Leptop menyala. Aku menghela napas entah karena letih atau kecewa dengan sakit kepala yang menyerang hingga tak bisa terlelap semaunya. Aku mencoba menulis lagi, merangkai kata-kata dalam layar meski aku tak tau untuk apa, toh akhirnya hanya tersimpan lalu suatu saat akan terabaikan pula atau bahkan aku tega menghapusnya.
Sekaleng susu coklat di atas kerdus makanan menarik perhatian. Oh, baiklah. Aku keluar kamar dan merebus terlalu banyak air tanpa perduli esok aku akan minum apa, galon sudah kosong.
Suara berisik itu berasal dari alas kaleng dihampaskan kelantai keramik sedangkan pisau tumpul membuat bekas di dua pinggiran sisi atas kaleng. Secangkir susuk coklat siap menemani.
Aku duduk kembali di kursi kayu yang mengingatkanku akan masa sekolah. Meja di depanku juga sama persis meja guru. Hanya saja milikku ini terbungkus nuasa pink oleh pemilik terdahulunya.
Bukan hanya karena alasan kamar yang luas tapi di sini aku bisa tenang tampa suara berisik seperti 2 tahun lalu yang kulalui. Meski ini bukan kamarku yang dulu yang bernuasa biru. Tak apa, aku masih senang bisa melakukan sesukaku di sini. Menempeli dinding dengan harapan dua tahun kedepan.
Tenang tanpa suara berisik. Hei, ternyata aku salah. Tetangga kos itu berisik setiap malam, tertawa semaunya bersama teman-temannya. Walau tak setiap malam tapi itu mengangguku, terlalu larut hingga membuyarkan segala ideku, tak jarang membuatku sulit terlelap.
Malam ini damai. Setelah melipat rapi mukena dan sejadah. Aku mulai menulis semampuku. Maklum saja, kepalaku terlalu sakit untuk membuat cerita yang menarik.
---
Susu coklatku sudah setengah. Jam dinding yang biasanya bergerak kekanan kiri seperti bandul abadi tak lagi bergerak karena aku menghadiahkan kalung padanya. Hanya suara jarumnya yang serasa seirama dengan detak jantungku.
Susu coklatku sudah setengah. Jam dinding yang biasanya bergerak kekanan kiri seperti bandul abadi tak lagi bergerak karena aku menghadiahkan kalung padanya. Hanya suara jarumnya yang serasa seirama dengan detak jantungku.
---
Susu coklat hampir habis tapi aku belum menambahkan satu katapun disetengah halaman ketikanku. Aku duduk menghadap jendela. Menatapsatu persatu bagian. Jendela kaca yang tertutup jilbab kuning sebagai gorden. Di depannya depnnya terdapat papan memanjang dengan berbagai hal diatasnya. Rajutan yang belum selesai. Tas mungil berisi obat dan keperluan mendesak. Hah. Apa yang sebenarnya ku lakukan. Kenapa malah tidak terlelap padahal suara gitar tetangga sudah tak ada.
---
Sebuah buku juga telah kubaca tadi sore. Dengan ending yang membuat kecewa. Tetap saja aku suka kata-kata di setiap buku yang ia tulis (Sangpenulisterkenal).
Sebuah buku juga telah kubaca tadi sore. Dengan ending yang membuat kecewa. Tetap saja aku suka kata-kata di setiap buku yang ia tulis (Sangpenulisterkenal).
---
Eh. Tiba-tiba fokusku teralih dengan suara kembang api di luar. Aku berdiri, membuka pintu kamar, berjalan ke kanan dan membuka pintu menuju teras loteng kos. Ah. Aku menunggu beberapa detik tak ada yang kuharapkan. Aku kecewa.
