Ceritaku Hari Ini...
Salah
satu petugas itu awalnya kukira peserta karena duduk di salah satu meja
peserta tepat di hadapanku, sekilas ia seumuran dengan kami, lalu aku
menyadari mungkin saja umurnya masih sekitar 19 atau 20 tahun, tergolong
mahasiswa baru terlihat dari wajahnya yang masih begitu mudah, Haha--lupakan soal itu karena aku tidak tau kenyataanya selain bahwa dia panitian.
Jalan
menyisahkan sisa-sisa air dari hujan semalam. Satu per satu kendaraan
roda dua berbelok menuju gedung Rektorat suatu kampus, gedung bagian
belakang yang tergolong baru.
Terdengar beberapa mantan mahasiswa bertanya sebelum melintasi pintu lantai pertama.
"Apa
benar di tempat ini akan diadakan tes online...." Begitu kira-kira
pertanyaan yeng terlontar untuk memastikan, setelah mendapat jawaban
atau anggukan, peserta harus berjalan menaiki tangga hingga lantai empat
yang dimaksud. Disayangkan fasilitas lift di gedung itu tidak bisa
digunakan--mungkin rusak.
Aku
salah satu dari mereka yang menjadi peserta hari ini, bukan hanya di
kota ini, tepatnya di kampus UNMUL. Namun, di beberapa daerah dan
perguruan tinggi lain di seluruh negeri ini, hari ini akan menguji
kemampuan kami, akan menentukan siapakah yang berhak untuk menjadi
pasukan pendidik di daerah pelosok untuk membantu mencerdaskan anak
bangsa ini.
....
Aku dengan napas sedikit tak berarturan karena faktor berpuasa dan anak
tangga yang cukup banyak ikut mengantri untuk falidasi berkas dan
memperoleh kode falidasi.
Dari
jarak beberapa meter, seorang pimpinan yang bertanggung jawab untuk
wilayah Kalimantan Timur tersenyum padaku. Yah! aku mengenalinya sejak
pertama kali dulu menjadi mahasiswa pendidikan Fisika di kampus ini.
Giliranku setelah gadis berkerudung merah jambu yang membuatnya semakin manis dengan senyum khasnya berdiri.
"Nurmiati."
Dengan jelas beliau menyebut namaku tampa membaca lembar-lembar
persyaratan falidasi, lalu seseorang di sampingnya membacakan yang
daftar identitas untuk falidasi seperti tanggal bulan tahun lahir, ipk,
umur per Desember tahun ini, dll. Sampil memperhatikan layar leptopnya
beliau sempat bertanya seperti ini, "Kamu kok tiddak pernah natang
Nurmi? Tidak pernah kelihatan?". Aku tersenyum sebelum menjawab dan
tetap fokus menandatangani apsensi peserta. Beberapa detik kemudian baru
manjawab dengan volume suara diusahan sekecil mungkin namun masih mampu
terdengar, sungguh tak lucu jika suara cemprengku terlontar begitu saja
dan membuat seluruh isi ruangan mendengar.
"Sering
pak, beberapa kali saat mengambil ijasah dan transkip serta
legalisirnya, tapi hanya dua atau tiga hari saja. Setelah lulus kemarin
itu saya langsung pulang kampung."
....Kami
yang sudah difalidasi boleh memasuki ruangan tes, duduk berdasarkan
nomor urut absensi, namun belum diperbolehkan untuk mengerjakan soal.
Selain waktu yang belum menunjukan pukul 8:00, di dalam ruangan ini
masih ada dua petugas yang sibuk menginstal program di setiap komputer
untuk di konekkan ke pusatnya (Dikti).
Aku
duduk di deretan meja terakhir. Di sebelah kiriku yang dibatasi satu
langkah terdapat seorang pemuda berkemeja biru laut kotak-kotak, postur
tubuhnya tinggi dan sekilas sepertinya dia pintar. Di meja kananku
seharusnya ada seorang gadis yang tadi sempat mengobrol denganku, namun
karena komputer miliknya CPUnya rusak dan tanpa mouse lalu ada sekitar
lima orang yang tak hadir dalam tes online sesi satu ini, gadis berambut
lurus itu di pindahkan ke komputer di mana ia inginkan.
Sebelum
tes benar-benar dimulai. Beliau memasuki ruangan dan mensimulasikan
prosedur tes, sekitar 5 menit atau mungkin 7 menit, aku tak
menghitungnya, yang kuingat saat beberapa mata tertuju padaku saat
belaiu bertanya, "Ada yang tidak dipahamai?" tanya beliau kesemua
peserta, "Ada yang ingin di tanyakan Nurmiati?" Beliau menatapku dengan
wajah datar, aku harap ini hanya untuk peralihan fokusku dari obrolan
dengan salah satu petugas yang berdiri beberapa cm di belakangku bagian
kanan. 'Tidak ada pak. Paham." Jawabku yakin dan melebarkan senyum lalu
tertunduk memperhatikan layar komputerku.
...Dan
kami dipersilahkan loading untuk mengikuti tes. Yang harus di isi yaitu
username yang berupa angka (masing2 memperolehnya saat mendaftar
online) kemudian pasword, lalu kode falidasi yang kami peroleh tadi
pagi, yang terakhir kode keamanan yang tertera di layar komputer.
Suasana
ruangan mulai hening, menit-menit berikutnya mulai tegang dan serius.
Sesekali aku menatap kedepan atau sekedar melirik pemuda di sebelahku
tadi. Tes pertama sebanyak 50 soal, berikutnya 30 soal, dan yang
terakhir berdasarkan prodi masing-masing. Khusus Fisika (jurusan saya)
soal terdiri dari 40 Soal untuk waktu 90 menit.
Pelaksanaan
sudah berlangsung kira-kira 30 menit, aku baru saja menjawab soal ke 33
dari 50 soal. Waktu yang kumilik untuk tahap satu ini tersisa 14 menit
beberapa detik.
"AHHH...."
Teriak seisi ruangan reflek karena kecewa. Komputer kami mati, seluruh
ruangan lebih gelap, hanya lebih banyak cahaya dari dinding kaca yang
kordennya sengaja di buka tadi pagi. Panitia menghidupkan mesin
cadangan. Sekitar 10 menit kami kembali mengetikkan seluruh prosedur
untuk loading kembali.
"OH,
NO." Pemuda di sampingku berseru kesal. "Pak. Bagaimana ini waktu kami
habis?" Tanya peserta lain yang duduk beberapa bangku di depannya. Aku
masih penasaran bercampur tidak sabaran karena komputerku loading
terlalu lama.
"AH, waktuku sisa dua menit." Aku ikut melontarkan kalimat kecewa dengan sedikit menahan volumenya.
"KELUARKAN
DULU. SAYA COBA HUBUNGIN PUSATNYA TERLEBIH DULU." Beliau mencoba
menenangkan kami yang mulai risau. Terlebih beberapa peserta masih
meraguan jawaban mereka dan sebagian lain ada yang menjawab di bawah 20
soal. Beliau menekan tombol panggil.
Cukup
lama kami menunggu dan berbagai hal yang terpikirkan oleh kami
masing-masing. Pernah sekali Beliau menyuruh seorang peserta membacakan
pesan yang ia terima agak kami tetap sabar menunggu.
Kami
bisa melanjutkan mengerjakan soal dengan toleransi waktu 12 menit.
Setidaknya aku tersenyum dan menjawab tanggapan pemuda di sambingku.
"Yah. Ini lebih baik dari pada tidak sama sekali." Dia hanya tersenyum
dan kembali terpaku dan serius mengerjakan soal.
Dan
sisa beberapa soal lagi. Soal yang aku pilih tidak bisa di klik. Ku
dengar beberapa yang lain mengalami hal yang sama. "OH MY GOD, PLEASE."
Waktu
yang tertera bebeapa detik lagi ketika aku ingin mengetik ke selesai.
"AH, ERROR." Tertutup kembali dan aku harus loading kembali. Ketika aku
ingin mengerjakan soal tahap berikutnya ternyata tidak bisa. Hanya
beberapa peserta yang sempat mengklik selesai sehingga mereka bisa
melanjutkan. Sedangkan kami yang belum? Tidak bisa apa-apa selain
menunggu lagi bagaimana keputusan dan hasilnya nanti. Berkali-kali
hingga puluhan kali mungkin, kami loading dan tetap yang tertulis saat
mengklik pilihan tahap awal. "Waktu ada telah habis...." dan saat
mengklik tahap berikutnya, " Maaf ada belum menyelesaikan soal ...."
Ketika
yang bisa melanjutkan sudah ke tahap tiga kami masih menunggu. Menunggu
hal yang belum pasti. Sangat lama kami menunggu, jika jadwal jam 11.30
harusnya tes ini sudah berakhir namun kami yang tertinggal karena error
baru saja memulai mengerjakan soal tahap kedua yang diberi waktu selama
45 menit, dan soal tahap ketiga yang diberikan waktu 90 menit.
Soal
tahap kedua sebagian berbahasa inggris. Dari 30 soal aku menyisahkan 3
Soal. Tahap akhir yang terdiri dari 40 soal Fisika aku menyisahkan 2
soal. Di awal Beliau sudah mengingatkan bahwa salah menjawab nilai -1
dan benar nilai 4.
Waktu
jam dinding sudah menunjukan pukul 13. 32 dan di rungan tes sisa lima
orang termaksud aku. Lama berpikir dan tetap tidak menemukan ilham untuk
menjawab atau sekedar mengarang jawaban, aku memutuskan keluar lima
menit sebelum pukul dua siang.
----
Saat
kami menunggu lama, aku dan pemuda di sampingku berbicara banyak hal.
Berawal dari Dia yang berceletuk "Ngapain belajar rumus lagi?" Senyumnya
sedikit meledek bagiku, aku membalasnya dengan senyum yang sengaja
kubuat santai. Aku bosan belajar kemudian beralih ke Facebook dan
Twitter. Dia melirik layar komputerku lagi lalu bergumam "Update status
dulu." yang di tanggapi dengan pertanyaan oleh pemuda di depannya "Bisa
buka internet?"
"Tu
dia buka." Jawabnya menoleh padaku, aku tersenyum memperlihatkan gigi
dan menjawab dengan anggukkan saat menyadari pemuda yang bertanya
menatapku.
"Iya bisa. di Ruangan ini ada yang main game kok." Ucapku tanpa menoleh namun menyindir pemuda di sampingku.
...Setelah
hal itu kami saling menanggapi keluhan dan membahas hal lain seperti
piala dunia karena dia bermain game bola. Sesekali percakapan kami di
tanggapi dua pemuda di depannya dan gadis berjilbab besar di hadapku,
saat membahas permasalahan error ini terjadi kemudian saling memotifasi
atau menghibur diri agar tetap sabar serta berdoa hasilnya nanti kami
lolos.
----
Begitulah proses tes online untuk mengikuti program SM3T angkatan IV yang ku ikuti.
