"Assalamualaikum....
Selamat pagi,
Selamat siang,
Selamat malam,
Sehat selalu dan semoga lancar segala aktivitas kita. "
Guru?
"DiGugu dan ditiRu"
"Dipercaya dan diikuti"
Digugu artinya perkataan dan perbuatan guru harus bisa dipertanggungjawabkan.
Ditiru artinya setiap sikap dan perbuatan guru pantas untuk dijadikan tauladan bagi siswa.
Sesuai/ Tidak Sesuai Harapan?
Namun masihkah hal tersebut dapat berjalan baik sesuai harapan guru dan sesuai harapan siswa.
Seiring waktu, perkembangan teknologi, kurikulum yang berubah, dan kebutuhan siswa yang berubah, serta dunia yang berkembang pesat, baik bidang pendidikan maupun berbagai bidang lain.
Apakah bapak/ibu guru saat ini pernah merasa ingin menyerah menjadi guru karena tantangan yang semakin meningkat dan merasa sulit menyesuaikan diri? Tidak sedikit yang merasakan hal tersebut, termaksud saya. Namun, Bapak/ibu ada hal yang harus kita perjelas dalam diri kita. Kita harus tau tujuan kita, bagaimana merencanya dan tentu merefleksikan apa yang kita lakukan. Hal ini sejalan dengan "Merdeka Belajar" saat ini.
Jangan Menyerah!
Jika bapak/ibu guru ingin menyerah, ingat lagi alasan dan tujuan bapak/ibu guru.
Berikut ini sedikit kisah saya yang terus berusaha menjadi guru yang merdeka belajar dan semakin bangga menjadi guru.
Saya adalah anak pertama perempuan dari orang tua yang sehari - hari bekerja sebagai petani yang lahir di kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Pada 2003 di desa anak - anak yang bersekolah hingga jenjang SMP hanya sekitar 5 anak, terlebih jenjang berikutnya. Selain akses yang sulit karena berada di pesisir, tidak ada sekolah selain SD. Ketika anak- anak yang ingin bersekolah harus berpisah dengan orang tua dan membayar biaya tinggal.
Berawal dari GURU berakhir jadi GURU
Saya ingin menjadi guru, terinspirasi dari guru IPA SD, maka saya terus berusaha melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Berbagai upaya diusahakan termaksud berusaha mendapatkan beasiswa. Bekerja di sela waktu kuliah. Bersyukur saya dapat menyelesaikan pendidikan dan mengikuti seleksi SM3T (Sarjana Mendidik daerah 3T, tertinggal, terpencil, tertinggal). Berhasil hingga tes akhir, saya menjadi guru di Jayawijaya. Tahun 2015 kembali ke Kalimantan Timur.
Berada di daerah Papua ternyata membuat saya belajar banyak hal dan penasaran dengan daerah - daerah lain. Bagaimana pendidikan Indonesia yang sebenarnya, apa kah masih banyak daerah yang sangat memerlukan sarana dan prasaran, dan selalu ada guru yang berjuang disegala tantangan keterbatasan akademik siswa, akses, dan timbal balik (gaji) yang tidak tergolong layak pula.
Sebelum saya memulai PPG (Profesi Pendidikan Guru), saya menjadi relawan pendidikan dan juga mengikuti berbagai komunitas pendidikan yang bertugas mendatangi secara langsung lokasi sekolah dan menjalankan program.
Perbagai hal yang ditemukan dan saya jalani di berbagai daerah di momen berbeda menghasilkan pembelajaran yang berarti, membuat saya sadar bahwa saya TIDAK BOLEH BERHENTI menyebarkan pengetahuan. Banyak cara untuk berbagi pengetahuan, namun menjadi GURU membuat saya marasa mimiliki KEBANGGAAN tersendiri dan lebih banyak memberi.
Klik
--> untuk melihat tugas Level 1 saya di Intagram
===