Matanya tak rela terpejam, tak hentinya mengucap syukur atas indahnya karunia Tuhan. Seolah tak ingin berkedip sekali saja, pandangannya tertuju pada matahari yang malu-malu muncul di antara awan tebal, menyapa menghangatkan suasana bumi dan hati. Nurmi tersenyum setelah melirik jarum jam tangan birunya.
"Ini jika di Kalimantan belum ada matahari." Gumamnya mengingat suasana pagi di rumah maupun dirantau saat ia menjalani hari-hari kuliah. Pukul 5 lewat beberapa menit.
Semakin cerah, awan semakin menakjubkan. Sangat tebal, luas, putih, dan tertata rapi.
"Negeri di atas awan." Terlintas begitu saja dalam pikirannya. Mungkin ia sedikit menghayalkan beberapa hal dalam film-film yang pernah iya tonton berkaitan dengan awan. Ia, tertawa geli sendiri karena khayalan konyolnya.
Setengah jam berlalu sejak matahari mengucap 'selamat datang'. Pemukiman terlihat di pinggiran danau luas. Pesawat yang sudah 5 jam terbang dari Jakarta siap untuk istirahat sejenak. Jayapura, ibu kota provinsi Papua.
Nurmi memejamkan mata sejenak, berdoa, bersyukur, berharap, sebelum beranjak dari tempat duduknya. Bersama rombongan memasuki bandara. Menanti antrian barang, menunggu lagi, karena penerbangan belum usai. Sempat bertemu dan mengobrol serta mengambil beberapa foto dengan teman seperjuangan yang baru dikenal. Semboyan, maju bersama mencerdaskan bangsa menjadikan mereka semua keluarga, kemanapun mereka pergi dan dalam keadaan bagaimanpun, mereka semua adalah keluarga.
Berbeda daerah tujuan membuat mereka tak banyak mengobrol. Rombongan SM3T III UNMUL diterbangkan menuju kota kecil dipengunungan tengah. Wamena, begitu orang menyebutnya.
Nurmi dan sebagian besar penumpang tidak begitu menikmati perjalanan, karena suasana dan keadaan sangat berbeda. Bahkan ia terus berdoa agar mereka baik-baik saja. Pesawat mereka sangat tidak nyaman dan membuat khawatir. Terlebih saat-saat mendarat.
"Ah... Akhirnya..."
"Akhirnya sampai juga..Heheh"
"Alhamdulillah."
"Welcome hari-hari berbeda."
Tak sedikit yang begitu senang saat akhirnya pesawat benar-benar berhenti.
"Ini Bandaranya cuma gini aja?"
"Yakin ini bandara?"
"Setidaknya kita ada bandar dan kita sudah sampai."
Terdengar beberapa komentar dari rombongan itu. Tentu saja jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, iya.
Nurmi hanya mengekor karena sembilan jam penerbangan membuatnya lelah. Terlebih mereka sudah dinanti oleh para senior yang menjemput, sesungguhnya bahagia karena apa penggati dan mereka bisa kembali kepelukan keluarga.
Memperhatikan sekeliling menjadi fokus pertama Nurmi dan kawan-kawan. Banyak pertanyaan dan pernyataan dibenak mereka tak terucap. Bagi Nurmi setahun di sini nanti akan terjawab segalanya bahkan lebih dari yang ingin ia ketahui.
"Nanti jika ada yang menawarkan berfoto, jangan ya." Nasehat senior dengan suara pelan.
"Apalagi sama mereka." Tambahnya melirik sosok kurus tak berbaju dan sejak tadi memperhatikan kami dan berjalan ke sana kemari.
Bagi Nurmi suasana dan kesan di siang itu butuh waktu lama untuk mendeskripsikannya. Emm, baiknya membuat secangkir teh atau susu coklat lalu setoples cemila agar bercerita tak membosankan.
---bersambung dulu ya.... Heheh,
27/08/2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Salam kenal. Semoga bermanfaat. Thanks atas kunjungan dan komentarnya.