Pengabdian?
Saat tes wawancara ada empat pilihan yang bisa kami pilih dari tujuan kami menjadi peserta sm-3t. Saat itu aku memilih nomor 2 dan 3
2. Panggilan Jiwa.
Alasan
: Ini merupakan salah satu motifasi saya agar segera menyelesaiakn
skripsi. Lalu jika saya tidak bertekat untuk mengikuti tentu saya tidak
akan mendaftar dan hingga tahap wawancara ini, saya harus meninggalkan
keluarga yang sesungguhnya sudah saya tinggalkan 10 tahun lalu hanya
demi pendidikan. Jika bukan panggilan jiwa, saya akan mengajar di daerah
saya yang notaben kekurangan guru, dekat dengan keluarga. Tapi saya
merasa, setahun saja saya tambahkan waktu meninggalkan mereka, mencari
pengalaman hidup yang bisa menjadikan saya guru benar-benar guru. Saya
sudah merasakan hal itu saat KKN di daerah serta terbatas, namun itu tak
cukup. Terlalu singkat, saya butuh waktu menguci ketulusan saya
mengabdi kepada bangsa ini, menjadi pendidik-pendidik anak bangsa. SM-3T
adalah program paling menjanjikan hal-hal itu, saya sudah menjanjikan
pada diri saya sendiri saat pertama kali membaca, medengar tentang
program ini.
"Saya harus jadi bagian dari mereka. Mencerdaskan anak-anak bangsa ini yang serta terbatas. Di Ujung Negeri ini. Papua." Itu yang ditegaskan hati kepada mimpi-mimpi saya.
4. Pengabdian.
Alasan :
Pengabdian
dengan hati (ketulusan), sulit menemukan hal itu di kota, mungkin hanya
1 dari 100 atau bahkan dari 1000. Bahkan saya sudah ditawari mengajar
di SMA negeri, sambil mengjar private yang tepatnya sudah ada, saya
tinggal mengelolah. Namun pikiran saya masih terus menginginkan yang
berbeda, sesuatu yang akan menghadirkan kesan mendalam, lalu membuatku
belajar banyak hal juga.
-----
Hari ini, aku menuju ruang sekertaris PPG dan SM3T UNMUL. Melengkapi berkas SCKCku dan mengambil seragam. Begitu
bangga rasanya bisa menjadi tim pencerdas bangsa ini. Mataku
berkaca-kaca terharu, perasaan senang selalu terasa saat aku mulai
mencuci dan menyetrika rapi serangam-seragamku. Pikiranku melayang jauh,
Papua. Sosok hitam dengan rambut keriting tersenyum padaku dan berkata.
"Ibu guru. Mari kita belajar."
Aku
menangis. Menangis membayangkan betapa jauhnya aku pergi meninggalkan
keluarga, adik-adikku yang masih kecil hanya untuk menjadi pahlawan
pendidikan. Inilah pilihanku. Aku menggantung rapi seram itu dan mengusap air mataku.
"Aku bisa. Mereka membutuhkanku. Aku butuh belajar banyak hal pada mereka tentang kehidupan. Tunggu aku Papua. Aku akan datang." Itulah semangat dan tekatku untuk tak pernah sekali saja menjadi lemah, putus asa, menyeluh, apalagi menyesal.
"Aku cinta Indonesiaku. Aku Cinta Papua. Aku cinta saudara sebangsaku."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Salam kenal. Semoga bermanfaat. Thanks atas kunjungan dan komentarnya.