Rindu. Aku sangat rindu suasana yang membuatku semangat, kadang rasa kesal dan sabar datang bersamaan. Rasa geram yang ditahan malah mengukirkan senyum.
Rindu. Aku merindukan sekolah. SD Inpres Isaima, tempatku melaksanakan tugas setahun ini. Sudah sebulan aku tak menatap wajah-wajah itu, wajah nakal bersemangat itu, wajah dengan mata coklat dan bulu mata panjang menatapku antara malu dan menahan takut jika-jika aku marah karena kesal. Padahal, aku tak pernah memaksakan keinginan, tetap saja mereka menghormatiku seolah aku yang menjadi cahayanya untuk terus ke sekolah.
"Ibu Guru..."
Teriak mereka, saat memastikan akulah yang keluar dari pintu mobil di depan pagar sekolah.
"Selamat pagiii..."
Sapaku bersemangat dengan senyuman lebar. Mereka menghampiriku. Ada yang belari, ada yang jalan malu-malu mendekat. Berdiri di kelilingin mereka, seolah mereka menanti suatu kata-kata dariku.
Aku menari napas pelan, lalu tersenyum. Berbasa-basi dengan mereka.
"Wah. Kalian datang pagi, ibu guru senang."
"Wah... Hari ini pakai seragam. Yang bersihkan lapangan sekolah siapa ya? Kenapa kelas belum terbuka?"
Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang kiranya membuat mereka senang. Hingga kurasa cukup untuk menyuruh mereka menyimpan tas Noken mereka di kelas masing-masing, setelah bapak guru membuka pintu kelas.
"Pagi...Bapak." Sapaku memasuki kantor yang sangat biasa di sekolah ini. Beliau hanya seorang diri dan sepertinya kami akan mengajar hari ini dengan tenaga ekstra.
"Ibu guru? Kepala sekolah tidak naik kah?" Tanyanya
"Tidak ta. Saya belum tanya. Bapak Manalu juga tidak telpon."
"Lalu ibu Wira tidak naik?"
"Itu tadi saya tidak sama-sama. Saya tinggal di Kurulu sekarang, temani ibu guru SMA di sana. Tapi sa su sms tadi bapak."
****
Karena jam di layar ponselku sudah berbentuk angka 08:15, saya memukul lonceng 3 kali dengan keras. Anak-anakku berlarian berbaris rapi seperti biasanya di dekat tiang bendera tepat di depan ruang kelas tiga dan empat. Aku tersenyum senang menghampiri mereka.
"Paska? bisa bantu ibu guru?"
Siswaku satu ini langsung mengerti maksudku, ia menagngguk dan maju kedepan menjadi pemimpin barisan. Paska menyiapkan, meluruskan barisan, dan menginstirahatkan seluruh barisan.
"Terima kasih Paska." Paska kembali ke barisan kelasnya.
****
"Selamat pagi..."
"Pagi ibu guruuu."
"Kurang keras. Semangat pagiii."
"Semangattt ibu guru..."
"Apa kabar?"
"Luar biasa." Jawab mereka kompak dengan kepalan tangan ke depan serta suara teriakan yang luar biasa. Lalu kembali posisi istirahat di tempat.
Bla bla bla... Aku memberikan pujian dan nasehat sederhana. Mengajak mereka bernyanyi. Dan tidak lupa menanyakan mengenai liburan mereka. Sebagian besar menjawab, liburan membosankan. Mungkin karena terlalu lama, hehe.
"Ah, bagus toh. Libur lama, bisa bantu mama ke kebun. Bisa mainan dan bisa bikin ini dan bikin itu."
"Tidak ibu guru. Kita bosan. Tidak suka."
"Kalau begitu, bilang sama ibu guru, bapak guru, atau kepala sekolah. Nanti kalau libur semester sebentar saja. Bisa?"
Mereka diam. Hanya sebagian kecil yang menjawab iya. Mungkin mereka tidak berani mengatakan hal itu, hehe.
***
Tida lupa hal rutin yang sering kulakukan, hari ini harus tetap dilakukan. Periksa kuku, kerapian kerah dan memasukkan baju. Ah, angka sebelas yang terdengar mau terbentuk harus di basmi.
"Ah, Ini... ini... ini... Ayo ke kolam sana cuci hidung." Ucapku menepuk pundak-pundak anak yang terdeteksi akan menciptakan pemandangan angka sebelas.
Mereka berlarian. Lalu kembali ke barisan setelah merasa sudah melaksanakan tugas.
****
"Nah. Setelah ini. Ibu guru kasi bubar. Kita bersihkan kita pu halaman sekolah dulu. Baru kita bersihkan kita pu kelas masing-masing ya. Setuju." Mereka setuju.
| Siswa kelas 4 yang menyapu kelas |
| Siswa kelas 5 yang membersihkan ruang kelas |
| Memungut sampah dan runput kering di halaman sekolah |
Masuk ke kelas 5. Kelas sudah rapi, bersih, dan mereka siap menyambut saya dengan senyuman (Senangnya punya siswa yang sayang saya, hehehe) :D
Kami, berdoa. Dengan dipimpin Irwan Walela (wakil ketua kelas), tentu aku berdoa dengan caraku sendiri karena saya muslim.
"Selamatttt.... Pagiii... Ibu guru..."
Ah, aku sangat rindu ucapan seperti ini. Suara keras memenuhi ruangan dengan senyum dan harapan besar.
"Pagiii..."
Aku memberikan sedikit pengantar tentang liburan yang sudah usai, masa mereka yang sekarang menjadi kelas 6 dan tentu mereka harus semakin rajin ke sekolah dan belajar.
Aku juga menguji semangat dengan yel-yel kami, lalu olahraga kecil di dalam kelas, dilanjutkan untuk bernyanyi bersama. Oia, kami harus membersihkan taman di depan kelas yang mulai berumput.
| Membersihkan rumput di taman depan kelas 5 |
| Menyiram bunga |
Saat membersihkan taman, aku meninggalkan mereka ke kantor. Saat kembali mereka semua tak ada. Ah, senang rasanya jika memiliki siswa yang rajin. Ternyata mereka semua berada di dalam kelas sedang membaca buku yang mereka. Ada bahasa, IPA, IPS, ada yaang mengerjakan soal-soal matematika.
| Membaca buku |
Bahagia itu memang sederhana, seperti
-Seluruh siswa hadir saat hari pertama masuk sekolah setelah libur sebulan
-Siswa merindukanmu, senang akan kehadiranmu
-Siswa rajin dan semangat, punya inisiatif sendiri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Salam kenal. Semoga bermanfaat. Thanks atas kunjungan dan komentarnya.