Kisah pengabdian di Papua, kegiatan relawan dan kegiatan sosial penulis, materi pelajaran, info pendidikan, kegiatan KBM, kegiatan komunitas yang bermanfaat, review film dan novel sampai foto-foto alam yang dipotret sendiri oleh penulis, tentunya blog ini juga berisi curhatan dan uneg-uneg penulis. Salam kenal. selamat membaca dan semoga bermanfaat. Jangan lupa follow ya.
Kamis, 25 Desember 2014
Minggu, 14 Desember 2014
Senin, 01 Desember 2014
Hai, Desember (tiga bulan berlalu) - SM3T
Selamat datang Desember. Ku harap Desember kali ini lebih bersahabat.
Lebih menyenangkan dan lebih menghadirkan sesuatu yang amazing.
Satu
hal yang jelas membedakan kali ini adalah keberadaanku. Jika selama
hidupku, setiap akhir tahun ku lewati di Kalimantan. Kali ini aku berada
di ujung timur bangsa ini, Jayawijaya--Papua.
Jangan tanya apa yang kulakukan di sini. Jangan berpikir kalau aku sedang liburan.
Aku sedang menjadi harapan bangsa sekarang. Haha,
Menjadi
salah satu peserta SM3T angkatan IV, maju bersama mencerdaskan bangsa.
Mau tau banyak tentang program SM3T dll, silahkan ketik di google pasti
akan banyak berita dan apapun yang kamu butuhkan tentang SM3T.
Oia,
jangan tanya tentang apa-apa saja yang ku lakukan di sini. Banyak.
Kalau mau tau ya, ikutin saja postingan yang ada di blog ini, atau di
blog kami (sm3tunmul.blogspot.com)
Menjadi peserta SM3T
benar-benar pengalaman yang luar biasa. Banyak pelajaran yang
diperoleh, khususnya tentang sisi unik bangsa ini, sisi terpuruknya
pendidikan anak bangsa di pelosok, dan pelajaran hidup yang berarti.
Hai, Desember. Tiga bulan telah berlalu sejak Agustus mengenalkanku pada dinginnya kota ini, dan 1 September menjadi saksi upacara penyerahan kami pada pemerinta dan dinas daerah. Dan September menjadi awal hari-hariku berkenalan dengan semua susah senang menjadi guru di pedalaman. Dengan segala keterbatasan sarana, keadaan anak yang---aduh, sesuatu, bikin geram dan ingin minggat dari sini.
Haha, banyak hal telah terlalui. Tak sedikiypun penyesalan berada di sini. Dan, rasa syukur dan bangga itu akan terus memompa semangat ini.
Selasa, 30 September 2014
Goa Sekipalkie (Goa yang tak banyak diketahui)
Goa ini berada di Distrik Wosiala, Jayawijaya. Kenapa saya tau tentang goa ini? suatu sore beberapa anak SMP bersama dengan murid kelas 6 SD Inpres Isaima mengajak saya dan teman saya untuk jalan-jalan. Katanya di dekat rumahnya ada sebuah goa. Tidak perlu bayar dan tidak akan berjalan jauh, katanya meyakinkan.
Jumat, 12 September 2014
Goa Kontilola (Jalan-jalan sore bareng murid)
![]() |
| Pintu masuk goa, foto dari sisi kiri goa |
![]() |
| Jalan menuju goa |
"Kemai?"
"Iyo ibu guru." Jawabnya sambil tertunduk malu, khas anak-anak Jayawijaya. Malu-malu tak tau.
"Mau ke mana?"
"Mau bantu potong kayu ibu guru."
"Dimana?"
"Di goa. itu mereka ada suara."
Aku mencoba mengfokuskan pendengaran sesekali memang mendengar suara kampak menghantam pohon besar.
"Dekat toh?"
"Iyo ibu guru."
"Saya ikut boleh?"
"Ah, bisa."
Berjalan berdua menjadi bertiga, berempat dan semakin banyak anak-anak yang ikut serta.
"Kalian sudah makan?" Tanyaku. Sebagian menggeleng.
"Tidak dicari mama nanti?" Tanyaku lagi
"Ah, tidak ibu guru."
*
Berjalan sedikit menjauh dari jalan aspal. Memasuki kawasan Goa bersama anak-anak muridku yang baru ku kenal 12 hari.
Mereka tampak senang. Sesekali aku menghibur dengan menyuruh mereka berpose dan dengan sigap aku mengabadikan moment itu.
*
"Selamat sore bapak." Sapaku sambil menjabat tangan. Mereka menyambut senang. Aku mencoba apa yang mereka lakukan. Heheh, Aku bisa. Tapi sayang aku tak bisa menyelesaikan bagianku, memutuskan bagian yang kupotong padahal aku telah memilih bagian yang kecil.
*
"Ibu guru. Kita pergi sudah."
"Ah, tidak apa-pa kah? ini habis hujan, jalan naik lagi, nanti kita jatuh itu batu licin."
"Ibu guru kalau mau ke goa naik sudah. Dekat itu." Tanggap seorang bapak.
"Iyo ibu guru." Jawab anak-anakku serempak dan saling mendukung.
"Iyo kah?"
"Iyo. ada tempat pegang lagi."
Aku mencoba karena sesungguhnya aku juga penasaran dengan goa yang dimaksud. Memang sesuai kata mereka, di pinggiran jalan menanjak batuan terdapat pegangan, jaga-jaga kalau akan terpeleset. Oia, cantik loh bunga-bunga warna merah yang di sekitar jalan.
![]() |
| Sebelum menuju bagian dalam goa |
![]() | |
| Penjaga goa yang rumahnya seblum masuk wilayah goa. |
![]() |
| Sebenarnya ini hal dilarang dalam pecinta alam. Namun siswakulah yang benisiatif. Maafkan ya. Namanya anak-anak |
Kebersamaan dengan siswa-siswaku... :D
![]() |
| Inilah anak-anak yang menemaniku |
![]() |
| With 'Kemai' |
![]() |
| Setelah melewati gapura yang terbuat dari alang-alang {Gapura Honai, hehe) |
Rabu, 10 September 2014
Kak Rika
Gadis yang terpaut beberapa tahun lebih tua dariku ini adalah gadis
yang sabar. Aku mengenalnya karena kami sama-sama menjadi guru SM3T
angkatan IV yang ditempatkan di kabupaten Jayawijaya. Nama lengkapnya
‘Rika Destiasi’.
Penempatan
distrik untuk mengabdi yang sangat jauh dan berbeda arah
tak menjadi penghalang untuk kami teman-teman SM3T Jayawijaya untuk
saling mengenal dan mengakrabkan diri. Kak Rika mendapat penempatan di
distrik Pyramid sedangkan saya di SD Isaima (melewati distrik Kurulu).
Kak Rika memang lahir di Riau, Desember 1989. Tapi, Kak Rika bukan
suku asli Riau loh, kak Rika berasal dari keluarga yang bersuku Jawa.
Kak
Rika lulusan S1 Pendidikan Sejarah yang lulus pada tahun 2012. Kak Rika
bagi saya adalah sosok yang dewasa dan bijak. Selama pengabdian di
Jayawijaya, kebersamaanku dengan Kak Rika lebih
banyak saat kami sama-sama turun ke kota Wamena dan menginap di
Sekretariat (kami peroleh dari pemerintah dari bulan Desember 2014).
Di Sekretariat. Kak Rika yang tergolong tidak menempati kamar tetap
sepertiku, namun relatif sering bersama kami (Saya, Tami, Aini, Wulan,
Rina, dan Muti) di kamar terakhir di rumah bersama kami (Sekretariat).
Rumah ini terdiri dari 8 kamar, tapi bayangkan saja jika kami 66 guru
SM3T datang bersamaan. Tentu saja kita harus saling berbagi, meskipun
tidak ada peraturan yang melarang untuk pindah-pindah kamar sih. So,
rasa nyaman satu sama lain itu dibutuhkan kan? :)
Kamar kami, kamar favorite loh. Multifungsi lagi. Bahkan kami sering
tidur ber 8 atau ber 10. Kamar kami juga bisa dibilang musholah (tempat
yang dituju untuk sholat selama di sekretariat). Oia, kak Rika menjadi teman akrab seiring meningkatnya frekuensi
kebersamaan kami. Sering bertukar cerita dan meminta saran dalam
berbagai hal. Termaksud membicarakan masalah di sekolah penempatan dan
juga kegiatan belajar mengajar.
Kak Rika. Sosok kak yang pengertian, rajin, dan perhatian. Senang
bisa menganlnya. Berharap keakraban ini tidak hanya terjalani di sini
dan saat ini saja. Amiiin.
“Terima kasih kak Rika.”Jumat, 05 September 2014
Pelajaran Kecil
Hari jumat. Hari ini jadwal seluruh murid
belajar agama. Dulu ada suster yang mengajar mereka, jika suster tidak datang
ada satu guru tertua di sekolah ini yang menggantikan. Tapi? Pagi ini sudah
pukul 7 lewat dan belum ada suara-suara murid berbahasa ibu lalu tertawa di
sekitar sekolah.
Aku memakai pakai rapi lalu mengintip dari jendela kamar. Mungkin hari ini mereka tidak masuk, gumamku agar tamanku merespon.
"Hari ini mereka tidak ada yg mengajar." jawabnya.
"Kenapa?"
"Bapak Wiliem tidak masuk juga tadi pagi beliau titip kunci dengan murid dan menyuruhnya menaikkan bendera."
Mendengar itu samangatku kendor. Terlebih kemarin kepsek sudah tidak masuk dan menurut informasi dari guru, kepsek hanya datang sampai hari kamis. Keajaiban jika datang hari ini.
Pukul 7.45 pagi, aku memakai topi dinasku serta sepatu putih favoritku sambil tersenyum, melangkah pasti menuju sekolah.
"Selamat pagi."
"Pagi ibu guru." jawab beberapa siswa itu tersipu-sipu.
Aku memasuki ruang kantor, yang menurutku sangat butuh penyusunan ulang letak-letak meja ataupun hal lain yang ada di dalam ruangan sempit itu.
"Sepertinya hanya kita berdua yang mengajar hari ini?!" Tanyaku sambil membuka gorden yang mulai sobek termakan usia.
"Iya. Mau bagaimana lagi..." Jawab kawanku kecewa dan pasrah.
Aku memakai pakai rapi lalu mengintip dari jendela kamar. Mungkin hari ini mereka tidak masuk, gumamku agar tamanku merespon.
"Hari ini mereka tidak ada yg mengajar." jawabnya.
"Kenapa?"
"Bapak Wiliem tidak masuk juga tadi pagi beliau titip kunci dengan murid dan menyuruhnya menaikkan bendera."
Mendengar itu samangatku kendor. Terlebih kemarin kepsek sudah tidak masuk dan menurut informasi dari guru, kepsek hanya datang sampai hari kamis. Keajaiban jika datang hari ini.
Pukul 7.45 pagi, aku memakai topi dinasku serta sepatu putih favoritku sambil tersenyum, melangkah pasti menuju sekolah.
"Selamat pagi."
"Pagi ibu guru." jawab beberapa siswa itu tersipu-sipu.
Aku memasuki ruang kantor, yang menurutku sangat butuh penyusunan ulang letak-letak meja ataupun hal lain yang ada di dalam ruangan sempit itu.
"Sepertinya hanya kita berdua yang mengajar hari ini?!" Tanyaku sambil membuka gorden yang mulai sobek termakan usia.
"Iya. Mau bagaimana lagi..." Jawab kawanku kecewa dan pasrah.
***
Aku memukul bel sekolah. Temanku menggantikan karena menurutnya kurang keras. Aku meraih kunci-kunci di atas meja lalu berjalan ke pintu-pintu, membuka.
Murid-murid berbaris di depan ruang kelas enam. Aku melirik sekejap memastikan seberapa banyak mereka. Sedikit. Anak kelas 2 hanya 2 orang saja, kelas lain juga hanya separuh dari biasanya.
"Sementara ibu Nurmi membuka seluruh kelas, ayo baris rapi. Ketua kelas enam maju." kawanku mengarahkan mereka. Aku tersenyum dari jauh. Kegiatan rutin itu sudah menjadi yang ke empat tapi masih saja kurang. Berkali-kali kata siap dan luruskan diucap masih saja belum rapi.
"Ulangi. Ibu guru sudah bilang toh? Kalau temannya memimpin dengarkan baik-baik. Yang memimpin bagaimana sikap?"
Ku dengar dari kejauhan, volume suara kawanku lebih dari biasanya.
"Pemimpin itu jadi contoh. Jadi suara harus keras toh? Harus lihat teman yang lain. Jika belum lurus jangan siapkan. Kalau masih ada yang berbicara tegur, sebut nama. Bisa toh?" Ia mulai berbicara banyak, murid-murid belum disiapkan.
"Ayo dicek temannya. Kalau ditegur berkali-kali tidak berubah. Datangi."
Langkah kaki hitam berlumpur tanpa sepatu itu menuju barisan dan mengatur satu persatu anak kelas 1 dan 2.
Aku mendekati kawanku, berjalan pelan tak bersuara apa lagi berani berpendapat.
"Iya begitu. Yang lain bisa toh atur diri sendiri?" sambungnya.
***
Barisan sudah disiapkan lalu diistirahatkan.
"Cape?" Tanyaku.
"Iyo ibu."
"Kalau cape harus baris bagus toh biar ibu guru tidak lama suruh berdiri. Paham?"
"Paham ibu."
"Setuju?"
"Iyo. Setuju."
"Semangat!"
"SEMANGAT" jawab mereka serentak dan mengepalkan tangan kanan ke atas.
Aku memberi kode pada kawanku yang baru kembali dari ruangan kantor untuk meneruskan.
***
Aku merekam dari belakang kegiatan itu. Kawanku sepertinya lebih lembut sekarang. Ku dengar ia memberikan nasehat-nasehat penting, sesekali bernyanyi untuk menyindir mereka yang malu-malu.
"Pemberani tidak boleh menunduk...
Pemberani tidak malu-malu. Pemberani..."
Aku keluar pagar sekolah, melihat ke arah jalan dari kota, tak ada murid yang datang. Kemudian arah lain, ku lihat 2 bapak guru yang berjalan tak jauh dari sekolah. Jauh di belakangnya banyak murid-murid berlarian agar lebih cepat sampai. Senyumku mengembang. Setidaknya mereka masih ingin bersekolah.
"Ayo cepat. Sudah lewat jam delapan." Teriakku lalu masuk untuk menanti mereka.
***
"Eh, yang terlambat barisnya di sana." ucap temanku menunjuk sisi lapangan di depanku. Yang terlambat kembali berhambur dari barisan dan menujuku. Aku tersenyum seolah memberi isyarat bahwa aku tidak akan menghukum mereka, jadi mereka tak perlu takut.
"Baris seperti biasa yo" Beberapa detik setelah perintahku, 2 anak kelas satu langsung mengambil posisi. Yang lain sedikit lambat.
"Bagus." Ucapku menunjukan jempol pada dua murid mungil itu.
"Ayo yang lain masa kalah sama adiknya. Malu toh?"
"Frans. Boleh pimpin? Murid kelas limaku itu langsung maju. Ia melakukan tugas dengan baik.
"Tidak usah menoleh, lihat kedepan. Sikap siap toh? Lihat Frans. Bukan temannya yang berbaris di sana."
Mereka mengikuti perintah.
"Jauh rumah kan? Atau bantu mama dulu? Jadi hari ini masih terlambat?"
"Jauh ibu."
"Ibu tidak marah kalian terlambat, tapi tidak senang juga kalian terlambat. Boleh besok- besok tidak terlambat?"
"Iyo."
Jawaban mereka membuatku terdiam. Menunggu kawan yang masih menanti kesempurnaan barisan di hadapannya.
"Ibu tidak akan suruh turunkan tangan kalau masih ada suara apa lagi garuk kepala."
***
Setelah barisan digabungkan dan dalam posisi istirahat. Aku membuka dengan semangat.
"Selamat pagi..."
"Pagi ibu guuru"
"Kurang keras. Selamat pagi semua..."
"PAGI IBU GURUU."
"Bagus. Pagi-pagi harus semangat toh? Tepuk tangan dulu untuk kalian. Ibu guru tidak marah toh? Ibu guru hanya ingin kalian disiplin, perduli dengan teman. Jangan kira ibu marah ya!"
"Iyo."
"Bagus toh kalau rapi? Terus, teman sudah bagus baris tapi yang lain masih ribut dan goyang sana-goyang sini. Kasihan toh temannya? Satu salah semua kena. Besok-besok baris bagus yo." Mereka mengiyakan.
"Ibu Wira mau tambahkan?"
"Apa kabar?" Teriak kawanku semangat.
"Luar biasa." Teriak semangat murid membalas dan mengacungkan kedua jempolnya.
Kawanku mulai berbicara ini dan itu membuat murid-murid itu lebih ceria lagi. Yel2 dan lagu serta gerakannya kami lakukan bersama-sama.
Doa bersama sebelum kegiatan bersih-bersih dimulai. Aku mendapat tanggung jawab mengawasi, memandu siswa kelas 3 dan 4 membersihkan ruangan. Luar biasa mereka siswa yang aktif dan menyenangkan.
Seluruh sisi disapu termaksud pelapon dan dinding yang mulai banyak sarang laba-laba. Bangku disusun ulang dan foto presiden serta wakilnya dilap bersih. Burung garuda bahkan dibersihkan dengan air. Begitu juga dengan papan tulis yang menggunakann kapur, harus menggunkan kain basah.
Tidak hanya dalam ruangan, sampah-sampah di sekitar sekolah dipunguti dan dikumpulkan menjadi satu dan akan dibakar saat pulang sekolah.
***
Paling menggemaskan saat membantu siswa kelas satu membersihkan kelas. Bayangan mereka yang mengambil rumput di sekitar sekolah untuk menyapu kelas. Aku tersenyum kaget melihat itu.
"Halo."
"Ibu guru." ucapnya lalu berlari masuk kelas.
"Sudah bersih?" ucapku pura-pura bertanya karena kelas malah penuh rumput.
"Bapak guru mana?"
"Di sebelah." rupanya beliau mengawasi kelas 2 lebih dulu. Aku meminta izin mengambil alih kelas 1.
"Tidak ada sapu?" bukannya menjawab mereka malah berlari keluar dan membuang sapu rumput mereka lalu kembali masuk.
"Ibu guru boleh ambil sapu dulu?"
"Iyo."
Kembali dengan 3 sapu di tangan. Mereka berlomba ingin menggunakan. Mereka berdiri mengelilingiku dan mendongak dengan harap diberi. Ku berikan yang ku anggap mampu, ternyata mereka bertengkar.
"Hallo." ucapku di tengah-tengah ruangan sambil tepuk tangan agar dapat perhatian.
"Yang pegang sapu menyapu. Yang lain bantu ibu angkat meja kursi. Bisa?"
Mereka langsung bergerak kecap. Aku yakin mampu mengangakat hanya berdua. Tapi ingin hal lain.
"Berhenti." mereka menatapku heran. Aku tersenyum.
"Angkatnya berempat biar lebih ringan dan harus kompak jalannya. Boleh?" mereka hanya tersenyum malu-malu. Rasanya ingin tertawa puas saat melihat kelas rapi dari biasanya.
"Ayo. Duduk dulu." Mereka mulai mengambil posisi.
"Ini kenapa duduk bertiga?" Tidak ada jawaban hanya ada cengir-cengir dan mata-mata coklat menatapku.
"Boleh pindah satu?" Mereka saling tatap.
"Masih ada toh kursi kosong. Masih ada juga teman duduk sendiri. Boleh pindah?" yang lain menjawab iya namun ketiga snak itu tidak. Bagusnya meski tak menjawab, satu orang berdiri dan pindah ke sebelah.
"Nah. Pintar. Ayo tepuk tangan untuk temannya."
"Ada yang masih ingat lagu kemarin?" Semua bungkam.
Aku menaikkan 3 jariku kedepan.
"3" sebut mereka serentak. Ku lanjutkan untuk mempermainkan jari-jari menguji kemampuan menghitung mereka. Luar bisa menghitung sampai 10. Semua benar meskipun ku acak angkanya. Selanjutnya aku ingin mereka bernyanyi.
"Satu satu saya sayang Mama... Dst" Aku mulai bernyanyi diikuti mereka. Yang membuat gemas lagi mereka mengikuti gerakkan yang ku ajarkan.
"Sekali lagi. Setelah itu foto bersama dan kita kumpul di lapangan sama kakak-kakak yang lain."
Suara mereka makin keras dan saat berfoto mereka senyum manis. Bulu mata lentik itu menggodaku. Aku suka sekali. Hahaha.
***
Mereka semua duduk melingkar, sesekali berdiri. Kami melakukan beberapa permainan. Menyanyikan beberapa lagu agar lebih semangat. Dan sebelum pulang aku bergantian dengan teman.
Kawanku memandu mereka menyanyikan lagu-lagu keagamaan mereka. Aku menjauh sedikit, ku lihat bapak Wiliem duduk di kursi depan kantor ikut bertepuk-tepuk tangan sama dengan murid-murid. Aku tersenyum menyaksikan itu.
Sebelum pulang mereka berdoa. Aku masih berdiri 5 meter dari mereka berdoa dengan caraku sendiri.
"Amiin." semua Siswa berdiri. Kawanku mengarahkannya keluar pagar dengan berbaris rapi.
-------
Pelajaran kecil yang begitu berarti. Kami ingin mereka menjadi generasi penerus bangsa yang kuat, gigih, disiplin, serta berwawasan luas tanpa merasa berbeda.
Pelajaran kecil untuk perubahan besar.
".... Tunggulah wahai negeriku. Baktiku padaku." Begitu lirik lagu yang sering kami nyanyikan dan siap membagun tembok janji dalam hati kami. Pendidik generasi bangsa, duta pendidikan nasional.
Minggu, 17 Agustus 2014
Bangsaku Oh Bangsaku
Kamar 1- 06 (Lantai 1 Nomor 06) adalah kamarku. Bersama dengan
Inggar, kak Fitri, dan ade Wulan, kami selalu menjadi tim awal yang
mandi, mencuci, dan siap untuk berangkat.
Hari ini, hari kemerdekaan bangsa ini yang ke-69. Wah, sudah tua ya?
Apakah bangsa ini benar-benar merdeka? Renungkanlah dan semoga kita semakin sdar dan semakin memperbaiki diri agar tidak menjadi beban bangsa kita. Okey? setuju?
Apakah bangsa ini benar-benar merdeka? Renungkanlah dan semoga kita semakin sdar dan semakin memperbaiki diri agar tidak menjadi beban bangsa kita. Okey? setuju?
---
Ini
adalah hari prakondisi ke 4, seperti pagi kamren-kemarin, kami berjalan
kaki menuju ruang S2 UNMUL. Lumayan melelahkan, jalan yang menajak
membuat kita kelas yang akan beranjak ke Jayawijaya berlatik. Heheh
Sejak
kemarin saya bertanya-tanya, "akankah ada upacara hari ini?" sepertinya
tidak akan ada, dan itu terbukti saat panitia mengajatakan "Tidak ada".
Namun hari ini, meskipun aku tak mengikuti upacara seperti biasanya, hatiku bersenang terasa sekali. Suaraku bergetar, ingin rasanya aku mennagis, namun kurasa itu lebay/alay.
Namun hari ini, meskipun aku tak mengikuti upacara seperti biasanya, hatiku bersenang terasa sekali. Suaraku bergetar, ingin rasanya aku mennagis, namun kurasa itu lebay/alay.
Tapi
meskipun sedikit letih karena dari pukul 8 pagi hingga 5 sore di ajari
oleh pemateri yang sama, aku pribadi mendapatkan manfaatnya,
1. mengetahui pembelajaran kelas rangkap
2. membuat RPPnya PKR Model tematik, Model 221, 222, 333 dengan baik karena langsung dapat pengoreksian dari pamateri.
3. Mempresentasikan berdasakan kelompok masing-masing.
--Tapi
itu tugas yang akan menjadi lampiran RPP banyak sekali yang menjadi PA
(Pekerjaan Asrama), syukurnya setelah negosiasi kami berhasil memperoleh
waktu 3 hari.
Sampai di Asrama,
kak Fitri tepar dan terlelap setelah waktu sholat hingga subuh. Saya
tertindur di lantai yang dingin dengan kadaan leptop menyala, sambungan
inernet menyala, tugas belum kelar.
****
Senin, 19 08 2014
"Mba jam berapa sih?" Tanyaku sambil berusaha membuka mata. Dari tadi kak Fitri dan Wulan bolak-balik di dalam kamar.
"Jam 5an lah de."
"Ah, kalian sudah nyuci?"
"Ah, kalian sudah nyuci?"
"Bangunlah sholat de."
"Iya kak." Jawabku sambil menatap layar ponsel yang menunjukan pukul 5. 20.
Menurut
informasi dadakan, hari ini jam masuk 7.30 bergeser 30 menit lebih
cepat. Sehingga kesibukan mencuci dan mandi reasa mengantri. Semua
berhasil dtang tepat waktu, meskipun kegiatan rutin pendidik-pendidik
wanita harus berjala pagi sore setiap hari. Kami masih ceria, bahkan
tertawa dan saling bercanda di pagi hari.
---Pemateri
pertama dari Kejaksaan Agus (Jakarta), menurutku bapakknya asik. Dan
sesi tanya, banyak sekali yang bertanya. Khususnya masalah kuhum adat di
papua.
---setelah istirhata sebentar pemateri dari pak Zeni (Dr. Zeni Hariyanto) tentang Pramuka.
--Lalu setelah istirahat makan siang, harunya di lanjutkan bu Rosdiana tentang UKS, di gantikan oleh pak Zeni.
Sabtu, 16 Agustus 2014
Curhat Pra Kondisi - Wamena (?)
Sejauh
ini keadaan saya dan teman-teman alhamdulillah sehat, semangat tak
kendor, bahkan banyak canda dan mulai saling kenal satu sama lain.
Saling mengenal itu penting dong, hehe. Meskipun nanti akan ada yang ke
Sorong dan ada yang ke Wamena. Sesama Wamena juga akan di pencar lagi.
Saya sih berharapnya nanti akan sering bertemu dengan sesama Wamena
selain kunjungan sebanyak 3 kali yang memang agenda dari pengurus
program.
Yang jadi bahan pikiran sejak hari pertama, apakah saya tahan perjalanannya nanti.
Perjalanan akan di laksanakan setelah prakondisi yang berlalu 12 hari dan pelepasan pada tanggal 26 Sore.
Samarinda -Balikpapan (Bus)
Nah, jam 10 malam penerbangannya, 27 Agustus 2014
Balikpapan - Jakarta - Jayapura - Wamena. Kerpikiraan akan 9 jam atau lebih.
Kita
akan berada di Jayapura sekitar jam 6 pagi. Dan penerbangan ke Wamena
harus di lakukan sebelum semakin siang karena akan berkabut. Katanya,
kami akan melewati antara gunung-gunung. Wah,
Terlepas
dari semua keadaan yang ada nanti, bertentangan dengan yang
terperkirakan atau 80% mirip, tentu doa dan mengmaksimalkan kinerja
sebagai tim pencerdas bangsa yang tak terlepas dari diri ini.
Saat
ini yang saya lakukan, mengumpulkan berbagai informasi dari berbagai
media selain informasi dari prakondisi ini sendiri. Kami belum tau pasti
akan di tempatkan di daerah yang seperti apa dengan keadaan sarana dan
prasarana pendidikan yang seperti apa, bagaimana minat mereka terhadap
pendidikan? karena kepala dinas dari papua tidak jadi datang di acara
pembukaan kemarin dan akan datang di hari terakhir prakondisi. Tetapi,
secara umum atau garis besar kami diberikan gambaran-gambaran bagaimana
sebebnarnya kehidupan orang papua, kami mendengarkan cerita-cerita dari
pengelolah yang pernah kesana, kami membaca testimoni kakak-kakak yang
sedang di tugaskan di sana. Ya, hingga saat ini saya terus berpikir
positif untuk segala hal.
---Oia,
selama prakondisi ini. Kami (seluruh peserta wanita --33 orang) di
tempatkan di asrama yang sama, dengan jumlah penghuni setiap kamar 4
orang. Dan yang di lalui menurut saaya,
1. Menumbuhkan rasa perduli, berbagi, toleransi dan komunikasi yang baik sesama peserta.
2. Belajar menilai karakter seseorang
3. Melatih disiplinan, contoh kegiatan bangun pagi, makan teratur, izin, absen seblum pergi dan saat datang,
4.
Melatih kebiasaan berjalan. Karena sebagian dari luar kota, bahkan ada
dari universitas lain selain UNMUL, barang-barang keperluan yang akan
dibawah ke Papua sudah di kamar masing-masing, tidak ada yang memiliki
kendaraan pribadi. Karena itu setiap pagi kami beramai-ramai berjalan
kaki menuju acara yang berada di atas bukit, bgeitu pula saat pulang ke
asrama. Hehe, sampai hari ke-3 ini, saya masih biasa-biasa saja, tidak
letih.
5. dll,
Lakukan
Lakukanlah! Bertindak.
Jika
kamu tidak melakukan apa-apa lalu hasil apa yang akan kau tunggu? Mana
mungkin sesuatu itu datang dengan sendirinya, butuh kerja keras dan doa
dong....
Tak
perduli apa bisik-bisik kanan-kiri yang menggoda agar goyah atas
keyakinan dan keputusan yang ku pilih, aku akan tetap kokoh. Bukan
masalah egois atau bermimpi terlalu tinggi, namun ini soal perubahan
yang lebih besar.
Jika
dulu aku anak yang terbelenggu karena rasa minder, berlahan itu berubah
seiring pengalaman keras hidup yang terlalui, selain itu pendidikan
yang ku lalui dan pengetahuan yang bertambah membuatku berubah.
Kepedulian yang meningkat. Cita-cita saya simple sebenarnya dari dulu sejak mengenal yang namanya belajar.
-Waktu kecil aku pernah berkata pada seseorang bapak-bapak yang bertanya padaku.
"Saya hanya ingin jadi guru. Guru Matematika."
Lalu
mulai kelas 3 SD aku sering mengikuti cerdas cermat Matematika,
mengikuti lomba melukis sekali-kali. Hingga berlanjut SMP, selain
kegiatan itu aku mengikuti Pramuka, sering maraton, dan hobby ke ruangan
menjahit, perpustakaan, lab komputer, dll. Aku termaksud siswa yang
aktif. Menjadi bendahara yang merangkap sekertaris. Ikut kegiatan seni
seperti les tari daerah di sekolah, paduan suara.
Namun
sedikit bergeser saat SMA, aku tetap mengikuti beberapa kegiatan,
seperti SIaR (Siaran Islam Remaja), Maraton, beberapa olaraga lain
meskipun aku bertubuh mungil. Dan saat kelas 2 SMA aku mengikuti
Olimpiade Sains Fisika. Hobby perpustakaan tak pernah ku tinggalkan.
Aku dijuluki kutu buku oleh kakak-kakak kelas 3 yang menjadi teman-teman satu kosku. Saat kelas 1 aku memang belajar keras, jujur aku tak akan bersekolah hingga jenjang ini bila tak nekat, kedua kakak laki-laki melarangku sekolah, meskipun mereka lulusan terbaik saat lulus SD mereka tak mau bersekolah. Namun, berita mengejutkan selalu ku kabarkan saat mereka sudah tak bisa berkata apa-apa. Aku akan memberitahukan saat aku sudah sah diterima.
Saat kelas 2-3 SMA, aku tinggal di salah satu guru yang hingga saat ini tetap seperti ibuku (Nurliani, S.Pd). Beliau bersama dengan bu Nahar menawariku untuk tinggal di rumah beliau. Beliau, ayah( suaminya), anak-anaknya adalah keluargaku yang sangat ku sayang selain ortu dan saudara kandungku.
Aku menuju Samarinda sendiri. Mendaftar sendiri tanpa bimbingan keluarga. Tespun hanya mengikuti jalur nasional. Meskipun saat itu ragu, namun tidak mengikuti tes lokal karena keterbatan biaya, ku pasrahkan pada takdir. Alhamdulillah diterima dijurusan Pendidikan Fisika, FKIP, Universitas Mulawarman.
--Jika sekarang saya ditanya
"apa cita-citamu?"
"Ingin jadi guru Matematika, tapi bangga menjadi guru Fisika."
"Tapikan Fisika susah?"
"Tidak ada yang sulit jika kita yakin dan berusaha. "
"Kan sudah lulus ni, harapna lainnya apa?"
"Dari SMP sih, pengennya di desaku itu ada perpustakaan untuk baca anak-anak di sana, agar mereka tak merasakan hal seperti kami dulu. kalau bisa sih ada buku karyaku kelak di perpustakaan mini itu. Hehe,"
"Lainnya?"
"Banyak. Tapi yang terpenting sekarang ada 3 hal yang mewujudkannya mungkin bisa seumur hidupku."
"Apa?"
"Pertama, aku ingin membuatkan orang tuaku yang sudah rentah itu rumah layak huni. Aku tak ingin mereka tingga berlama-lama di pondok beratas berdinding daun nipa dan berlantai bambu serta tak berlistrik. Kasihan mereka hingga masa tuanya masih terbebani hal itu, adik-adikku masih kecil namun rumah kami telah rata dengan tanah dua tahun lalu, tega sekali si jago merah menghabiskannya!
Kedua, aku akan menabung untuk mereka naik haji. Ini cita-citaku sejak dahulu kala hingga seterusnya hingga list harapan ini tercoret telah terwujud.
Ketiga, jika aku bisa kuliah. Maka kelima adik perempuanku harus bisa merasakan perguruan tinggi. Minimal S1, sama denganku."
"Hmmm.... Semoga terwujud ya, teruslah berusaha, berdoa, jangan lupa bersyukur dan bersama dalam mewujudkan sesuatu. Tuhan (Allah) tak pernah tidur. Semoga sukses Nak."
"Amiinn"
****
--Pengalan kos mulai smp, sma, dan kuliah
--Kuliah sambil kerja itu hal biasa
--Foto pemandangan dari kamera sendiri adalah koleksiku.
--Pernah menangis karena sangat rindu dengan keluarga, suasana rumah, dan penyesalan membiarkan orang tua bekerja keras :)
Rabu, 13 Agustus 2014
Inilah Aku Setahun Kedepan
Pengabdian?
Saat tes wawancara ada empat pilihan yang bisa kami pilih dari tujuan kami menjadi peserta sm-3t. Saat itu aku memilih nomor 2 dan 3
2. Panggilan Jiwa.
Alasan
: Ini merupakan salah satu motifasi saya agar segera menyelesaiakn
skripsi. Lalu jika saya tidak bertekat untuk mengikuti tentu saya tidak
akan mendaftar dan hingga tahap wawancara ini, saya harus meninggalkan
keluarga yang sesungguhnya sudah saya tinggalkan 10 tahun lalu hanya
demi pendidikan. Jika bukan panggilan jiwa, saya akan mengajar di daerah
saya yang notaben kekurangan guru, dekat dengan keluarga. Tapi saya
merasa, setahun saja saya tambahkan waktu meninggalkan mereka, mencari
pengalaman hidup yang bisa menjadikan saya guru benar-benar guru. Saya
sudah merasakan hal itu saat KKN di daerah serta terbatas, namun itu tak
cukup. Terlalu singkat, saya butuh waktu menguci ketulusan saya
mengabdi kepada bangsa ini, menjadi pendidik-pendidik anak bangsa. SM-3T
adalah program paling menjanjikan hal-hal itu, saya sudah menjanjikan
pada diri saya sendiri saat pertama kali membaca, medengar tentang
program ini.
"Saya harus jadi bagian dari mereka. Mencerdaskan anak-anak bangsa ini yang serta terbatas. Di Ujung Negeri ini. Papua." Itu yang ditegaskan hati kepada mimpi-mimpi saya.
4. Pengabdian.
Alasan :
Pengabdian
dengan hati (ketulusan), sulit menemukan hal itu di kota, mungkin hanya
1 dari 100 atau bahkan dari 1000. Bahkan saya sudah ditawari mengajar
di SMA negeri, sambil mengjar private yang tepatnya sudah ada, saya
tinggal mengelolah. Namun pikiran saya masih terus menginginkan yang
berbeda, sesuatu yang akan menghadirkan kesan mendalam, lalu membuatku
belajar banyak hal juga.
-----
Hari ini, aku menuju ruang sekertaris PPG dan SM3T UNMUL. Melengkapi berkas SCKCku dan mengambil seragam. Begitu
bangga rasanya bisa menjadi tim pencerdas bangsa ini. Mataku
berkaca-kaca terharu, perasaan senang selalu terasa saat aku mulai
mencuci dan menyetrika rapi serangam-seragamku. Pikiranku melayang jauh,
Papua. Sosok hitam dengan rambut keriting tersenyum padaku dan berkata.
"Ibu guru. Mari kita belajar."
Aku
menangis. Menangis membayangkan betapa jauhnya aku pergi meninggalkan
keluarga, adik-adikku yang masih kecil hanya untuk menjadi pahlawan
pendidikan. Inilah pilihanku. Aku menggantung rapi seram itu dan mengusap air mataku.
"Aku bisa. Mereka membutuhkanku. Aku butuh belajar banyak hal pada mereka tentang kehidupan. Tunggu aku Papua. Aku akan datang." Itulah semangat dan tekatku untuk tak pernah sekali saja menjadi lemah, putus asa, menyeluh, apalagi menyesal.
"Aku cinta Indonesiaku. Aku Cinta Papua. Aku cinta saudara sebangsaku."
Tahu ada tapi Tak kenal
13/08/2014 ---20:35
Lagi
jalan pelan-pelan sambil nenteng 3 kantong plastik berisi makanan,
bentar liat layar hempong bentar liatin jalan dan sekeliling. Kaget,
tiba-tiba motor berhenti.
"Mba ayo naik?"
Aku diam.
"Mba mau kemana? aku antar deh"
"Emang kenal? Dekat sini aja kok." Tanyaku masih tak bergerak.
"Enggak sih, tapi..."
Aku langsung naik.
"Kuliah?" Tanyanya lagi.
"Udah lulus. Tadi aku bilang 'emang kenal?' soalnya sering liat di kampus. Anak FKIP ya?"
"Iya. Aku juga sudah lulus. Sama, sering liat mba di kampus."
"Hehe. Terus ngapain di sini kalau sudah lulus?"
"Aku kerja di .... Mba kerja di mana?"
"Aku ikut SM-3T."
"Nah, temanku juga ikut itu. Rejeki itu mba, bla bla bla." Dia terus berbicara banyak hal.
"Saya sih simple alasan ikut ini. Mau ngeliat sisi lain Indonesia lebih dekat."
"Suka jalan-jalan?"
"Suka, tapi bukan itu maksudnya."
"Oh. Alasan lain?"
"Sertifikasi. Mau S2 tapi setelah dipikir-pikir gak jadi. Hehe."
"Terus dapatnya daerah mana mba?"
"Papua"
Bla
bla, percakapan itu terasa berlanjut tidak ada jeda, jarakku berjalan
kaki dengan kosan hanya 300 m namun begitu banyk pertanyaan dan jawaban
yang terlontar. Hingga,
"Di sini." kataku mendadak.
"Hah? di sini?"
"Iya belok."
"Kosnya di sini?" Setelah berbelok dan beberapa kostan terlewati.
"Bukan. Ini kos cowok. Ya itu."
"Ih. Ini kosnya? Kok serem ya?"
"Hehe.
Emang iya. Tapi bukan yang ini, yang di belang sana yang ada lampunya.
Alamat sesungguhnya sih di gang sebelah, cuma ya gitu, tangga lotengnya
di bagian belang sini.
"Ow. Hati-hati ya mba di Papua sana."
"Sippp. Makasih ya. Salam kenal ya, jadi lain kali kalau ketemu sudah kenal."
"Hahaha. Sama-sama"
---Iya,
sudah saling kenal. Tapi hanya sekedar tahu wajah dan thau bahwa "kita
mahasiswa FKIP', perna berada di kampus yang sama. Hanya itu, nama tidak
tau, apa lagi asal dan hal lainya. Hehehe,
Selamat Ulang Tahun "Kak Yaqin"
Ya ampun, lupa hehe... Mangap deh Qaqa, Coz sayanya sibuk sih untuk Prakondisi besok.
Untuk Kaka "M. A. Yaqin" atau kaka "H" #Males ngetag. #awasgakbaca!
Untuk Kaka "M. A. Yaqin" atau kaka "H" #Males ngetag. #awasgakbaca!
"Selamat
ya umurnya berkurang, udah ngoleksi 23 angka semoga semakin berkah.
Semoga dimudahkan segala harapan dan urusannya. Semakin baik dan baik.
Semakin sukses ya. Sukses Acara wisudanya, sukses semuanya deh. Sukses
juga acara nabung kebaikan untuk akhirat kelak. :)"
"Em...
Sorry agak telat kak. Abisnya, kaka udah susah online. Nengok bentar
aja, pas hari balik ke surabaya gak ngomong lagi, aku lupa karena kaka
ngomongnya 2 bulan lalu, untung paketnya enggak ku kirim kerumah. Terus
saya ngasih kabar ke Papua, tadinya mau kasih kejutan, eh kaka malah
kaget. Hehe. Tenang aja selama masih ada hempong tak ada penghalang
untuk terus bersama(?). Itu juga kalau ada sinya ye, ckckc"
"Itu
BBM kenapa gak aktif? dirimu lagi bersemedi di pesantren ya? Hahaha.
Tapi thanks udah buat senyum-senyum meskipun cuma lewat hempong. Salam
ya untuk ibuu, kakak-kakakmu, adik dan ponakanmu yang ganteng itu. Aku
tunggu foto wisuda kaka dan sampai jumpa tahun depan(Insyallah).
Bye-bye, Go... Papua."
Senin, 11 Agustus 2014
Mars Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia
HAI KAU PEMUDA DAN PEMUDI
HARAPAN IBU PERTIWI
MARI KITA RAIH PRESTASI
BERSAMA KITA MEMBANGUN NEGERI
JADILAH PENDIDIK YANG BERDEDIKASI
MENGABDI KE PELOSOK NEGERI
MENDIDIKLAH DENGAN SETULUS HATI
AGAR TERCIPTA GENERASI MANDIRI
REFF:
MARI KITA MAJU BERSAMA MENCERDASKAN INDONESIA
MENJADI SARJANA MENDIDIK BANGSA
MENUJULAH YANG TERDEPAN
GAPAI MEREKA YANG TERLUAR
JANGKAULAH MIMPI-MIMPI YANG TERTINGGAL
DEMI TERWUJUDNYA GENERASI EMAS I N D O N E S I A
Minggu, 10 Agustus 2014
"Pinjam ya?"
Aku diam-diam mengambil kunci motor
dan nekat melaju di jalan raya pertama kalinya. Ini demi masa depanku,
hari terakhir pendaftaran SMA yang menjadi harapan terakhirku. Sekolah
itu sekitar 25 km dari rumahku. Aku memarkir motor curian--motor kakak
laki-laki yang tak pernah merestui pendidikanku.
Sepi.
Aku melirik sekitar, hanya ada dua anak yang tidak terlalu
kuperhatikan. Jam tangan biru kesayanganku, menunjukan pukul 11.10 WITA.
Aku menuju ruangan bertuliskan "Tempat pengambilan formulir
pendaftaran". Di balik kaca bening itu seorang perempuan berjilbab dan
bersahaja tersenyum sambil menyodorkan beberapa lembar kertas. Aku
meraih, membalas senyumnya dan mengucapkan terima kasih.
Aku
duduk di salah satu bangku, mencari pulpen, aku mengacak-acak seisi
tasku tapi tak menemukan benda penting itu. Aku menggigit bibirku kesal.
"Berangkat terburu-buru dan pake acara kabur, gak izin. Ini akibatnya!"
celotehku pada diri. Saat aku mengangkat wajah dari fokus tasku,
kusadari sorot mata itu memperhatikanku. Seseorang yang ku duga calon
siswa sepertiku. Aku hanya tersenyum kikuk dan membuang pandangan ke
arah gadis yang sibuk dengan lembaran formulir miliknya. Gadis di bangku
depanku hanya berjarak dua meter.
Aku ingin bertanya pada gadis, apa dia memiliki dua buah pulpen, tak jadi, takut mengganggunya yang sedang serius. Cowok yang tergolong ganteng di sana, sedang bersantai, kuduga selesai mengisi formulir, ia sibuk membaca ulang kertas itu. Dia harapanku satu-satunya setelah aku melirik ke kaca dan perempuan yang kuduga ibu guru itu tak ada di tempat. "Oh, Nurmi beranilah. Kamu cuma butuh kata hai!" bisikku pada diri agar berdiri dan menghampiri.
Langkahku cepat menghampiri. Tanpa basa-basi seperti yang terencana dibenakku, aku langsung duduk di sampingnya.
"Sudah selesai?" Tanyaku to the point. Cowok berkulit bersih dan tidak kurus itu tersenyum tak menjawab. Ia menunjukan kertasnya padaku. Aku tersenyum antara senang dan malu, takut dikira SKSD (sok kenal sok dekat).
"Boleh pinjam pulpennya kan?" Ia belum berkata "iya" atau sekedar mengangguk. Bersamaan dengan terlontarnya pertanyaanku, aku meraih pulpen yang tergenggam longkar di tanganya.
Tak tau malu, aku mengisi cepat formulirku dan menyerahkannya kembali pada panitia pendaftaran. Lalu kembali duduk di samping cowok yang tak beranjak dari tadi.
"Loh? Kamu enggak ngumpul formulirmu?" Tanyaku heran.
"Aku belum tanda tangan." Jawabnya santai dan menunjukan lembar terakhir formulir.
"AHH.... Maaf ya. Aku enggak tau dan asal pinjem pulpen aja. Hehe--" Aku menyodorkan pulpennya yang kugenggam
"Hehe.... Tak apa." Ia menandatangi, aku bisa mendengarkan helaan napasnya yang kurasa ungkapan perasaan legah atau bisa jadi perasaan heran terhadapku yang kere, sudah mau SMA tapi pulpen saja tidak punya. Aku terdiam, merasa malu.
Ia berdiri dan mengumpulkan formulirnya. Aku berdiri dan menuju parkiran. Kurasa ia menoleh saat mendengar suara motorku.
***
"Ma. Aku berangkat ya? sama Tiara. Jadi gak perlu dengerin ocehan kakak dulu. Lagipula masih ngorok tu." Aku mencium tangan Ibuku dan merapikan dasiku mengumpulkan semangat. Hari ini tes masuk SMA.
Ruangan 2. Aku duduk di bangku urutan ke-3 dari depan dan samping kananku dinding. Oh, sulit sekali. Aku hanya bisa menjawab beberapa soal bahasa inggris. "OMG. Masa depanku hancur sudah!" Tak sadar suaraku tergolong keras karena suasana damai ruangan, semua mata seisi ruangan tertuju padaku, beruntung pengawas saat itu sedang keluar sebentar.
Aku cemberut, kembali menatap hampa lembar-lembar soal. Seperti sebelumnya aku merasa pupuslah harapaku menjadi anak SMA jika tidak lulus tes. Waktu tersisa dua puluh menit. Aku merebahkan kepala di atas meja dan pasrah. Tak cukup semenit aku menyerahkan segalanya pada takdir, kursiku bergerak. Aku menoleh pelan-pelan, sebelumnya aku melirik pengawas.
"Ini untukmu! Minta punyamu!"
Lembar soal itu berisi jawaban yang dilingkari dengan pensil. Aku terdiam dan berpaling melihat lembar soalku.
"Tak usah mengisinya! Tukar saja! Cepatlah! Nanti waktunya habis." Bisiknya lagi.
Aku mengawasi situasi, meraih pensilku dan menulis 'Thanks' dan gambar senyum di bagian atas soal, berbalik, dua detik kemudian sibuk mengisi lembar jawaban miliku yang masih banyak kosong.
Bel berbunyi. Siswa-siswa berseragam SMP berhamburan keluar dari lima ruangan tes. Aku mencari-cari cowok itu, tak ada. Hingga sepi dan Tiara memanggilku untuk pulang, aku tak menemukannya. Ini kedua kalinya dia menolongku tapi aku tak tau namanya.
Aku ingin bertanya pada gadis, apa dia memiliki dua buah pulpen, tak jadi, takut mengganggunya yang sedang serius. Cowok yang tergolong ganteng di sana, sedang bersantai, kuduga selesai mengisi formulir, ia sibuk membaca ulang kertas itu. Dia harapanku satu-satunya setelah aku melirik ke kaca dan perempuan yang kuduga ibu guru itu tak ada di tempat. "Oh, Nurmi beranilah. Kamu cuma butuh kata hai!" bisikku pada diri agar berdiri dan menghampiri.
Langkahku cepat menghampiri. Tanpa basa-basi seperti yang terencana dibenakku, aku langsung duduk di sampingnya.
"Sudah selesai?" Tanyaku to the point. Cowok berkulit bersih dan tidak kurus itu tersenyum tak menjawab. Ia menunjukan kertasnya padaku. Aku tersenyum antara senang dan malu, takut dikira SKSD (sok kenal sok dekat).
"Boleh pinjam pulpennya kan?" Ia belum berkata "iya" atau sekedar mengangguk. Bersamaan dengan terlontarnya pertanyaanku, aku meraih pulpen yang tergenggam longkar di tanganya.
Tak tau malu, aku mengisi cepat formulirku dan menyerahkannya kembali pada panitia pendaftaran. Lalu kembali duduk di samping cowok yang tak beranjak dari tadi.
"Loh? Kamu enggak ngumpul formulirmu?" Tanyaku heran.
"Aku belum tanda tangan." Jawabnya santai dan menunjukan lembar terakhir formulir.
"AHH.... Maaf ya. Aku enggak tau dan asal pinjem pulpen aja. Hehe--" Aku menyodorkan pulpennya yang kugenggam
"Hehe.... Tak apa." Ia menandatangi, aku bisa mendengarkan helaan napasnya yang kurasa ungkapan perasaan legah atau bisa jadi perasaan heran terhadapku yang kere, sudah mau SMA tapi pulpen saja tidak punya. Aku terdiam, merasa malu.
Ia berdiri dan mengumpulkan formulirnya. Aku berdiri dan menuju parkiran. Kurasa ia menoleh saat mendengar suara motorku.
***
"Ma. Aku berangkat ya? sama Tiara. Jadi gak perlu dengerin ocehan kakak dulu. Lagipula masih ngorok tu." Aku mencium tangan Ibuku dan merapikan dasiku mengumpulkan semangat. Hari ini tes masuk SMA.
Ruangan 2. Aku duduk di bangku urutan ke-3 dari depan dan samping kananku dinding. Oh, sulit sekali. Aku hanya bisa menjawab beberapa soal bahasa inggris. "OMG. Masa depanku hancur sudah!" Tak sadar suaraku tergolong keras karena suasana damai ruangan, semua mata seisi ruangan tertuju padaku, beruntung pengawas saat itu sedang keluar sebentar.
Aku cemberut, kembali menatap hampa lembar-lembar soal. Seperti sebelumnya aku merasa pupuslah harapaku menjadi anak SMA jika tidak lulus tes. Waktu tersisa dua puluh menit. Aku merebahkan kepala di atas meja dan pasrah. Tak cukup semenit aku menyerahkan segalanya pada takdir, kursiku bergerak. Aku menoleh pelan-pelan, sebelumnya aku melirik pengawas.
"Ini untukmu! Minta punyamu!"
Lembar soal itu berisi jawaban yang dilingkari dengan pensil. Aku terdiam dan berpaling melihat lembar soalku.
"Tak usah mengisinya! Tukar saja! Cepatlah! Nanti waktunya habis." Bisiknya lagi.
Aku mengawasi situasi, meraih pensilku dan menulis 'Thanks' dan gambar senyum di bagian atas soal, berbalik, dua detik kemudian sibuk mengisi lembar jawaban miliku yang masih banyak kosong.
Bel berbunyi. Siswa-siswa berseragam SMP berhamburan keluar dari lima ruangan tes. Aku mencari-cari cowok itu, tak ada. Hingga sepi dan Tiara memanggilku untuk pulang, aku tak menemukannya. Ini kedua kalinya dia menolongku tapi aku tak tau namanya.
***
Sabtu
kemarin pengumuman siswa yang lulus dan perlengkapan apa yang harus
dibawa untuk kegiatan MOS. Hari ini aku kembali bertemu dengannya.
Upacara rutin setiap senin sekaligus penyambutan siswa baru pagi ini,
kami berada di garis barisan yang sama. Sayang kami berbeda kelas MOS.
Pita
merah di rambutku menjadi identitasku sebagai bagian dari kelas Nusa,
sedangkan dia berada di kelas Bangsa. Kelas berdasarkan nilai rengking
tes. Bagaimana bisa dia di bawahku?
Hari terakhir MOS.
Di siang yang terik, semua siswa berbaris rapi dengan properti
masing-masing. Inilah puncak hari sial untukku. Setelah hari pertama
dihukum karena pitaku kurang, entah terjatuh di mana. Hari kedua menjadi
bahan bully karena surat yang kubuat terlalu berani terhadap kakak
tergalak. Hari ini, aku menjadi perserta sasaran untuk dibuat menangis.
"Jadi, apa kalian tau salah kalian? Sudah tau?" suara itu meninggi lagi.
"Kamu? Salahmu apa?"
"Gak
tau kak. Semua yang kakak-kakak tuduhkan salah." Aku membela diri.
Sementara di ruangan isolasi itu kami sedang mencari pembenaran diri, di
luar sana, siswa-siswa yang lain sedang asik memilih coklat dan
memakannya bersama, coklat yang kami berikan beberapa hari ini sebagai
syarat memperoleh tanda tangan.
"Jadi, salah kalian itu..." Gadis berekor kuda itu berteriak.
"Salah kalian wahai ade-adeku yang manis, yaitu... " Gadis lain berkata dengan lembut.
"Siapa
suruh kalian lahir di bulan ini!" Kak Baim tersenyum sumberingah,
merasa tak bersalah. Berbagai kalimat permohonan maaf dan pujian keluar
dari mulut-mulut mereka, senior-senior. Kami kembali bergabung dengan
yang lain. Deretan senior, guru-guru, dan kepala sekolah di hadapan
kami. Ucapan selamat dan nasehat karena kami telah resmi menjadi siswa
SMA begitu menyejukkan perasaan.
***
Letih. Aku
duduk bersandar di bangku depan perpustakaan menunggu menjemput. Mataku
bengkak, dan bajuku begitu kotor. Mataku terpejam, langkah kaki
terdengar mendekat.
"Hallo, kenalkan. Namaku Hendra." Aku membuka mata pelan. Sebuah tangan terulur menanti dijabat. Aku tersenyum senang.
"Hallo, Hendra. Aku Nurmi. Senang berkenalan denganmu."
"Semoga kita sekelas ya."
"Semoga. Mahendra N R."
"Hei, bagaimana kau tau nama asliku."
"Dari bet nama abstrak yang setia menemani kita tiga hari. Haha..." Kami tertawa bersama.
----
---Harus kisah anak SMA.
---Maksimal 1000 kata
Kamis, 24 Juli 2014
Kadang Hidup Terasa Perih
Dalam Hidup - 2324072014
"Dalam
hidup.... Bahkan ketika kamu telah memberikan yang terbaik, akan ada
orang yang tak menghargaimu. Itu masalah mereka, bukan masalahmu...."
Thanks
banget, kalimat itu pas untuk membuatku menyesal atas air mata yang
kusia-siakan karena orang-orang itu tadi. Orang-orang yang selalu merasa
paling benar, hebat, dan haus akan penghargaan namun mereka sendiri tak
mencerminkan hal itu pada dirinya.
Ah,
aku hanya lelah. Letih mengadapi mereka, lagipula aku tak mengira
apalagi menghendaki hal kemarin dan hari ini terjadi. Ya Allah maafkan
hamba yang ikut terpancing atas sikap mereka yang berlebihan
merendahkanku.
Aku
lalai dalam bersabar, letih dan keadaan membuatku melemah, desakan
membangkitkan jiwa membangkang dalam diriku, aku bersikeras atas sikap
keras mereka padaku, kemudian sikap mereka semakin menekanku hingga air
mata ini tak tertahan.
Kala
itu ada kesedihan yang mendalam dalam diriku. Pernyataan besar
dibenakku, benarkah sepenuhnya aku yang salah hingga mereka seperti itu?
Aku tertunduk mengusap air mata dengan ujung jilbabku, dikelilingi mereka membuatku tak bisa berkata apa-apa. Aku bungkam. Yah, meskipun telingahku memanas, sekuat hati ku kunci mulutku rapat-rapat.
Suara-suara keras yang menghantamku, seolah membantingku ke dinding kian menjadi-jadi. Aku terisak, seseorang mendekat dan mengusap bahuku lembut. Tapi taukah bahwa mulutnya tiada hentinya mengucapkan kata-kata yang menusuk hati. Pendengaranku mulai tak fokus, penglihatanku semakin buran bahkan tak mampu melihat ujung sepatuku dengan jelas.
Aku tertunduk mengusap air mata dengan ujung jilbabku, dikelilingi mereka membuatku tak bisa berkata apa-apa. Aku bungkam. Yah, meskipun telingahku memanas, sekuat hati ku kunci mulutku rapat-rapat.
Suara-suara keras yang menghantamku, seolah membantingku ke dinding kian menjadi-jadi. Aku terisak, seseorang mendekat dan mengusap bahuku lembut. Tapi taukah bahwa mulutnya tiada hentinya mengucapkan kata-kata yang menusuk hati. Pendengaranku mulai tak fokus, penglihatanku semakin buran bahkan tak mampu melihat ujung sepatuku dengan jelas.
Kala itu, aku tiba-tiba saja mengingat pesan yang pernah kau kirimkan dulu. Nasehat sederhana namun bermakna luar biasa.
"Jika semua yang kita inginkan harus kita miliki, lantas darimana kita belajar ikhlasJika semua mau kita terpenuhi, darimana kita bisa belajar sabar?Jika kita berdoa harus langsung dikabulkan, bagaimana kita memaksimalkan ikhtiar?Jika kehidupan ini selalu bahagia, dari mana kita bisa mengenal Allah SWT lebih dekatSegala keentuanNya adalah yang terbaik... karena yang terbaik InsyAllah menjadi indah....De? Jangan hiraukan penilaian orang dan jangan juga mencari pembenaran diri karena hanya Allah yang tahu segalanya.... "
Kemudian
aku mengkat kepalaku dan mengusap lagi air mataku dengan ujung
jilbaban. Taukah? hanya satu kata yang mampu kuucapkan dengan kebesaran
hati saat itu. "Ma-aa-af" kataku lalu kembali terdiam, diam adalah
satu-satunya cara membebaskan diri dari mereka yang sesunggunya tidak
kusukai, sempat kuhumpat, namun saat itu saja, dari hati kecilku aku tak
membeci mereka. Aku sadar, jika memang bukan sepenuhnya salahku, tetap
saja kejadi ini juga atas salahku.
#Ini pembelajaran diri agar tetap sabar dalam segala hal, jangan mudah terpancing.
Lalu
peringatan untuk mulai belajar mengubah suaraku. Tidak hanya bersyukur
karena di karunia suara keras dan jelas yang sangat berguna dalam
situasi penting, tapi berusaha untuk memahami bahwa tak semua orang
mengerti dan menerima keadaan orang lain dengan apa adanya.
#AHHHH....
sudahlah, semoga kejadian tadi di kantor itu menjadi pembelajaran
masing-masing. Lagi pula ini bulan puasa, bentar lagi lebaran. Ya Allah ampuni kami....
True Story By : Mie Nurmie
Langganan:
Komentar (Atom)
































