ayahnya yang diberikan kepada ibunya), ia melihat album foto, beberapa foto termaksud fotonya bersama ibu dipantai yang blur, karena ayahnya yang memotret sedang menangis.

Kemudian, ia menemui sang mantan kekasih. Cie cie cie.... 
Mereka mengobrol di cafe, dan mengenang beberapa hal. Sang gadis sempat bertanya apa yang disembunyikan Sato karena terlihat murung dan melamun, ia menjawab bahwa giginya tadi pagi copot.
Dibeberapa adegan ada kesan manis, seperti tanpa sengaja perkenalannya dengan sang gadis yang salah sambung telpon dan akhirnya mereka mengobrol tentang film yang ditonton Sato karena sato tanpa sengaja membesarkan volume TV padahal berniat mengecilkan. 
Kemudian mereka bertemu di kampus dan pergi menonton bersama. Sato dikenyataanya adalah sosok pendiam meskipun ditelpon iya banyak bicara.


Selama bertemu dengan mantannya. Sempat mengingatkan untuk Sato menemui ayahnya, karena sejak kematian ibunya ia tidak pernah menemuinya.  Saat itu Sato mengingat lagi, detik-detik terakhir ibunya meninggal. Saat itulah ia marah pada bapaknya karena tidak cepat datang malah memperbaiki arloji dan memberikan pada ibunya saat sudah tiada.
Guys, saat ending, Nurmi baru tau bahwa arloji saat sato menemukan kucing, saat ibunya meninggal juga merupakan arloji yang diberikan bapaknya saat Sato lahir. Ah, kasih ayah memang susah diungkapkan ya guys.

Mekipun begitu, Sato sempat tertawa bersama dengan mantan pacarnya karena mengenang betapa menyenangkanya kehidupan mereka dulu. Dan, guys. Sato keceplosan loh, nanya kenapa mereka dulu putus.
"Kita putus bukan karena saling benci. Tapi itu, terjadi kadang-kadang."

Jawabannya tersirat banget ya guys. Tapi menurut Nurmi, karena saat itu mereka mulai berbeda pendapat. sejak kejadian kematian teman mereka.

Saat Sato mengantarkan mantannya kembali ke tempat kerja yang merupakan tempat tinggalnya juga. Sang mantan menyuruhnya memperbaiki giginya. Sato malah mengucapkan,
"Terima kasih untuk hari ini."
"tentang perumpamaan sebelumnya. Aku rasa, aku tidak ingin ponsel menghilang dari dunia karena jika tidak ada ponsel kita tidak akan bertemu satu sama lain."
 "Benar juga, tapi sebanarnya..... aku akan segera mati..."
Setelah tau, malamnya sang mantan mengirim surat ibunya, satu pulang dengan kereta. Namun, sang iblis muncul dan menghilangkan ponsel. Sato berlari menemui sang mantang, ternyata benar bahwa ia tidak mengenali Sato.

===
Sedihnya nggak cuma di situ guys.
Kali ini si iblis meminta imbalan menghilangkan film dari dunia agar umurnya bertambah 1 hari.
Sato bertemu  dengan sahabatnya karena satu kelas, dan memulai obrolan dengan bertanya tentang film Tsutaya (kebiasaan Sato memanggilnya, karena menganggapnya seperti Tsutaya) padahal namannya Tatsuya. Keesokannya setelah perkenalan mereka, Tatsuya setiap hari membawakannya film-film, kebetulan ia punya tempat rental film.


Eh, bikin haru saat dia nanya ke sahabatnya. Jika dia akan mati film apa yang akan direkomendasikan jadi tontonan terakhir. Tanggapannya itu bikin gimana gitu. Sedih nontonya, kata-katanya keren. Ada adegan Tatsuya yang mengobrak abrik tempat rentalnya karena tidak bisa menemukan film terakhir yang ingin dia berikan. Ah, ternyata memang sedih ya kalau kita kehilangan, baru tau aja rasanya menyakitkan apalagi saat benar-benar terjadi.

Ya, akhirnya film menghilang, dan Tatsuya tidak mengenalinya lagi, tempat rentalnya berubah toko buku.

====
Di film ini juga adegan kematian teman (teman yang menjadi traveller) yang ketabrak dan mati saat mereka sedang berlibur diluar neger diluar negeri.  Setelah itu ada adegan ceweknya teriak di dekat air terjun "Bahwa ia akan menjalani hidup." Mungkin maksudnya apapun yang terjadi dia akan hidup, berusaha untuk hidup, mungkin hidup lebih baik. Hehehe

Selama mereka berlibur, Toumo mengajak mereka jalan-jalan termaksud melihat jempatan yang digunakan untuk pembuatan film. Dan malam sebelum mereka berpisah, si cewek nanya alasan untuk Toumo menjadi traveller dunia.

"Jika menjadi traveller, kamu akan tau bahwa dunia ini penuh dengan kekejaman. Tapi disamping itu, kamu juga akan menyadari bahwa ada begitu banyak hal yang indah."



Sato malah nannyanya tentang tidak adakah rencana pulang ke Jepang. Bagi Toumo 18 tahun sudah cukup baginnya hidup di Jepang. Namun Sato berandai jika akan mati dan memutuskan tempat terakhir untuk menghabiskan waktu. Toumo tidak pernah berpikir begitu. Eh besoknya stelah berpamitan, dia mati ketabrak.
Maut memang enggak tau kapan dan dimana ya Guys. . .
SELANJUTNYA ARLOJI YANG MENJADI PERMINTAAN IBLIS UNTUK DIHILANGKAN, LALU KUCINGNYA.



Ah, makin sedih Guys. . .
Nonton deh biar tau cerita lengkapnya. Bagaimana selanjutnya? Kalian harus nanton. Masih ada 40 menit dari kisah difilm ini yang tidak saya jabarkan. Rasanya tulisan ini sudah terlalu panjang. Heheh


HIKMAH yang dapat diambil dari film ini
  1. Sekaku apapun ayah. Pasti sayang sama kita.
  2. Jika ingin mendapatkan sesuatu kita harus kehilang sesuatu pula
  3. Hanya karena takut kehilangan atau menghilang, jangan biarkan diri kita takut menghadapi kenyataan.
  4. Selama ada cerita yang bagus, selalu ada seseorang untuk diajak berbicara. sahabat, keluarga. 
  5. Hidup itu berharga tapi apalah artinya jika kita kehilangan segalanya. 
  6. Kematian tidak ada yang tau Guys. Bagaimana dan di mana.
  7.  Seberapa kuat kita tidak menginginkan sesuatu pasti akan terjadi juga jika itu sudah takdir.

===
Surat ibunya so sweet banget dan kata-katanya keren. Penuh nasehat dan makna. 
Eh, pertanyaan pembukanya diulang lagi endingnya, dijawab sama dia dengan optimis.
Jadi meski ini film sedih, endingnya happy. Menurut saya.

"Terima kasih. Terima kasih karena telah terlahirkan ke dunia." Kalimat ayahnya penutup film.

#Retasu (kucing waktu ia kecil, ibunya yang memberi nama)
#kyebetsu (kucing yang ayahnya memberikan dan memberikan namanya)


DAN TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG

 

MEMBACA POSTINGAN DI BLOG INI, JANGAN LUPA TANGGAPAN DAN KOMENTARNYA YA. 

ARIGATOU ....

:) :D
 

Kamis, 17 November 2016

Indonesia Timur (Welcome to Wamena, Papua)

Matanya tak rela terpejam, tak hentinya mengucap syukur atas indahnya karunia Tuhan. Seolah tak ingin berkedip sekali saja, pandangannya tertuju pada matahari yang malu-malu muncul di antara awan tebal, menyapa menghangatkan suasana bumi dan hati. Nurmi tersenyum setelah melirik jarum jam tangan birunya.

"Ini jika di Kalimantan belum ada matahari." Gumamnya mengingat suasana pagi di rumah maupun dirantau saat ia menjalani hari-hari kuliah. Pukul 5 lewat beberapa menit.

Semakin cerah, awan semakin menakjubkan. Sangat tebal, luas, putih, dan tertata rapi.

"Negeri di atas awan." Terlintas begitu saja dalam pikirannya. Mungkin ia sedikit menghayalkan beberapa hal dalam  film-film yang pernah iya tonton berkaitan dengan awan. Ia, tertawa geli sendiri karena khayalan konyolnya.

Setengah jam berlalu sejak matahari mengucap 'selamat datang'. Pemukiman terlihat di pinggiran danau luas. Pesawat yang sudah 5 jam terbang dari Jakarta siap untuk istirahat sejenak. Jayapura, ibu kota provinsi Papua.

Nurmi memejamkan mata sejenak, berdoa, bersyukur, berharap, sebelum beranjak dari tempat duduknya. Bersama rombongan memasuki bandara. Menanti antrian barang, menunggu lagi, karena penerbangan belum usai. Sempat bertemu dan mengobrol serta mengambil beberapa foto dengan teman seperjuangan yang baru dikenal. Semboyan, maju bersama mencerdaskan bangsa menjadikan mereka semua keluarga, kemanapun mereka pergi dan dalam keadaan bagaimanpun, mereka semua adalah keluarga.

Berbeda daerah tujuan membuat mereka tak banyak mengobrol. Rombongan SM3T III UNMUL diterbangkan menuju kota kecil dipengunungan tengah. Wamena, begitu orang menyebutnya.

Nurmi dan sebagian besar penumpang tidak begitu menikmati perjalanan, karena suasana dan keadaan sangat berbeda. Bahkan ia terus berdoa agar mereka baik-baik saja. Pesawat mereka sangat tidak nyaman dan membuat khawatir. Terlebih saat-saat mendarat.

"Ah... Akhirnya..."

"Akhirnya sampai juga..Heheh"

"Alhamdulillah."

"Welcome hari-hari berbeda."

Tak sedikit yang begitu senang saat akhirnya pesawat benar-benar berhenti.

"Ini Bandaranya cuma gini aja?"

"Yakin ini bandara?"

"Setidaknya kita ada bandar dan kita sudah sampai."

Terdengar beberapa komentar dari rombongan itu. Tentu saja jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, iya.

Nurmi hanya mengekor karena sembilan jam penerbangan membuatnya lelah. Terlebih mereka sudah dinanti oleh para senior yang menjemput, sesungguhnya bahagia karena apa penggati dan mereka bisa kembali kepelukan keluarga.

Memperhatikan sekeliling menjadi fokus pertama Nurmi dan kawan-kawan. Banyak pertanyaan dan pernyataan dibenak mereka tak terucap. Bagi Nurmi setahun di sini nanti akan terjawab segalanya bahkan lebih dari yang ingin ia ketahui.

"Nanti jika ada yang menawarkan berfoto, jangan ya." Nasehat senior dengan suara pelan.

"Apalagi sama mereka." Tambahnya melirik sosok kurus tak berbaju dan sejak tadi memperhatikan kami dan berjalan ke sana kemari.

Bagi Nurmi suasana dan kesan di siang itu butuh waktu lama untuk mendeskripsikannya. Emm, baiknya membuat secangkir teh atau susu coklat lalu setoples cemila agar bercerita tak membosankan.

---bersambung dulu ya.... Heheh,

27/08/2014

Rabu, 16 November 2016

Ingin Hilang Ingatan

"Letih di sini. Kuingin hilang ingatan." Kalimat itu kunyanyikan berkali-kali. Lirik dari lagu yang diiringi akustik.

Hujan ini tak sanggup lagi menenangkan ku, kesendirian yang mendamaikan begitu kudambakan tapi kini aku tak bisa menikmatinya dengan tenang.
Berlama-lama duduk mengerjakan yang Kusuka, memanjakan diri tak bisa menyenangkan lagi. Sepertinya aku mulai terlena dan iri pada keramaian. Dan, kehilangan pilihan. Aku jenuh dan tak tau harus bagaimana.

Seheboh dan sahebat apapun ku lukis dunia kesendirian akan tak semudah dulu, karena ternyata aku tak bisa kehilangan.

Aku ingin menangis dan berteriak saat tersakiti, aku ingin membagi senyum saat bahagia.

Aku mulai berubah. Angin sejuk di jendela mulai menyapa dan menggoda untuk melangkahkan kaki keluar menuju tempat baru yang dulu menakutiku.
Aku ingin menari bersama hujan. Ingin menyentuh butiran beningnya, dan mengatakan hai pada pelangi selepasnya.

Aku, ingin bercerita sesukaku. Tak mengapa tak ada jawaban, cukup aku merasa bahagia melakukannya.
Senja menemaniku sore ini. Cantik, menghangatkan, aku enggan beranjak. Namun aku harus meninggalkannya lebih cepat. Ada yang lain yang menantiku. Aku harus bersiap menyambut bintang.

Ah, kadang aku hanya bisa menghela napas melukis keluh, karena waktu begitu cepat berlalu. Dan akhirnya aku terlelap. Tak tau apa esok masih ada untuk diri yang entah alasan apa yang membuat diri meredup berlahan.
NRm, 17/11/16