Kisah pengabdian di Papua, kegiatan relawan dan kegiatan sosial penulis, materi pelajaran, info pendidikan, kegiatan KBM, kegiatan komunitas yang bermanfaat, review film dan novel sampai foto-foto alam yang dipotret sendiri oleh penulis, tentunya blog ini juga berisi curhatan dan uneg-uneg penulis. Salam kenal. selamat membaca dan semoga bermanfaat. Jangan lupa follow ya.
Sabtu, 25 April 2015
Jumat, 24 April 2015
Sabtu, 04 April 2015
Nekat mau ikut (Danau Hitam dan kaki Trikora)
Danau Hitam begitu aku menyebutnya. Mungkin karena saat pertama melihanya, warna hitamlah yang terlintas dibenakku, dari kejauhan saya tidak bisa melihat sesungguhna, apakah danau itu dalam sekali atau dangkal. Selain itu memang terlihat sangat gitam. Bahkan saat aku melihat teman-teman turun dan ternyata dangkal, aku masih belum bisa melihat dasarnya dengan jelas. Tidak kotor, tapi karena dasarnya memang gelap, bisa dibilang semi batuan.
Sabtu,4 April 2015| Berangkatnya pagi bangett... bahkan matahari belum menampakkan wajahnya |
Danau Habema 'lagi'
Ini bukan pertama kalinya saya melihat danau ini, danau yang berada diketinggian lebih dari 3.300 Mdp, konon katanya kalau belum ke Wamena maka belum ke Papua. Jika keWamena rugi tidak melihat danau tertinggi di Indonesia ini.
Untuk mencapai Danau Habema, yang dalam bahasa setempat bernama Yuginopa berada di zona inti Taman Nasional Lorenz, Papua.
Area Habema mempunyai luas kurang lebih sekitar 224,35 hektar dengan
keliling 9.79 kilometer Nama Habema diambil dari seorang perwira
Belanda yang bernama Letnan D Habema, yang mengawal ekspedisi HA Lorentz
untuk mencapai puncak Ettiakup (sebutan masyarakat lokal untuk Gunung
Trikora) pada tahun 1909. Pada masa pemerintahan Belanda, Gunung Trikora
dikenal dengan nama Wilhelminatop. Baru pada 1963 namanya berubah
menjadi Trikora (Tri Komando Rakyat) setelah perintah Presiden pertama
Indonesia, Soekarno, untuk merebut Papua Barat.
Dahulu, puncak Gunung Trikora dan sekitar Danau Habema dihiasi dengan
salju. Tapi beberapa tahun terakhir, salju di Trikora menipis dan Habema
juga tidak pernah lagi dihiasi salju di sekitarnya. Tetapi Danau Habema
masih punya banyak keindahan lain yang bisa dinikmati. Mulai dari
bentang pemandangan padang rumput yang terlihat sejauh mata memandang,
embun di ujung dedaunan dan rerumputan, lalu air danau yang tenang,
serta masih banyak lagi.
![]() |
| Sarang semut yang menempel di pohon |
Dari kota Wamena, Danau ini bisa dicapai dalam waktu sekitar 3 jam
dengan menggunakan kendaraan bermotor. Jalur menuju Habema pun juga jadi
tantangan tersendiri bagi para pengemudi kendaraan off-road. Jika ingin mengunjungi Danau Habema, setelah mencapai gerbang
checkpoint, berupa sebuah bangunan gardu sederhana, harus menempuh
perjalanan sekitar 1 jam lagi dengan melewati tanah yang penuh dengan
lumpur, lumut dan kubangan air. Dan, jangan lupa mengenakan pakaian yang
bisa melindungi dari udara dingin, karena suhu di sekitar Danau Habema
rata-rata mencapai 7-8 derajat celcius. Bahkan bisa mencapai 4 derajat
celcius.
Langganan:
Komentar (Atom)











