Senin, 27 Juli 2015

Hari Pertama Masuk Sekolah (27 Juli 2015) - SD Inpres Isaima

Rindu. Aku sangat rindu suasana yang membuatku semangat, kadang rasa kesal dan sabar datang bersamaan. Rasa geram yang ditahan malah mengukirkan senyum.

Rindu. Aku merindukan sekolah. SD Inpres Isaima, tempatku melaksanakan tugas setahun ini. Sudah sebulan aku tak menatap wajah-wajah itu, wajah nakal bersemangat itu, wajah dengan mata coklat dan bulu mata panjang menatapku antara malu dan menahan takut jika-jika aku marah karena kesal. Padahal, aku tak pernah memaksakan keinginan, tetap saja mereka menghormatiku seolah aku yang menjadi cahayanya untuk terus ke sekolah. 

"Ibu Guru..."

Teriak mereka, saat memastikan akulah yang keluar dari pintu mobil di depan pagar sekolah.

"Selamat pagiii..."

Sapaku bersemangat dengan senyuman lebar. Mereka menghampiriku. Ada yang belari, ada yang jalan malu-malu mendekat. Berdiri di kelilingin mereka, seolah mereka menanti suatu kata-kata dariku.

Aku menari napas pelan, lalu tersenyum. Berbasa-basi dengan mereka.

"Wah. Kalian datang pagi, ibu guru senang."

"Wah... Hari ini pakai seragam. Yang bersihkan lapangan sekolah siapa ya? Kenapa kelas belum terbuka?"

Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang kiranya membuat mereka senang. Hingga kurasa cukup untuk menyuruh mereka menyimpan tas Noken mereka di kelas masing-masing, setelah bapak guru membuka pintu kelas.

"Pagi...Bapak." Sapaku memasuki kantor yang sangat biasa di sekolah ini.  Beliau hanya seorang diri dan sepertinya kami akan mengajar hari ini dengan tenaga ekstra.

"Ibu guru? Kepala sekolah tidak naik kah?" Tanyanya

"Tidak ta. Saya belum tanya. Bapak Manalu juga tidak telpon."

"Lalu ibu Wira tidak naik?"

"Itu tadi saya tidak sama-sama. Saya tinggal di Kurulu sekarang, temani ibu guru SMA di sana. Tapi sa su sms tadi bapak."

****
Karena jam di layar ponselku sudah berbentuk angka 08:15, saya memukul lonceng 3 kali dengan keras. Anak-anakku berlarian berbaris rapi seperti biasanya di dekat tiang bendera tepat di depan ruang kelas tiga dan empat. Aku tersenyum senang menghampiri mereka.

"Paska? bisa bantu ibu guru?"

Siswaku satu ini langsung mengerti maksudku, ia menagngguk dan maju kedepan menjadi pemimpin barisan. Paska menyiapkan, meluruskan barisan, dan menginstirahatkan seluruh barisan.

"Terima kasih Paska." Paska kembali ke barisan kelasnya.

****

"Selamat pagi..."

"Pagi ibu guruuu."

"Kurang keras. Semangat pagiii."

"Semangattt ibu guru..."

"Apa kabar?"

"Luar biasa." Jawab mereka kompak dengan kepalan tangan ke depan serta suara teriakan yang luar biasa. Lalu kembali posisi istirahat di tempat.

Bla bla bla... Aku memberikan pujian dan nasehat sederhana. Mengajak mereka bernyanyi. Dan tidak lupa menanyakan mengenai liburan mereka. Sebagian besar menjawab, liburan membosankan. Mungkin karena terlalu lama, hehe.

"Ah, bagus toh. Libur lama, bisa bantu mama ke kebun. Bisa mainan dan bisa bikin ini dan bikin itu."

"Tidak ibu guru. Kita bosan. Tidak suka."

"Kalau begitu, bilang sama ibu guru, bapak guru, atau kepala sekolah. Nanti kalau libur semester sebentar saja. Bisa?"

Mereka diam. Hanya sebagian kecil yang menjawab iya. Mungkin mereka tidak berani mengatakan hal itu, hehe.

***
Tida lupa hal rutin yang sering kulakukan, hari ini harus tetap dilakukan. Periksa kuku, kerapian kerah dan memasukkan baju. Ah, angka sebelas yang terdengar mau terbentuk harus di basmi.

"Ah, Ini... ini... ini... Ayo ke kolam sana cuci hidung." Ucapku menepuk pundak-pundak anak yang terdeteksi akan menciptakan pemandangan angka sebelas.

Mereka berlarian. Lalu kembali ke barisan setelah merasa sudah melaksanakan tugas. 

****
"Nah. Setelah ini. Ibu guru kasi bubar. Kita bersihkan kita pu halaman sekolah dulu. Baru kita bersihkan kita pu kelas masing-masing ya. Setuju." Mereka setuju. 

Siswa kelas 4 yang menyapu kelas

Siswa kelas 5 yang membersihkan ruang kelas

Memungut sampah dan runput kering di halaman sekolah
Masuk ke kelas 5. Kelas sudah rapi, bersih, dan mereka siap menyambut saya dengan senyuman (Senangnya punya siswa yang sayang saya, hehehe) :D

Kami, berdoa. Dengan dipimpin Irwan Walela (wakil ketua kelas), tentu aku berdoa dengan caraku sendiri karena saya muslim. 

"Selamatttt.... Pagiii... Ibu guru..." 

Ah, aku sangat rindu ucapan seperti ini. Suara keras memenuhi ruangan dengan senyum dan harapan besar.

"Pagiii..."

****
Aku memberikan sedikit pengantar tentang liburan yang sudah usai, masa mereka yang sekarang menjadi kelas 6 dan tentu mereka harus semakin rajin ke sekolah dan belajar.

Aku juga menguji semangat dengan yel-yel kami, lalu olahraga kecil di dalam kelas, dilanjutkan untuk bernyanyi bersama. Oia, kami harus membersihkan taman di depan kelas yang mulai berumput.
Membersihkan rumput di taman depan kelas 5

Menyiram bunga
Saat  membersihkan taman, aku meninggalkan mereka ke kantor. Saat kembali mereka semua tak ada. Ah, senang rasanya jika memiliki siswa yang rajin. Ternyata mereka semua berada di dalam kelas sedang membaca buku yang mereka. Ada bahasa, IPA, IPS, ada yaang mengerjakan soal-soal matematika.
Membaca buku
Bahagia itu memang sederhana, seperti
-Seluruh siswa hadir saat hari pertama masuk sekolah setelah libur sebulan
-Siswa merindukanmu, senang akan kehadiranmu
-Siswa rajin dan semangat, punya inisiatif sendiri
-Dll
Saya mengawasi kegiatan membaca

Sabtu, 25 Juli 2015

Feroli Mabel (Siswaku di SD Inpres Isaima)

Namanya Feroli Mabel. Muridku di Isaima. Hari ini aku bertemu dengannya saat menemani teman ke Kurulu.
Hari ini, hari terakhir MOS SMP dan SMA. Sebenarnya saya menemani kak Arha ke SMA, karena sekolah berdekatan dengan SMP, saya bertemu dengan murid2 ku di SD. 

Senang rasanya mereka mendengarkan nasehatku yang selalu menyemangati untuk terus sekolah. Ada Yance, Wani, Roni, Dorkas dan teman-temannya yang lain. Ada juga anak-anak dari Sekolah lain yang dulu berkenalan denganku saat aku mengawasi ujian mereka.

Feroli anak yang ceria dan dekat denganku dan temanku, ia suka sekali memeluk tiba-tiba, terkadang mencubitku karena gemas. Namun, saat punya teman baru ia anak yang pemalu. Senang rasanya, tadi melihatnya bercanda dengan teman-teman barunya.

Feroli anak yang pintar. Bersama yang lain dia pernah kuajak mengikuti lomba cerdas cermat di kota, lomba nyanyi dan ia pernah ikut lomba puisi.

Feroli anak yang rajin dan cepat menangkap pelajaran. Saat kelas 6 hanya beberapa orang yang masuk. Ia tidak malu untuk izin mengikuti pelajaran kelas 5 yang ku ajarkan. Di ruang kelas 5 mereka juga tak malu untuk saling mengajari.

Feroli selalu punya inisiatif, bersama murid kelas 5 bernama Kelena dan Ina. Mereka suka menasehati dan mengingatkan teman.

Feroli, juga sering melakukan sesuatu tanpa disuruh. Dia sepertinya sangat sayang pada kami (aku dan temanku--guru SM3T).

"Feroli, ibu guru sayang padamu. Ibu guru bangga padamu. Ibu guru ingin kamu sukses sayang. Jangan pernah berhenti belajar ya. Gapailah cita-cita dan harapanmu. Ibu guru selalu berdoa untukmu. Amiin."

Nurmi, SM3T SD Inpres Isaima, Jayawijaya.


FB Nurmi



Kamis, 23 Juli 2015

Berkunjung ke Rumah Makda dan Romina (Ibu Guru)

Berkunjung ke rumah siswa adalah salah satu kegiatanku yang paling aku suka. Bagaimana tidak, dengan berkunjung ke rumah mereka aku akan tau banyak hal, aku akan mengenal anggota keluarga mereka. Dan aku akan lebih mudah akrab dengan siiswa tersebut.

Hari ini, senin. Setelah mengajar, aku bersama siswa-siswa ku berjalan menuju Wosi ( 4 Km dari sekolah tempatku mengajar dan tinggal).
Sengaja aku ikut berjalan kaki agar lebih tau rasanya perjuangan siswa-siswiku setiap pagi dan diang berjalan menelusuri jalan ini, lalu masuk ke jalan-jalan berumput dan berair untuk menuju rumah mereka dan sekolah.


 Ini dia keluarga utama Makda.


Ini Feronika yang ikut menemani saya berkunjung ke rumah Makda dan Romina, karena ruma Feronika tak jauh dari sekolah, jadi nanti saat kembali dia dengan setianya menemaniku (Katanya biar ibu guru aman, tidak diganggu orang atau apalah, hehe)


Wah, aku tidak berpikir sebelumnya kalau hari ini akan ku temua hal-hal menari. Lihat saja makanan yang saya pegang bersama Feronika ini. Ini adalah sayuran denga bumbu buah meraka. Mau tau rasanya? cobalah saat kau ke Papua, jangan tanya padaku karena aku tak berani memakannya.

Loh? Apa keluarga Makda dan Romina tidak merasa tersinggung?

Tentu saja mereka tidak tau hal itu.

***
"Anak? di dapur ada mama atau siapa kah?" Tanyaku menujuk bangunan panjang yang disebut dapur.

"Tidak ada oran ibu guru, hanya ada Oromina yang sedang memasak."

"Ah, kita bisa masuk kah? makan di dalam saja?"

"Ayoo" Semua anak masuk bersamaku.

"Ibu guru makan sudah."

"Hahaha, kalian boleh makan, nanti ibu guru coba sedikit ya."

Mereka mulai melahap. Dan, mulai berdebat karena makan tersisa sedikit. Aku tau mereka berbicara tentang makanan jatahku. Meski dengan bahasa daerah aku menebak.

"Ah, tidak apa-apa sudah. Habiskan saja. Ibu guru sakit perut." Alasanku sambil tersenyum senang.


 Lain lagi, kisah hipere (ubi) reksasa yang di bawa kakak Makda dari kebun. Wah, berat banget.


Ini dia suasana di dalam dapur saat satu persatu anggota keluarga datang dari kebun dan dari mana saja (entahlah, aku tak menanyakannya).

Yang ku pegang ini adalah alat musik. Aku lupa menanyakannya juga, apa namanya.

Hari semakin siang, Fero mulai mengingatkanku akan waktu. Aku masih ingin menikmati keadaan di sini. Bercerita banyak dan lebih mengenal keluarga ini. Karena aku harus kembali, maka bye-bye Mama, Teteh, dan semuanya.


MelewatiRumput-rumput tinggi dan Genangan air yang memaksaku tidak menggunkan kaos kaki dan sepatuku kembali. Kami sampai ke jalan raya (jalan antar kabupaten).

Aku bertemu dengan muridku yang lain. Ada juga Mama- Mama, senangnya saya diberi oleh-oleh hipere.


*****
Terima kasih untuk kebersamaan ini murid-muridku dan seluruh keluarganya. Aku pasti sangat merindukan segala kisah yang ku lalui selama setahun di sini, Jayawijaya - Papua.



*****
Thanks atas kunjungan dan komentar blognya...