Dalam Hidup - 2324072014
"Dalam
hidup.... Bahkan ketika kamu telah memberikan yang terbaik, akan ada
orang yang tak menghargaimu. Itu masalah mereka, bukan masalahmu...."
Thanks
banget, kalimat itu pas untuk membuatku menyesal atas air mata yang
kusia-siakan karena orang-orang itu tadi. Orang-orang yang selalu merasa
paling benar, hebat, dan haus akan penghargaan namun mereka sendiri tak
mencerminkan hal itu pada dirinya.
Ah,
aku hanya lelah. Letih mengadapi mereka, lagipula aku tak mengira
apalagi menghendaki hal kemarin dan hari ini terjadi. Ya Allah maafkan
hamba yang ikut terpancing atas sikap mereka yang berlebihan
merendahkanku.
Aku
lalai dalam bersabar, letih dan keadaan membuatku melemah, desakan
membangkitkan jiwa membangkang dalam diriku, aku bersikeras atas sikap
keras mereka padaku, kemudian sikap mereka semakin menekanku hingga air
mata ini tak tertahan.
Kala
itu ada kesedihan yang mendalam dalam diriku. Pernyataan besar
dibenakku, benarkah sepenuhnya aku yang salah hingga mereka seperti itu?
Aku tertunduk mengusap air mata dengan ujung jilbabku, dikelilingi mereka membuatku tak bisa berkata apa-apa. Aku bungkam. Yah, meskipun telingahku memanas, sekuat hati ku kunci mulutku rapat-rapat.
Suara-suara keras yang menghantamku, seolah membantingku ke dinding kian menjadi-jadi. Aku terisak, seseorang mendekat dan mengusap bahuku lembut. Tapi taukah bahwa mulutnya tiada hentinya mengucapkan kata-kata yang menusuk hati. Pendengaranku mulai tak fokus, penglihatanku semakin buran bahkan tak mampu melihat ujung sepatuku dengan jelas.
Aku tertunduk mengusap air mata dengan ujung jilbabku, dikelilingi mereka membuatku tak bisa berkata apa-apa. Aku bungkam. Yah, meskipun telingahku memanas, sekuat hati ku kunci mulutku rapat-rapat.
Suara-suara keras yang menghantamku, seolah membantingku ke dinding kian menjadi-jadi. Aku terisak, seseorang mendekat dan mengusap bahuku lembut. Tapi taukah bahwa mulutnya tiada hentinya mengucapkan kata-kata yang menusuk hati. Pendengaranku mulai tak fokus, penglihatanku semakin buran bahkan tak mampu melihat ujung sepatuku dengan jelas.
Kala itu, aku tiba-tiba saja mengingat pesan yang pernah kau kirimkan dulu. Nasehat sederhana namun bermakna luar biasa.
"Jika semua yang kita inginkan harus kita miliki, lantas darimana kita belajar ikhlasJika semua mau kita terpenuhi, darimana kita bisa belajar sabar?Jika kita berdoa harus langsung dikabulkan, bagaimana kita memaksimalkan ikhtiar?Jika kehidupan ini selalu bahagia, dari mana kita bisa mengenal Allah SWT lebih dekatSegala keentuanNya adalah yang terbaik... karena yang terbaik InsyAllah menjadi indah....De? Jangan hiraukan penilaian orang dan jangan juga mencari pembenaran diri karena hanya Allah yang tahu segalanya.... "
Kemudian
aku mengkat kepalaku dan mengusap lagi air mataku dengan ujung
jilbaban. Taukah? hanya satu kata yang mampu kuucapkan dengan kebesaran
hati saat itu. "Ma-aa-af" kataku lalu kembali terdiam, diam adalah
satu-satunya cara membebaskan diri dari mereka yang sesunggunya tidak
kusukai, sempat kuhumpat, namun saat itu saja, dari hati kecilku aku tak
membeci mereka. Aku sadar, jika memang bukan sepenuhnya salahku, tetap
saja kejadi ini juga atas salahku.
#Ini pembelajaran diri agar tetap sabar dalam segala hal, jangan mudah terpancing.
Lalu
peringatan untuk mulai belajar mengubah suaraku. Tidak hanya bersyukur
karena di karunia suara keras dan jelas yang sangat berguna dalam
situasi penting, tapi berusaha untuk memahami bahwa tak semua orang
mengerti dan menerima keadaan orang lain dengan apa adanya.
#AHHHH....
sudahlah, semoga kejadian tadi di kantor itu menjadi pembelajaran
masing-masing. Lagi pula ini bulan puasa, bentar lagi lebaran. Ya Allah ampuni kami....
True Story By : Mie Nurmie

