Sekali iya menggeleng memberi isyarat jawaban atas pertanyaan gadis yang berada diruangan yang sama, hanya mereka berdua. Tak sabar dengan kesunyian ruangan luas dengan kursi yang begitu banyak tersusun rapi. Pemilik poni lurus dan pipi tembem mendekat berlahan, diam-diam memperhatikan layar leptop sang gadis blue begitu teman-teman menjulukinya karena segala benda-benda miliknya menjelaskan betapa cintanya pada warna langit. Namanya bintang.
"Ouhh." Pekik sang kutu buku beberapa menit kemudian, membuat Bintang sontak menoleh dan terheran karena ternyata si mata empat telah ikut menonton hanya berjarak beberapa cm dibelakang tanpa suara, lalu berteriak ketika melihat darah.
Pandangan serius dari Bintang membuatnya diam salah tingkah. Mereka tidak begitu akrab meski bertemu beberapa kali dengan momen tak disengaja.
"Maaf." Ucapnya menggaruk kepalanya yang tak gatal sebari berusaha bersikap santai dengan senyuman yang ditahan.
"Hahaha. Kenapa minta maaf. Aku hanya tidak menyangka kalau si kutu buku suka sama film horor tapi penakut." Tawa Bintang lepas dan tersenyum.
"emm. Tadinya cuma penasaran, kamu ngerjain tugas apa sih sampe serius gitu, ternyata nonton, mana diruangan yang seperti ini lagi.Sepertinya seru." Jelas si mata empat yang ternyata bernama Angel.
"Emang seru. Mau nonton bareng? ini belum apa-apa, nanti lebih seru lagi." Ajak bintang meyakinkan dan menunjukan kursi di sebelahnya.
Tak lama, setelah dua gadis itu serius memperhatikan layar yang semakin menghadirkan gambar mengerikan, tiba-tiba bintang menangis. Kening Angel mengkerut, matanya melirik Bintang tang tertunduk dan wajahnya tertutup rabut lurusnya yang halus.
Dan, lampu ruangan mati.
"Bin. Bintang?"
Thanks atas kunjungan dan komentar blognya...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Salam kenal. Semoga bermanfaat. Thanks atas kunjungan dan komentarnya.