Rabu, 13 Agustus 2014

Inilah Aku Setahun Kedepan


Pengabdian?

Saat tes wawancara ada empat pilihan yang bisa kami pilih dari tujuan kami menjadi peserta sm-3t. Saat itu aku memilih nomor 2 dan 3

2. Panggilan Jiwa.

Alasan : Ini merupakan salah satu motifasi saya agar segera menyelesaiakn skripsi. Lalu jika saya tidak bertekat untuk mengikuti tentu saya tidak akan mendaftar dan hingga tahap wawancara ini, saya harus meninggalkan keluarga yang sesungguhnya sudah saya tinggalkan 10 tahun lalu hanya demi pendidikan. Jika bukan panggilan jiwa, saya akan mengajar di daerah saya yang notaben kekurangan guru, dekat dengan keluarga. Tapi saya merasa, setahun saja saya tambahkan waktu meninggalkan mereka, mencari pengalaman hidup yang bisa menjadikan saya guru benar-benar guru.  Saya sudah merasakan hal itu saat KKN di daerah serta terbatas, namun itu tak cukup. Terlalu singkat, saya butuh waktu menguci ketulusan saya mengabdi kepada bangsa ini, menjadi pendidik-pendidik anak bangsa. SM-3T adalah program paling menjanjikan hal-hal itu, saya sudah menjanjikan pada diri saya sendiri saat pertama kali membaca, medengar tentang program ini.
"Saya harus jadi bagian dari mereka. Mencerdaskan anak-anak bangsa ini yang serta terbatas. Di Ujung Negeri ini. Papua."  Itu yang ditegaskan hati kepada mimpi-mimpi saya.

4. Pengabdian. 

Alasan :

Pengabdian dengan hati (ketulusan), sulit menemukan hal itu di kota, mungkin hanya 1 dari 100 atau bahkan dari 1000. Bahkan saya sudah ditawari mengajar di SMA negeri, sambil mengjar private yang tepatnya sudah ada, saya tinggal mengelolah. Namun pikiran saya masih terus menginginkan yang berbeda, sesuatu yang akan menghadirkan kesan mendalam, lalu membuatku belajar banyak hal juga.
-----

Hari ini, aku menuju ruang sekertaris PPG dan SM3T UNMUL. Melengkapi berkas SCKCku dan mengambil seragam. Begitu bangga rasanya bisa menjadi tim pencerdas bangsa ini. Mataku berkaca-kaca terharu, perasaan senang selalu terasa saat aku mulai mencuci dan menyetrika rapi serangam-seragamku. Pikiranku melayang jauh, Papua. Sosok hitam dengan rambut keriting tersenyum padaku dan berkata.

"Ibu guru. Mari kita belajar."

Aku menangis. Menangis membayangkan betapa jauhnya aku pergi meninggalkan keluarga, adik-adikku yang masih kecil hanya untuk menjadi pahlawan pendidikan. Inilah pilihanku. Aku menggantung rapi seram itu dan mengusap air mataku.

"Aku bisa. Mereka membutuhkanku. Aku butuh belajar banyak hal pada mereka tentang kehidupan. Tunggu aku Papua. Aku akan datang." Itulah semangat dan tekatku untuk tak pernah sekali saja menjadi lemah, putus asa, menyeluh, apalagi menyesal. 

"Aku cinta Indonesiaku. Aku Cinta Papua. Aku cinta saudara sebangsaku."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam kenal. Semoga bermanfaat. Thanks atas kunjungan dan komentarnya.