Minggu, 17 Agustus 2014

Bangsaku Oh Bangsaku

Kamar 1- 06 (Lantai 1 Nomor 06) adalah kamarku. Bersama dengan Inggar, kak Fitri, dan ade Wulan, kami selalu menjadi tim awal yang mandi, mencuci, dan siap untuk berangkat. 

Hari ini, hari kemerdekaan bangsa ini yang ke-69. Wah, sudah tua ya?

Apakah bangsa ini benar-benar merdeka? Renungkanlah dan semoga kita semakin sdar dan semakin memperbaiki diri agar tidak menjadi beban bangsa kita. Okey? setuju?

---
Ini adalah hari prakondisi ke 4, seperti pagi kamren-kemarin, kami berjalan kaki menuju ruang S2 UNMUL. Lumayan melelahkan, jalan yang menajak membuat kita kelas yang akan beranjak ke Jayawijaya berlatik. Heheh

Sejak kemarin saya bertanya-tanya, "akankah ada upacara hari ini?" sepertinya tidak akan ada, dan itu terbukti saat panitia mengajatakan "Tidak ada".

Namun hari ini, meskipun aku tak mengikuti upacara seperti biasanya, hatiku bersenang terasa sekali. Suaraku bergetar, ingin rasanya aku mennagis, namun kurasa itu lebay/alay. 

Tapi meskipun sedikit letih karena dari pukul 8 pagi hingga 5 sore di ajari oleh pemateri yang sama, aku pribadi mendapatkan manfaatnya, 

1. mengetahui pembelajaran kelas rangkap
2. membuat RPPnya PKR Model tematik, Model 221, 222, 333 dengan baik karena langsung dapat pengoreksian dari pamateri.
3. Mempresentasikan berdasakan kelompok masing-masing.

--Tapi itu tugas yang akan menjadi lampiran RPP banyak sekali yang menjadi PA (Pekerjaan Asrama), syukurnya setelah negosiasi kami berhasil memperoleh waktu 3 hari.

Sampai di Asrama, kak Fitri tepar dan terlelap setelah waktu sholat hingga subuh. Saya tertindur di lantai yang dingin dengan kadaan leptop menyala, sambungan inernet menyala, tugas belum kelar.

****
Senin, 19 08 2014

"Mba jam berapa sih?" Tanyaku sambil berusaha membuka mata. Dari tadi kak Fitri dan Wulan bolak-balik di dalam kamar.

"Jam 5an lah de."

"Ah, kalian sudah nyuci?"

"Bangunlah sholat de."

"Iya kak." Jawabku sambil menatap layar ponsel yang menunjukan pukul 5. 20.


Menurut informasi dadakan, hari ini jam masuk 7.30 bergeser 30 menit lebih cepat. Sehingga kesibukan mencuci dan mandi reasa mengantri. Semua berhasil dtang tepat waktu, meskipun kegiatan rutin pendidik-pendidik wanita harus berjala pagi sore setiap hari. Kami masih ceria, bahkan tertawa dan saling bercanda di pagi hari.

---Pemateri pertama dari Kejaksaan Agus (Jakarta), menurutku bapakknya asik. Dan sesi tanya, banyak sekali yang bertanya. Khususnya masalah kuhum adat di papua.

---setelah istirhata sebentar pemateri dari pak Zeni (Dr. Zeni Hariyanto) tentang Pramuka. 

--Lalu setelah istirahat makan siang, harunya di lanjutkan bu Rosdiana tentang UKS, di gantikan oleh pak Zeni.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Curhat Pra Kondisi - Wamena (?)

Udah tiga hari berlalu prakondisinya. :)

Sejauh ini keadaan saya dan teman-teman alhamdulillah sehat, semangat tak kendor, bahkan banyak canda dan mulai saling kenal satu sama lain. Saling mengenal itu penting dong, hehe. Meskipun nanti akan ada yang ke Sorong dan ada yang ke Wamena. Sesama Wamena juga akan di pencar lagi. Saya sih berharapnya nanti akan sering bertemu dengan sesama Wamena selain kunjungan sebanyak 3 kali yang memang agenda dari pengurus program.


Yang jadi bahan pikiran sejak hari pertama, apakah saya tahan perjalanannya nanti.

Perjalanan akan di laksanakan setelah prakondisi yang berlalu 12 hari dan pelepasan pada tanggal 26 Sore. 

Samarinda -Balikpapan (Bus)

Nah, jam 10 malam penerbangannya, 27 Agustus 2014

Balikpapan - Jakarta - Jayapura - Wamena. Kerpikiraan akan 9 jam atau lebih. 

Kita akan berada di Jayapura sekitar jam 6 pagi. Dan penerbangan ke Wamena harus di lakukan sebelum semakin siang karena akan berkabut. Katanya, kami akan melewati antara gunung-gunung. Wah, 

Terlepas dari semua keadaan yang ada nanti, bertentangan dengan yang terperkirakan atau 80% mirip, tentu doa dan mengmaksimalkan kinerja sebagai tim pencerdas bangsa yang tak terlepas dari diri ini.


Saat ini yang saya lakukan, mengumpulkan berbagai informasi dari berbagai media selain informasi dari prakondisi ini sendiri. Kami belum tau pasti akan di tempatkan di daerah yang seperti apa dengan keadaan sarana dan prasarana pendidikan yang seperti apa, bagaimana minat mereka terhadap pendidikan? karena kepala dinas dari papua tidak jadi datang di acara pembukaan kemarin dan akan datang di hari terakhir prakondisi. Tetapi, secara umum atau garis besar kami diberikan gambaran-gambaran bagaimana sebebnarnya kehidupan orang papua, kami mendengarkan cerita-cerita dari pengelolah yang pernah kesana, kami membaca testimoni kakak-kakak yang sedang di tugaskan di sana. Ya, hingga saat ini saya terus berpikir positif untuk segala hal.


---Oia, selama prakondisi ini. Kami (seluruh peserta wanita --33 orang) di tempatkan di asrama yang sama, dengan jumlah penghuni setiap kamar 4 orang. Dan yang di lalui menurut saaya,

1. Menumbuhkan rasa perduli, berbagi, toleransi dan komunikasi yang baik sesama peserta.
2. Belajar menilai karakter seseorang
3. Melatih disiplinan, contoh kegiatan bangun pagi, makan teratur, izin, absen seblum pergi dan saat datang, 
4. Melatih kebiasaan berjalan. Karena sebagian dari luar kota, bahkan ada dari universitas lain selain UNMUL, barang-barang keperluan yang akan dibawah ke Papua sudah di kamar masing-masing, tidak ada yang memiliki kendaraan pribadi. Karena itu setiap pagi kami beramai-ramai berjalan kaki menuju acara yang berada di atas bukit, bgeitu pula saat pulang ke asrama. Hehe, sampai hari ke-3 ini, saya masih biasa-biasa saja, tidak letih.
5. dll,

Lakukan

Lakukanlah! Bertindak.

Jika kamu tidak melakukan apa-apa lalu hasil apa yang akan kau tunggu? Mana mungkin sesuatu itu datang dengan sendirinya, butuh kerja keras dan doa dong....

Tak perduli apa bisik-bisik kanan-kiri yang menggoda agar goyah atas keyakinan dan keputusan yang ku pilih, aku akan tetap kokoh. Bukan masalah egois atau bermimpi terlalu tinggi, namun ini soal perubahan yang lebih besar.

Jika dulu aku anak yang terbelenggu karena rasa minder, berlahan itu berubah seiring pengalaman keras hidup yang terlalui, selain itu pendidikan yang ku lalui dan pengetahuan yang bertambah membuatku berubah.

Kepedulian yang meningkat. Cita-cita saya simple sebenarnya dari dulu sejak mengenal yang namanya belajar.

-Waktu kecil aku pernah berkata pada seseorang bapak-bapak yang bertanya padaku.

"Saya hanya ingin jadi guru. Guru Matematika."

Lalu mulai kelas 3 SD aku sering mengikuti cerdas cermat Matematika, mengikuti lomba melukis sekali-kali. Hingga berlanjut SMP, selain kegiatan itu aku mengikuti Pramuka, sering maraton, dan hobby ke ruangan menjahit, perpustakaan, lab komputer, dll. Aku termaksud siswa yang aktif. Menjadi bendahara yang merangkap sekertaris. Ikut kegiatan seni seperti les tari daerah di sekolah, paduan suara.

Namun sedikit bergeser saat SMA, aku tetap mengikuti beberapa kegiatan, seperti SIaR (Siaran Islam Remaja), Maraton, beberapa olaraga lain meskipun aku bertubuh mungil. Dan saat kelas 2 SMA aku mengikuti Olimpiade Sains Fisika. Hobby perpustakaan tak pernah ku tinggalkan.

Aku dijuluki kutu buku oleh kakak-kakak kelas 3 yang menjadi teman-teman satu kosku. Saat kelas 1 aku memang belajar keras, jujur aku tak akan bersekolah hingga jenjang ini bila tak nekat, kedua kakak laki-laki melarangku sekolah, meskipun mereka lulusan terbaik saat lulus SD mereka tak mau bersekolah. Namun, berita mengejutkan selalu ku kabarkan saat mereka sudah tak bisa berkata apa-apa. Aku akan memberitahukan saat aku sudah sah diterima.

Saat kelas 2-3 SMA, aku tinggal di salah satu guru yang hingga saat ini tetap seperti ibuku (Nurliani, S.Pd). Beliau bersama dengan bu Nahar menawariku untuk tinggal di rumah beliau. Beliau, ayah( suaminya), anak-anaknya adalah keluargaku yang sangat ku sayang selain ortu dan saudara kandungku.

Aku menuju Samarinda sendiri. Mendaftar sendiri tanpa bimbingan keluarga. Tespun hanya mengikuti jalur nasional. Meskipun saat itu ragu, namun tidak mengikuti tes lokal karena keterbatan biaya, ku pasrahkan pada takdir. Alhamdulillah diterima dijurusan Pendidikan Fisika, FKIP, Universitas Mulawarman.

--Jika sekarang saya ditanya

"apa cita-citamu?"

"Ingin jadi guru Matematika, tapi bangga menjadi guru Fisika."

"Tapikan Fisika susah?"

"Tidak ada yang sulit jika kita yakin dan berusaha. "

"Kan sudah lulus ni, harapna lainnya apa?"

"Dari SMP sih, pengennya di desaku itu ada perpustakaan untuk baca anak-anak di sana, agar mereka tak merasakan hal seperti kami dulu. kalau bisa sih ada buku karyaku kelak di perpustakaan mini itu. Hehe,"

"Lainnya?"

"Banyak. Tapi yang terpenting sekarang ada 3 hal yang mewujudkannya mungkin bisa seumur hidupku."

"Apa?"

"Pertama, aku ingin membuatkan orang tuaku yang sudah rentah itu rumah layak huni. Aku tak ingin mereka tingga berlama-lama di pondok beratas berdinding daun nipa dan berlantai bambu serta tak berlistrik. Kasihan mereka hingga masa tuanya masih terbebani hal itu, adik-adikku masih kecil namun rumah kami telah rata dengan tanah dua tahun lalu, tega sekali si jago merah menghabiskannya!

Kedua, aku akan menabung untuk mereka naik haji. Ini cita-citaku sejak dahulu kala hingga seterusnya hingga list harapan ini tercoret telah terwujud.

Ketiga, jika aku bisa kuliah. Maka kelima adik perempuanku harus bisa merasakan perguruan tinggi. Minimal S1, sama denganku."

"Hmmm.... Semoga terwujud ya, teruslah berusaha, berdoa, jangan lupa bersyukur dan bersama dalam mewujudkan sesuatu. Tuhan (Allah) tak pernah tidur. Semoga sukses Nak."

"Amiinn"

****

--Pengalan kos mulai smp, sma, dan kuliah
--Kuliah sambil kerja itu hal biasa
--Foto pemandangan dari kamera sendiri adalah koleksiku.
--Pernah menangis karena sangat rindu dengan keluarga, suasana rumah, dan penyesalan membiarkan orang tua bekerja keras :)

Rabu, 13 Agustus 2014

Inilah Aku Setahun Kedepan


Pengabdian?

Saat tes wawancara ada empat pilihan yang bisa kami pilih dari tujuan kami menjadi peserta sm-3t. Saat itu aku memilih nomor 2 dan 3

2. Panggilan Jiwa.

Alasan : Ini merupakan salah satu motifasi saya agar segera menyelesaiakn skripsi. Lalu jika saya tidak bertekat untuk mengikuti tentu saya tidak akan mendaftar dan hingga tahap wawancara ini, saya harus meninggalkan keluarga yang sesungguhnya sudah saya tinggalkan 10 tahun lalu hanya demi pendidikan. Jika bukan panggilan jiwa, saya akan mengajar di daerah saya yang notaben kekurangan guru, dekat dengan keluarga. Tapi saya merasa, setahun saja saya tambahkan waktu meninggalkan mereka, mencari pengalaman hidup yang bisa menjadikan saya guru benar-benar guru.  Saya sudah merasakan hal itu saat KKN di daerah serta terbatas, namun itu tak cukup. Terlalu singkat, saya butuh waktu menguci ketulusan saya mengabdi kepada bangsa ini, menjadi pendidik-pendidik anak bangsa. SM-3T adalah program paling menjanjikan hal-hal itu, saya sudah menjanjikan pada diri saya sendiri saat pertama kali membaca, medengar tentang program ini.
"Saya harus jadi bagian dari mereka. Mencerdaskan anak-anak bangsa ini yang serta terbatas. Di Ujung Negeri ini. Papua."  Itu yang ditegaskan hati kepada mimpi-mimpi saya.

4. Pengabdian. 

Alasan :

Pengabdian dengan hati (ketulusan), sulit menemukan hal itu di kota, mungkin hanya 1 dari 100 atau bahkan dari 1000. Bahkan saya sudah ditawari mengajar di SMA negeri, sambil mengjar private yang tepatnya sudah ada, saya tinggal mengelolah. Namun pikiran saya masih terus menginginkan yang berbeda, sesuatu yang akan menghadirkan kesan mendalam, lalu membuatku belajar banyak hal juga.
-----

Hari ini, aku menuju ruang sekertaris PPG dan SM3T UNMUL. Melengkapi berkas SCKCku dan mengambil seragam. Begitu bangga rasanya bisa menjadi tim pencerdas bangsa ini. Mataku berkaca-kaca terharu, perasaan senang selalu terasa saat aku mulai mencuci dan menyetrika rapi serangam-seragamku. Pikiranku melayang jauh, Papua. Sosok hitam dengan rambut keriting tersenyum padaku dan berkata.

"Ibu guru. Mari kita belajar."

Aku menangis. Menangis membayangkan betapa jauhnya aku pergi meninggalkan keluarga, adik-adikku yang masih kecil hanya untuk menjadi pahlawan pendidikan. Inilah pilihanku. Aku menggantung rapi seram itu dan mengusap air mataku.

"Aku bisa. Mereka membutuhkanku. Aku butuh belajar banyak hal pada mereka tentang kehidupan. Tunggu aku Papua. Aku akan datang." Itulah semangat dan tekatku untuk tak pernah sekali saja menjadi lemah, putus asa, menyeluh, apalagi menyesal. 

"Aku cinta Indonesiaku. Aku Cinta Papua. Aku cinta saudara sebangsaku."

Tahu ada tapi Tak kenal

13/08/2014 ---20:35

Lagi jalan pelan-pelan sambil nenteng 3 kantong plastik berisi makanan, bentar liat layar hempong bentar liatin jalan dan sekeliling. Kaget,  tiba-tiba motor berhenti.


"Mba ayo naik?"

Aku diam.

"Mba mau kemana? aku antar deh"
"Emang kenal? Dekat sini aja kok." Tanyaku masih tak bergerak.
"Enggak sih, tapi..."

Aku langsung naik. 


"Kuliah?" Tanyanya lagi.
"Udah lulus. Tadi aku bilang 'emang kenal?' soalnya sering liat di kampus. Anak FKIP ya?"
"Iya. Aku juga sudah lulus. Sama, sering liat mba di kampus."
"Hehe. Terus ngapain di sini kalau sudah lulus?"
"Aku kerja di .... Mba kerja di mana?"
"Aku ikut SM-3T."
"Nah, temanku juga ikut itu. Rejeki itu mba, bla bla bla." Dia terus berbicara banyak hal.
"Saya sih simple alasan ikut ini. Mau ngeliat sisi lain Indonesia lebih dekat."
"Suka jalan-jalan?"
"Suka, tapi bukan itu maksudnya."
"Oh. Alasan lain?"
"Sertifikasi. Mau S2 tapi setelah dipikir-pikir gak jadi. Hehe."
"Terus dapatnya daerah mana mba?"
"Papua"

Bla bla, percakapan itu terasa berlanjut tidak ada jeda, jarakku berjalan kaki dengan kosan hanya 300 m namun begitu banyk pertanyaan dan jawaban yang terlontar. Hingga,

"Di sini." kataku mendadak.
"Hah? di sini?"
"Iya belok."
"Kosnya di sini?" Setelah berbelok dan beberapa kostan terlewati.
"Bukan. Ini kos cowok. Ya itu."
"Ih. Ini kosnya? Kok serem ya?"
"Hehe. Emang iya. Tapi bukan yang ini, yang di belang sana yang ada lampunya. Alamat sesungguhnya sih di gang sebelah, cuma ya gitu, tangga lotengnya di bagian belang sini.

"Ow. Hati-hati ya mba di Papua sana."
"Sippp. Makasih ya. Salam kenal ya, jadi lain kali kalau ketemu sudah kenal."
"Hahaha. Sama-sama"

---Iya, sudah saling kenal. Tapi hanya sekedar tahu wajah dan thau bahwa "kita mahasiswa FKIP', perna berada di kampus yang sama. Hanya itu, nama tidak tau, apa lagi asal dan hal lainya. Hehehe,


Selamat Ulang Tahun "Kak Yaqin"

Ya ampun, lupa hehe... Mangap deh Qaqa, Coz sayanya sibuk sih untuk Prakondisi besok.

Untuk Kaka "M. A. Yaqin" atau kaka "H" #Males ngetag. #awasgakbaca!

"Selamat ya umurnya berkurang, udah ngoleksi 23 angka semoga semakin berkah. Semoga dimudahkan segala harapan dan urusannya. Semakin baik dan baik. Semakin sukses ya. Sukses Acara wisudanya, sukses semuanya deh. Sukses juga acara nabung kebaikan untuk akhirat kelak. :)"

"Em... Sorry agak telat kak. Abisnya, kaka udah susah online. Nengok bentar aja, pas hari balik ke surabaya gak ngomong lagi, aku lupa karena kaka ngomongnya 2 bulan lalu, untung paketnya enggak ku kirim kerumah. Terus saya ngasih kabar ke Papua, tadinya mau kasih kejutan, eh kaka malah kaget. Hehe. Tenang aja selama masih ada hempong tak ada penghalang untuk terus bersama(?). Itu juga kalau ada sinya ye, ckckc"

"Itu BBM kenapa gak aktif? dirimu lagi bersemedi di pesantren ya? Hahaha. Tapi thanks udah buat senyum-senyum meskipun cuma lewat hempong. Salam ya untuk ibuu, kakak-kakakmu, adik dan ponakanmu yang ganteng itu. Aku tunggu foto wisuda kaka dan sampai jumpa tahun depan(Insyallah). Bye-bye, Go... Papua."


Senin, 11 Agustus 2014

Mars Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia


HAI KAU PEMUDA DAN PEMUDI
HARAPAN IBU PERTIWI
MARI KITA RAIH PRESTASI
BERSAMA KITA MEMBANGUN NEGERI

JADILAH PENDIDIK YANG BERDEDIKASI
MENGABDI KE PELOSOK NEGERI
MENDIDIKLAH DENGAN SETULUS HATI
AGAR TERCIPTA GENERASI MANDIRI

REFF:

MARI KITA MAJU BERSAMA MENCERDASKAN INDONESIA
MENJADI SARJANA MENDIDIK BANGSA
MENUJULAH YANG TERDEPAN
GAPAI MEREKA YANG TERLUAR
JANGKAULAH MIMPI-MIMPI YANG TERTINGGAL
DEMI TERWUJUDNYA GENERASI EMAS  I N D O N E S I A


Minggu, 10 Agustus 2014

"Pinjam ya?"

Aku diam-diam mengambil kunci motor dan nekat melaju di jalan raya pertama kalinya. Ini demi masa depanku, hari terakhir pendaftaran SMA yang menjadi harapan terakhirku. Sekolah itu sekitar 25 km dari rumahku. Aku memarkir motor curian--motor kakak laki-laki yang tak pernah merestui pendidikanku.

Sepi. Aku melirik sekitar, hanya ada dua anak yang tidak terlalu kuperhatikan. Jam tangan biru kesayanganku, menunjukan pukul 11.10 WITA. Aku menuju ruangan bertuliskan "Tempat pengambilan formulir pendaftaran".  Di balik kaca bening itu seorang perempuan berjilbab dan bersahaja tersenyum sambil menyodorkan beberapa lembar kertas. Aku meraih, membalas senyumnya dan mengucapkan terima kasih.

Aku duduk di salah satu bangku, mencari pulpen, aku mengacak-acak seisi tasku tapi tak menemukan benda penting itu. Aku menggigit bibirku kesal. "Berangkat terburu-buru dan pake acara kabur, gak izin. Ini akibatnya!" celotehku pada diri. Saat aku mengangkat wajah dari fokus tasku, kusadari sorot mata itu memperhatikanku. Seseorang yang ku duga calon siswa sepertiku. Aku hanya tersenyum kikuk dan membuang pandangan ke arah gadis yang sibuk dengan lembaran formulir miliknya. Gadis di bangku depanku hanya berjarak dua meter.

Aku ingin bertanya pada gadis, apa dia memiliki dua buah pulpen, tak jadi, takut mengganggunya yang sedang serius.  Cowok yang tergolong ganteng di sana, sedang bersantai, kuduga selesai mengisi formulir, ia sibuk membaca ulang kertas itu. Dia harapanku satu-satunya setelah aku melirik ke kaca dan perempuan yang kuduga ibu guru itu tak ada di tempat. "Oh, Nurmi beranilah. Kamu cuma butuh kata hai!" bisikku pada diri agar berdiri dan menghampiri.

Langkahku cepat menghampiri. Tanpa basa-basi seperti yang terencana dibenakku, aku langsung duduk di sampingnya.

"Sudah selesai?" Tanyaku to the point. Cowok berkulit bersih dan tidak kurus itu tersenyum tak menjawab. Ia menunjukan kertasnya padaku. Aku tersenyum antara senang dan malu, takut dikira SKSD (sok kenal sok dekat).

"Boleh pinjam pulpennya kan?" Ia belum berkata "iya" atau sekedar mengangguk. Bersamaan dengan terlontarnya pertanyaanku, aku meraih pulpen yang tergenggam longkar di tanganya.

Tak tau malu, aku mengisi cepat formulirku dan menyerahkannya kembali pada panitia pendaftaran. Lalu kembali duduk di samping cowok yang tak beranjak dari tadi.

"Loh? Kamu enggak ngumpul formulirmu?" Tanyaku heran.

"Aku belum tanda tangan." Jawabnya santai dan menunjukan lembar terakhir formulir.

"AHH.... Maaf ya. Aku enggak tau dan asal pinjem pulpen aja. Hehe--" Aku menyodorkan pulpennya yang kugenggam

"Hehe.... Tak apa." Ia menandatangi, aku bisa mendengarkan helaan napasnya yang kurasa ungkapan perasaan legah atau bisa jadi perasaan heran terhadapku yang kere, sudah mau SMA tapi pulpen saja tidak punya. Aku terdiam, merasa malu.

Ia berdiri dan mengumpulkan formulirnya. Aku berdiri dan menuju parkiran. Kurasa ia menoleh saat mendengar suara motorku.

***
"Ma. Aku berangkat ya? sama Tiara. Jadi gak perlu dengerin ocehan kakak dulu. Lagipula masih ngorok tu." Aku mencium tangan Ibuku dan merapikan dasiku mengumpulkan semangat. Hari ini tes masuk SMA.

Ruangan 2. Aku duduk di bangku urutan ke-3 dari depan dan samping kananku dinding. Oh, sulit sekali. Aku hanya bisa menjawab beberapa soal bahasa inggris. "OMG. Masa depanku hancur sudah!" Tak sadar suaraku tergolong keras karena suasana damai ruangan, semua mata seisi ruangan tertuju padaku, beruntung pengawas saat itu sedang keluar sebentar.

Aku cemberut, kembali menatap hampa lembar-lembar soal. Seperti sebelumnya aku merasa pupuslah harapaku menjadi anak SMA jika tidak lulus tes. Waktu tersisa dua puluh menit. Aku merebahkan kepala di atas meja dan pasrah. Tak cukup semenit aku menyerahkan segalanya pada takdir, kursiku bergerak. Aku menoleh pelan-pelan, sebelumnya aku melirik pengawas.

"Ini untukmu! Minta punyamu!"

Lembar soal itu berisi jawaban yang dilingkari dengan pensil. Aku terdiam dan berpaling melihat lembar soalku.

"Tak usah mengisinya! Tukar saja! Cepatlah! Nanti waktunya habis." Bisiknya lagi.

Aku mengawasi situasi, meraih pensilku dan menulis 'Thanks' dan gambar senyum di bagian atas soal, berbalik, dua detik kemudian sibuk mengisi lembar jawaban miliku yang masih banyak kosong.

Bel berbunyi. Siswa-siswa berseragam SMP berhamburan keluar dari lima ruangan tes. Aku mencari-cari cowok itu, tak ada. Hingga sepi dan Tiara memanggilku untuk pulang, aku tak menemukannya. Ini kedua kalinya dia menolongku tapi aku tak tau namanya.

***
Sabtu kemarin pengumuman siswa yang lulus dan perlengkapan apa yang harus dibawa untuk kegiatan MOS. Hari ini aku kembali bertemu dengannya. Upacara rutin setiap senin sekaligus penyambutan siswa baru pagi ini, kami berada di garis barisan yang sama. Sayang kami berbeda kelas MOS.

Pita merah di rambutku menjadi identitasku sebagai bagian dari kelas Nusa, sedangkan dia berada di kelas Bangsa. Kelas berdasarkan nilai rengking tes. Bagaimana bisa dia di bawahku?

Hari terakhir MOS. Di siang yang terik, semua siswa berbaris rapi dengan properti masing-masing. Inilah puncak hari sial untukku. Setelah hari pertama dihukum karena pitaku kurang, entah terjatuh di mana. Hari kedua menjadi bahan bully karena surat yang kubuat terlalu berani terhadap kakak tergalak. Hari ini, aku menjadi perserta sasaran untuk dibuat menangis.

"Jadi, apa kalian tau salah kalian? Sudah tau?" suara itu meninggi lagi.

"Kamu? Salahmu apa?"

"Gak tau kak. Semua yang kakak-kakak tuduhkan salah." Aku membela diri. Sementara di ruangan isolasi itu kami sedang mencari pembenaran diri, di luar sana, siswa-siswa yang lain sedang asik memilih coklat dan memakannya bersama, coklat yang kami berikan beberapa hari ini sebagai syarat memperoleh tanda tangan.

"Jadi, salah kalian itu..." Gadis berekor kuda itu berteriak.

"Salah kalian wahai ade-adeku yang manis, yaitu... " Gadis lain berkata dengan lembut.

"Siapa suruh kalian lahir di bulan ini!" Kak Baim tersenyum sumberingah, merasa tak bersalah. Berbagai kalimat permohonan maaf dan pujian keluar dari mulut-mulut mereka, senior-senior.  Kami kembali bergabung dengan yang lain. Deretan senior, guru-guru, dan kepala sekolah di hadapan kami. Ucapan selamat dan nasehat karena kami telah resmi menjadi siswa SMA begitu menyejukkan perasaan.

***
Letih. Aku duduk bersandar di bangku depan perpustakaan menunggu menjemput. Mataku bengkak, dan bajuku begitu kotor. Mataku terpejam, langkah kaki terdengar mendekat.

"Hallo, kenalkan. Namaku Hendra." Aku membuka mata pelan. Sebuah tangan terulur menanti dijabat. Aku tersenyum senang.

"Hallo, Hendra. Aku Nurmi. Senang berkenalan denganmu."

"Semoga kita sekelas ya."

"Semoga. Mahendra N R."

"Hei, bagaimana kau tau nama asliku."

"Dari bet nama abstrak yang setia menemani kita tiga hari. Haha..." Kami tertawa bersama.

----

Tantangan menulis dari 

---Harus kisah anak SMA.
---Maksimal 1000 kata