Kamis, 10 Juli 2014

Perjuangan sia-sia namun bukan akhir


 



Pagi yang cerah untuk memulai aktifitas. Tepat pukul 7 pagi adikku, Nurhatija. Ia mengantar adikku Aini yang masih mengikuti MOS di SMP 06 Long Kali bersamaan dengan adikku Lia yang masih mengikuti pesantren ramadhan di SDN 019 Long Kali.  

"Aku tunggu di luar aja ya. males bolak-balik lagi." Ucapnya setelah berpamitan dengan ayah-ibu dan adikku yang masih kecil. Rumah kami memang berjarak kurang lebih 200 meter dari jalan yang biasa digunakan masyarakat. Rumah (pondok) kami menyendiri, mungkin alasan ayah dulu membuat ini setelah rumah kami kebakaran yaitu; lebih mudah memelihara ternak ayam misalnya dan lebih mudah merawat kebun yang dekat.

"Iya. Jangan lupa helm dan kunci motor tu." Ucapku sambil memasang jilbab lalu kaos kaki.

Beberapa menit kemudian akupun berpamitan untuk pergi menuju kabupaten. Bismillah.... Dengan langkah kaki pasti aku meninggalkan rumah, dengan adikku yang siap menjadi teman setia, kami berangkat sambil berharap urusku hari ini lancar dan beres.

Sesekali aku melirik jam yang tertera di layar ponsel. Tepat pukul 7.45 kami mampir ke puskesmas kecematan (Long Kali), saya menjadi pengunjung terpagi, loket pendaftaran belum buku. Saya bertanya banyak kepada petugas di sana, katanya pukul 9 lah baru dokter akan datang, dan saya boleh mendaftar terlebih dahulu.

Menunggu. Menunggu. Seorang perawat menghampiri dan mengiringku melakukan pemeriksaan. Seperti berat badan, tinggi, tensi darah, dll untuk prosedur pembuatan surat kesehatan. Menunggu lagi. Oia, hari ini di puskesmas ini akan di adakan pemeriksaan calon jamaah haji. Semakin lama pengunjung semakin banyak.

---Dokter datang dan giliran saya memasuki ruangan. Dokter muda itu menatap selembar kertas dan bertanya beberapa pertanyaan pada saya. Kemudia ia menandatanganinya.

"Nurmiati?"
"Iya dok."
"Untuk beasiswa ya?"
"Iya dok."
"Beasiswa cemerlang itu ya? semester berapa?"
"Bukan dok. Saya sudah lulus S1 dok. Ini untuk tes wawancara beasiswa sertifikasi guru yang sebelumnya harus mengapdi di daerah dok." Sang dokter hanya tersenyum mendengar kemudia bertanya hal lain.
"Tadi sudah bayar di loket?"
"Iya dok."
"Ini saya tanda tanganin tapi nanti minta uangnya kembali ya, ini gratis sebelum ada keputusan.... (bla bla bla)" sang dokter menjelaskan. Saya hanya mengangguk. Kebetulan suster yang memeriksaku tadi ada di ruangan itu.

Saya keluar ruangan menuju depan loket namun banyak para orang tua calon haji sedang mengantri, aku tahan untuk bertanya mengenai perintah dokter tadi. Aku berdiri kembali ke depan ruangan dokter namun tertutup karena sedang ada pemeriksaan. Kembali ke depan loket dan duduk di bangku bersebelahan dengan adikku.

Aku mulai risau. Perawat tadi muncul dan membicaran masalah hal saya (gratis--kata dokter). Terjadi perdebatan beberapa petugas di sana hingga aku hanya dia di tempat sambil memasang wajah muram dan menghela nafas panjang. Adikku mungkin lebih tenang dariku tapi aku tau ia mulai gelisah karena cuaca di luar mulai tak bersahabat rintik kecil mulai turun.

Aku menatap perawat tersebut yang kemudia ia menghilang dan sibuk lagi kesana kemari.

"Mba. Suratnya sudah kan tadi?"
"Belum. Kan diberikan ke perawat tadi." Dugaku
"Sebentar ya mba." Kata petugas yang menerima pembayaranku tadi pagi.
"Mba. Tunggu sebentar ya. Nanti di berikan oleh dokternya langsung." Ucap perawat muda itu.
"Iya." Jawabku dengan pelan lalu berjalan menuju ruangan sang dokter yang kini sudah terbuka kembali. Aku masuk.

"Sudah ambil uangnya?"
"Belum."
"Ambil dulu. Saya tidak akan berikan suratnya jika belum diminta." dengan tegas dokter itu menyuruhku. Aku kembali berjalan menuju loket.

"Mas. Dokternya tidak mau tanda tanga jika uangnya belum di ambil." ucapku mendesak, terdengar celetukkan tak enak dari dua orang tentang si dokter, aku justru tersenyum tipis.

"Iya. Sebentar ya mba. Biasanya kan banyar. Masnya juga lagia ada kerjaan tadi." Jawab seorang yang dari tadi sibuk dengan buku-buku besar di depannya.

Aku kembali duduk. Wajah adikku semakin tidak sabaran karena gerimis di luar sana semakin banyak dan di sertai angin.

"Mba. Ini uangnya."
"Iya, mas. Maaf karena dokternya tidak mau tanda tangan sih. Maaf merepotkan." Aku berjalan ke ruangan dokter kembali.
"Sudah di ambil?"
"Sudah dok."

Bla bla bla, sang dokter  menjelaskan mengapa ia bersikap seperti tadi. Aku mengucapkan terima kasih dan menuju parkiran. Namun hujan semakin deras. Sepuluh menit menunggu dan berdiskusi, hujan luamayan redah. Aku dan adikku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karena polsek kecematan tak jauh lagi. Beberapa bapak-bapak mencegah kami, menjelaskan bahwa keperluan kami tidak sangat penting.

Tija memarkir motor kami depat di bawah pohon di depan kantor, aku melepas helm begitupula dia. Dengan keadaan yang sedikit basah, kami melangkahkan masuk. Seorang pak polisi mempersilahkan duduk dan menanyakan tujuan kami.

Keperluan kami sudah selesai dengan bapak-bapak polisi itu namun hujan di luar sana kembali deras dan membuat jalanan semakin licin. Cukup lama kami berbincang-bincang dengan mereka di sana. Dari percakapan kami, ku simpulkan mereka orang-orang yang humoris dan asik di ajak berbicara banyak hal.

Terlalu lama menunggu. Tija mengajakku melanjutkan perjalanan. Dan benar perkiraannya, hujan tak merata sebagian jalanan kering, namun hujan seolah mengikuti kami, rintik-rintik mulai terasa lagi, kering, dan rintik lagi, hingga kami sampai Grogot.

Sampai di sana kami menuju fhotocopyan lalu ke sana kemari untuk mencari pencetakan foto. Oh Tuhan. Hujan gerimis kini berganti rintik besar. Saat menemukannya, ternyata mati lampu. Oh TIDAK.

Kami menuju kantor kepoliasian yang berada di seberang jalan. Bayangkan saat kau memasuki kantor kepolisian kabupaten namun begitu sepi. Hanya satu orang di pos penjaga sedang tertidur. Aku berjalan semakin kedalam, dan sama. Sepi. Ruangan-ruangan di sekitar kami tertutup. Aku memperhatikan sekeliling. Di ujung sana ada tiga pak polisi sedang duduk di kursi dan dengan santainya berbicara bergantian entah apa yang mereka diskusikan. Aku berjalan menuju mereka. Tak menegur/menyapa, begitu juga dengan mereka.

Aku melewati mereka dan memastika ruangan beberapa langkah di belakang sana tertutup juga. Ah, pupus sudah harapanku. Pintu itu tergembok, gordennya tertutup rapi. Aku kembali dan memberanikan untuk bertanya pada para bapak-bapak itu.

"Pak. Hari ini libur ya?"
"Enggak libur de tapi lagi tidak ada yang di kantor."
"Jadi gak bisa buat SKCK ya?"
"Ruanganya ada orang enggak?"
"Gordennya tertutup pak?"
"Berarti gak bisa de."
"Besok bisa enggak?"
"Nah, itu kami tidak tau, ...."
"Tapi pak saya sangat butuh dan sudah jauh-jauh ke sini."
"Memangnya dari mana? ya mau bagaimana ...."

Ocehan salah seorang diantara mereka membuatku hanya terdiam dengan wajah masam. Bersabar jalan satu-satunya, terlebih saya dan adikku sedang berpuasa. Lelah, aku tak ingin lagi meneruskan percakapan yang 100% yakin tak akan mendapatan hasil apa-apa malah akan menambah emosiku.

"Baiklah pak." Ucapku berlalu pergi.
"Terima kasih pak." Ucap adikku dan mengekor di belakangku.

Hujan deras mengguyur seluruh tanaman, atap-atap rumah dan bahkan kini sebagain jalan-jalan terendam dan membuatmu basah tak terhindar jika nekat menelusuri jalan lagi.

Sangat lama bagiku menunggu tak jelas di sana. Pak polisi yang tertidur tadi sudah bagung dan sedang mengotak atik ponselnya dengan mata sembab serta wajah yang tidak enak dipandang. Aku sempat berbicara padanya sebelum ia tertidur kembali di kursi panjang yang ia duduki. Ku lirik polisi lain di dalam ruangan yang berdinding kaca. Ya ampun, komputernya menyalah, rupanya dia sedangan membuka facebook. Ha ha ha, aku tersenyum kecut terlebih saat seorang lain ku ketahui sedang asik BBMan.

"Mi. Beli jas hujan yoo?"
"Ayolah. Baru kita pulang, nanti kita kemalaman lagi."

Kami pergi dari kantor yang sepi itu. Memilih jas hujan, membelinya, lalu kembali ke rumah. Setengah jalan hujan menemani. Untuk urusan lain kami mampir ke klinik (di Kec Long Ikis, depan SMA). Membuat surat bebas narkoba. Kami harus menunggu, ini keputusan adikku. Sejam sudah seperti yang dijanjikan petugas, katanya dokter akan datang. Tapi nyatanya hingga sejam lebih 30 menit belum juga ada. Aku mendesak lagi, hasil tesku terpaksa si mbak bertailalat itu membawanya kerumah sang dokter.

Rp. 125.000,- melayang dari kantong + 2 jam waktu menunggu. Setelahnya kami melaju lagi. Selalu Tija yang memngemudi motor, katanya sih biar aku tidak letih dan sanggup untuk menuju samarinda besoknya, karena Sabtu 12 Juli 2014 akan menjadi peserta wawancara peserta SM3T.

"Ingat bensin." kataku mengingatkan.

"AH. Iya, sudah sedikit." Ia menepikan motor. Sementara aku sibuk mengurusi masalah bensi. Ia sibuk memilih kue yang ia inginkan. Kami membeli satu untuk persiapan berbuka puasa. Dan benar saja, kami berbuka di jalan yang kiri kanannya tak ada warung makan atau yang lainnya, hanya rumah yang berjarak berjauhan. Ketika mendengar azhan. Kembali motor kami menepi, kami berbuka dengan kue yang kami beli. Karena hanya tersisa sekirat 5 kilo meter menuju Babulu Darat, kami kembali duduk manis di atas motor metic yang ku beli dua tahun lalu (--untuk PPL).

----
Tidak kurang dari 200 km hari ini kami lalui. Pelajaran yang di petik yaitu, kesabaran dan kebesaran hati.

Jika biasanya aku yang berceletuk " Segala sesuatu ada makna, maksud dan tujuannya. Ambil hikmahnya saja."

Kali ini adikkulah yang menyuapiku dengan kalimat yang sama.

--Baiklah, kali ini perjuangan kami sia-sia, syukurnya pihak yang memberikan syarat menyertakan SKCK itu bersedia jika nanti SKCKnya menyusul. Thanks God. Atas segalanya hari ini. Semoga hari esok akan lebih baik dan lebih banyak senyum. Amiin. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam kenal. Semoga bermanfaat. Thanks atas kunjungan dan komentarnya.