Sungguh
luar biasa perasaan manusia satu itu, aku tersenyum sendiri
memikirkannya. Terkadang begitu sulit dimengerti namun kadang begitu
mudah. Tak disangka-sangka perasaan tulusnya namun tak terduga
kebenciannya. Bencinya padaku yang tak pernah membiarkanya rela
meninggalkanku. Tak pernah diharapkan kesedihanya. , tetap selalu ada
senyum manis menghiasi akhir badai hidupnya. Aku iri akan ketegaran dan
kekokohannya.
Mengejar
tanpa henti, berlari tak tertahan, kemudian seenaknya melangkah mundur,
muncul sesekali memperjelas gambar yang mulai pudar, Lalu pergi dalam
diam. Membuatku benci hari-hari sepi tanpa hadirnya. Saat aku murka dan
memaki dalam lamunanku, seperti angin sejuk ia datang tersenyum begitu
manis. Aku terpaku mmebungkam, antara marah dan terharu...
