Senin, 23 Juni 2014

Error Saat Tes

Ceritaku Hari Ini...
Jalan menyisahkan sisa-sisa air dari hujan semalam. Satu per satu kendaraan roda dua berbelok menuju gedung Rektorat suatu kampus, gedung bagian belakang yang tergolong baru.


Terdengar beberapa mantan mahasiswa bertanya sebelum melintasi pintu lantai pertama. 
"Apa benar di tempat ini akan diadakan tes online...." Begitu kira-kira pertanyaan yeng terlontar untuk memastikan, setelah mendapat jawaban atau anggukan, peserta harus berjalan menaiki tangga hingga lantai empat yang dimaksud. Disayangkan fasilitas lift di gedung itu tidak bisa digunakan--mungkin rusak.

Aku salah satu dari mereka yang menjadi peserta hari ini, bukan hanya di kota ini, tepatnya di kampus UNMUL. Namun, di beberapa daerah dan perguruan tinggi lain di seluruh negeri ini, hari ini akan menguji kemampuan kami, akan menentukan siapakah yang berhak untuk menjadi pasukan pendidik di daerah pelosok untuk membantu mencerdaskan anak bangsa ini.

.... Aku dengan napas sedikit tak berarturan karena faktor berpuasa dan anak tangga yang cukup banyak ikut mengantri untuk falidasi berkas dan memperoleh kode falidasi.

Dari jarak beberapa meter, seorang pimpinan yang bertanggung jawab untuk wilayah Kalimantan Timur tersenyum padaku. Yah! aku mengenalinya sejak pertama kali dulu menjadi mahasiswa pendidikan Fisika di kampus ini. 

Giliranku setelah gadis berkerudung merah jambu yang membuatnya semakin manis dengan senyum khasnya berdiri.
"Nurmiati." Dengan jelas beliau menyebut namaku tampa membaca lembar-lembar persyaratan falidasi, lalu seseorang di sampingnya membacakan yang daftar identitas untuk falidasi seperti tanggal bulan tahun lahir, ipk, umur per Desember tahun ini, dll. Sampil memperhatikan layar leptopnya beliau sempat bertanya seperti ini, "Kamu kok tiddak pernah natang Nurmi? Tidak pernah kelihatan?". Aku tersenyum sebelum menjawab dan tetap fokus menandatangani apsensi peserta. Beberapa detik kemudian baru manjawab dengan volume suara diusahan sekecil mungkin namun masih mampu terdengar, sungguh tak lucu jika suara cemprengku terlontar begitu saja dan membuat seluruh isi ruangan mendengar.

"Sering pak, beberapa kali saat mengambil ijasah dan transkip serta legalisirnya, tapi hanya dua atau tiga hari saja. Setelah lulus kemarin itu saya langsung pulang kampung."

....Kami yang sudah difalidasi boleh memasuki ruangan tes, duduk berdasarkan nomor urut absensi, namun belum diperbolehkan untuk mengerjakan soal. Selain waktu yang belum menunjukan pukul 8:00, di dalam ruangan ini masih ada dua petugas yang sibuk menginstal program di setiap komputer untuk di konekkan ke pusatnya (Dikti).

Salah satu petugas itu awalnya kukira peserta karena duduk di salah satu meja peserta tepat di hadapanku, sekilas ia seumuran dengan kami, lalu aku menyadari mungkin saja umurnya masih sekitar 19 atau 20 tahun, tergolong mahasiswa baru terlihat dari wajahnya yang masih begitu mudah, Haha--lupakan soal itu karena aku tidak tau kenyataanya selain bahwa dia panitian.

Aku duduk di deretan meja terakhir. Di sebelah kiriku yang dibatasi satu langkah terdapat seorang pemuda berkemeja biru laut kotak-kotak, postur tubuhnya tinggi dan sekilas sepertinya dia pintar. Di meja kananku seharusnya ada seorang gadis yang tadi sempat mengobrol denganku, namun karena komputer miliknya CPUnya rusak dan tanpa mouse lalu ada sekitar lima orang yang tak hadir dalam tes online sesi satu ini, gadis berambut lurus itu di pindahkan ke komputer di mana ia inginkan.

Sebelum tes benar-benar dimulai. Beliau memasuki ruangan dan mensimulasikan prosedur tes, sekitar 5 menit atau mungkin 7 menit, aku tak menghitungnya, yang kuingat saat beberapa mata tertuju padaku saat belaiu bertanya, "Ada yang tidak dipahamai?" tanya beliau kesemua peserta, "Ada yang ingin di tanyakan Nurmiati?" Beliau menatapku dengan wajah datar, aku harap ini hanya untuk peralihan fokusku dari obrolan dengan salah satu petugas yang berdiri beberapa cm di  belakangku bagian kanan. 'Tidak ada pak. Paham." Jawabku yakin dan melebarkan senyum lalu tertunduk memperhatikan layar komputerku.

...Dan kami dipersilahkan loading untuk mengikuti tes. Yang harus di isi yaitu username yang berupa angka (masing2 memperolehnya saat mendaftar online) kemudian pasword, lalu kode falidasi yang kami peroleh tadi pagi, yang terakhir kode keamanan yang tertera di layar komputer.

Suasana ruangan mulai hening, menit-menit berikutnya mulai tegang dan serius. Sesekali aku menatap kedepan atau sekedar melirik pemuda di sebelahku tadi. Tes pertama sebanyak 50 soal, berikutnya 30 soal, dan yang terakhir berdasarkan prodi masing-masing. Khusus Fisika (jurusan saya) soal terdiri dari 40 Soal untuk waktu 90 menit.

Pelaksanaan sudah berlangsung kira-kira 30 menit, aku baru saja menjawab soal ke 33 dari 50 soal. Waktu yang kumilik untuk tahap satu ini tersisa 14 menit beberapa detik.

"AHHH...." Teriak seisi ruangan reflek karena kecewa. Komputer kami mati, seluruh ruangan lebih gelap, hanya lebih banyak cahaya dari dinding kaca yang kordennya sengaja di buka tadi pagi. Panitia menghidupkan mesin cadangan. Sekitar 10 menit kami kembali mengetikkan seluruh prosedur untuk loading kembali. 

"OH, NO." Pemuda di sampingku berseru kesal. "Pak. Bagaimana ini waktu kami habis?" Tanya peserta lain yang duduk beberapa bangku di depannya. Aku masih penasaran bercampur tidak sabaran karena komputerku loading terlalu lama. 

"AH, waktuku sisa dua menit." Aku ikut melontarkan kalimat kecewa dengan sedikit menahan volumenya.

"KELUARKAN DULU. SAYA COBA HUBUNGIN PUSATNYA TERLEBIH DULU." Beliau mencoba menenangkan kami yang mulai risau. Terlebih beberapa peserta masih meraguan jawaban mereka dan sebagian lain ada yang menjawab di bawah 20 soal. Beliau menekan tombol panggil.

Cukup lama kami menunggu dan berbagai hal yang terpikirkan oleh kami masing-masing. Pernah sekali Beliau menyuruh seorang peserta membacakan pesan yang ia terima agak kami tetap sabar menunggu.

Kami bisa melanjutkan mengerjakan soal dengan toleransi waktu 12 menit. Setidaknya aku tersenyum dan menjawab tanggapan pemuda di sambingku. "Yah. Ini lebih baik dari pada tidak sama sekali." Dia hanya tersenyum dan kembali terpaku dan serius mengerjakan soal.

Dan sisa beberapa soal lagi. Soal yang aku pilih tidak bisa di klik. Ku dengar beberapa yang lain mengalami hal yang sama. "OH MY GOD, PLEASE." 

Waktu yang tertera bebeapa detik lagi ketika aku ingin mengetik ke selesai. "AH, ERROR." Tertutup kembali dan aku harus loading kembali. Ketika aku ingin mengerjakan soal tahap berikutnya ternyata tidak bisa. Hanya beberapa peserta yang sempat mengklik selesai sehingga mereka bisa melanjutkan. Sedangkan kami yang belum? Tidak bisa apa-apa selain menunggu lagi bagaimana keputusan dan hasilnya nanti. Berkali-kali hingga puluhan kali mungkin, kami loading dan tetap yang tertulis saat mengklik pilihan tahap awal. "Waktu ada telah habis...." dan saat mengklik tahap berikutnya, " Maaf ada belum menyelesaikan soal ...."

Ketika yang bisa melanjutkan sudah ke tahap tiga kami masih menunggu. Menunggu hal yang belum pasti. Sangat lama kami menunggu, jika jadwal jam 11.30 harusnya tes ini sudah berakhir namun kami yang tertinggal karena error baru saja memulai mengerjakan soal tahap kedua yang diberi waktu selama 45 menit, dan soal tahap ketiga yang diberikan waktu 90 menit.

Soal tahap kedua sebagian berbahasa inggris. Dari 30 soal aku menyisahkan 3 Soal. Tahap akhir yang terdiri dari 40 soal Fisika aku menyisahkan 2 soal. Di awal Beliau sudah mengingatkan bahwa salah menjawab nilai -1 dan benar nilai 4.

Waktu jam dinding sudah menunjukan pukul 13. 32 dan di rungan tes sisa lima orang termaksud aku. Lama berpikir dan tetap tidak menemukan ilham untuk menjawab atau sekedar mengarang jawaban, aku memutuskan keluar lima menit sebelum pukul dua siang.

----
Saat kami menunggu lama, aku dan pemuda di sampingku berbicara banyak hal. Berawal dari Dia yang berceletuk "Ngapain belajar rumus lagi?" Senyumnya sedikit meledek bagiku, aku membalasnya dengan senyum yang sengaja kubuat santai. Aku bosan belajar kemudian beralih ke Facebook dan Twitter. Dia melirik layar komputerku lagi lalu bergumam "Update status dulu." yang di tanggapi dengan pertanyaan oleh pemuda di depannya "Bisa buka internet?"

"Tu dia buka." Jawabnya menoleh padaku, aku tersenyum  memperlihatkan gigi dan menjawab dengan anggukkan saat menyadari pemuda yang bertanya menatapku.

"Iya bisa. di Ruangan ini ada yang main game kok." Ucapku tanpa menoleh namun menyindir pemuda di sampingku.

...Setelah hal itu kami saling menanggapi keluhan dan membahas hal lain seperti piala dunia karena dia bermain game bola. Sesekali percakapan kami di tanggapi dua pemuda di depannya dan gadis berjilbab besar di hadapku, saat membahas  permasalahan error ini terjadi kemudian saling memotifasi atau menghibur diri agar tetap sabar serta berdoa hasilnya nanti kami lolos.

----

Begitulah proses tes online untuk mengikuti program SM3T angkatan IV yang ku ikuti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam kenal. Semoga bermanfaat. Thanks atas kunjungan dan komentarnya.