Hai, teman-teman pembaca semua. Ini adalah kampus saya, lebih tepatnya aku salah satu alumni dari Prodi (Program Studi) Pendidikan Fisika, FKIP Universitas Mulawarman. Samarinda, Kalimantan Timur.
Untuk tau sejarah Prodi ini, silahkan di tonton vidionya. Di sini aku hanya mau curhat tentang diri dan pengalaman selama menjadi salah satu mahasiswa diantara teman-teman yang lain.
----
Kembali mengingat beberapa tahun lalu, saat aku baru saja menyobek amplop pengumuman kelulusan SMA. Alhamdulillah dinyatan LULUS dengan nilai memuaskan.
Aku tipe anak yang suka pengalaman baru, selain itu merasa cukup mandiri dari pengalaman kos dari SMP dan tinggal bersama guru selama SMA membuatku untuk berkeinginan kuliah keluar dari Kalimantan. So, karena keadaan keluarga yang sepertinya meragukan, aku mengalah. Meskipun diam-siam aku juga mengusahakan beasiswa untuk kuliah di Universitas di SulSel dan Jawa.
Bermodal tabungan selama sekolah dan nekat (belum mengetahui Samarinda dengan baik), aku mendaftar dan melalui proses hingga ujian. Saat itu aku bingung mau pilih jurusan apa, masih sistem manual (belum online), antri di Gor 27 september untuk mendaftar dan mendapatkan buku petunjuk fakultas, jurusan dan informasi lain mengenai Universitas Mulawarman.
Bingung. Formulir mau diisi apa?
Menjadi Guru adalah harapan/cita-cita sejah duduk dikelas 3 SD dan ditanya salah satu guru (Bu Sri) tentang cita-cita. Karena saat itu aku sering ikut cerdas cermat IPA dan Matematika, aku jadi ingin menjadi Guru Matematika.
Lalu kenapa aku malah menjadi mahasiswa Pendidikan Fisika?
Saat melihat daftar mahasiswa yang akan diterima di buku. Terulis 80 untuk pendidikan matematika.50 Pendidikan Fisika.
Dasar anak bimbang. Ketika itu aku merasa tidak mungkin masuk di dalam daftar 80 orang dari sekian ratus orang yang memilih jurusan itu. lalu kata seseorang (pendengar perbincanag orang), jika kita tidak masuk daftar pilihan pertama maka kita diperhitungkan dalam daftar pilihan berikutnya. Sama halnya pikiran awal, aku tidak masuk daftar 50 orang yang memilih jurusan Fisika. Namun aku optimis masuk dalam daftar 130 orang. Maka jatuhlah pilihan pertama Fisika dan kedua Matematika. Hanya boleh memilih dua karena saat itu aku memilih IPA, bukan IPC.
Setelah mengisi semua formulir, aku mengumpulkannya kembali, dan meninggalkan kampus menuju kos salah satu kakak kelas selama SMA. Mempersiapkan diri untuk ujian tes.
Tempat ujianku di Fakultas MIPA. Aku datang sangat pagi karena hari sebelumnya saat jadwal pengecekan ruangan dan nomor aku tak datang. Bertanya pada satpam, ruangan tes yang bernama nama-nama ilmuan (aku lupa nama ruanganku), aku berhasil menemukan kursi bernomor kartu ujianku.
Perjuangan dimulai. Aku tidak mengisi semua soal. Hanya memilih yang kusuka dan kuanggap penting. Salah jawab akan mines, maka lebih baik cermat dalam memilih soal, jika ragu tinggalkan. Hehehe. Begitu pikirku saat itu. Aku lebih mudah mengerjakan soal eksak, terutama Matematika dan Fisika. Saat itu entah mengapa aku lebih merasa Fisika lebih madah.
----
Pendaftaran dikampus-kampus lain telah ditutup, bahkan di UNMUL juga sudah tutup termaksud pendaftaran untuk lokall. Namun pengumuman belum juga ada. Setiap hari aku sudah bertanya kepada teman di kota. "Sudah ada pengumuman belum? di koran juga belum ada?"
Aku tidak mendaftar di mana-mana, hanya satu itu saja. Selain keuangan yang tidak mendukung, aku merasa antara optimis dan pasrah pada takdir Tuhan akan masa depanku.
Alhamdulillah aku diterima. Sejak pengumuman itu, aku melepaskan beasiswa yang awalnya sangat kuusahan agar ibu mengizinkanmu meninggalkan Kalimantan. Aku berbesar hati untuk menjalani apa yang direstui orang tuaku. Meskipun aku tak pernah mendengar secara langsung dari mulut mereka, feeling seorang anak membuatku menyimpulkan begitu.
----
Aku menjadi mahasiswa Pendidikan Fisika. Ada rasa tidak terima di hati ini membuatku tidak begitu menikmati proses awal seorang MaBa (Mahasiswa Baru). Meskipun hati menolak kenyataan menjadi calon guru Fisika namun aku tetap mengikuti semua kegiatan, termaksud kegiatan ospek dll.
Beberapa bulan beralalu hingga satu semester selesai. Berbagai mata kuliah dan praktikum ternyata terlalui begitu saja. Nilaiku juga tidak buruk, IPK saat itu lebih dari 3.
Sempat aku berpikir, mungkin ini karma karena aku tidak begitu suka dengan pelajaran Fisika dan guru Fisika saat SMA. Upps, tidak sukanya di sini bukan hal negatif, tapi normal sebagai perasaan anak SMA yang terlalu banyak belajar Fisika.
Heheh, Maaf bu Indra.
Saat SMA, aku pernah mengikuti Olimpiade Fisika. Awalnya aku mempelajari tentang Astonomi lalu di pindahkan ke Sains. Itu sedikit menyebalkan.
Menjengkelkan lagi saat, suka-sukanya dengan guru Matematika, eh si ibu cuti hamil saat cuti habis beliau langsung pindah sekolah. Apa hubungannya dengan Fisika. aku jadi kesal dengan Matematika dan mulai belajar Fisika.
Saat menyebalkan lagi, saat kelas 3 mendekati try out dan ujian. Guru biologi cuti menikah. Semua jam Biologi di isi dengan Fisika. Itu membosankan.
Ada lagi yang bikin ennek sama Fisika. Setiap pelajarn Fisika, aku harus kekantor dan mencatat dipapan tulis contoh-contoh soal Fisika. Sering kali di suruh mengerjakan di papan tulis.Dan juga, saat aku sudah letih mencatatn segitu banyaknya di papan tulis. Saat pemeriksaan catatan dan tugas, aku dituntut untuk memiliki lekap seperti yang lain. Jujur itu sangat membuatku sering menulis ditengah malam yang sunyi dan kekurangan tidur. SAAT ITU AKU LAGI BERUSAHA MENYUKAI FISIKA. Aku tidak membenci Fisika lagi, bahkan saat tak ada tugas aku tetap belajar meskipun hanya sedikit saja.
----
Mengapa Fisika bukan pilihan pertamaku?
Ternnyata aku lebih mencintai Matematika dari pada Fisika, namun Tuhan menginginkaku belajar tentang sesuatu yang aku butuhkan bukan sesuatu yang aku inginkan.
Saat ini, aku telah berhasil menjadi Sarjana Pendidikan Fisika bahkan saat ini sedang menjalani hari-hari sebagai peserta PPG SM3T di kampus yang sama Universitas Mulawarman.
----
Penuh cinta dan terima kasih untuk keluargaku... <3 <3 <3
----
Untuk Guru-guruku. Terima kasih banyak., mohon maaf jika selama ini saya banyak salah. Teruatam guru Fisika ku, memang saya terkenal tidak banyak bicara dan tingkah aneh, maaf jika ternya saya mendumel (mengomel) di dalam hati. LOVE U BU INDRA. :)
----
Untuk dosen-dosen. Terimakasih atas ilmu yang bermanfaat ini. Dan ,teman-teman semua terimakasih. :D
----
Special thanks for God. Alhamdulillahirombbilalamin.
----
Catatan :
Optimis itu perlu namun harus diimbangi dengan usaha dan doa yang maksimal.
Jika ingin kuliah, pastikan jurusan dengan baik, ukur kemampuan diri, ukur kesempatan/peluang kerjanya, pilih jurusan yang tepat.
Saat keinginan tak capai, jangan menghakimi keadaan saat ini. Yakin saja semua ada hikmahnya. Tuhan Maha Penyayang dan Maha Mengetahui. Baik bagimu belum tentu baik bagi-Nya.
Hargai dan jangan pernah lupakan jasa guru-guru dan para pengajarmu. Mereka sosok pahlawan masa depanmu.
Restu orang tua adalah yang terbaik kawan. Karena doa mereka tak pernah hentinya mereka haturkan dan panjatkan kepada Sang Maha Segala-galanya. Kerja keras mereka demi kebahagian keluarga tak pernah terhenti oleh rasa letih. Bahagia anaknya adalah bahagia beliau. Jadi jika saat ini kau sedang tersenyum, jangan lupa memperhatikan senyum orang tuamu, apa mereka sudah bahagia karenamu?
Yang terpenting kawan. Sudahkah kita sadari bahwa hidup ini hanya sebentar. Sudahkan kita bersyukur atas segala karunia yang dititipkan pada kita? Sudahkah kita melaksanakn kewajiban kita tanpa menuntut hak-hak kita?
====
Ini hanya diari dari seorang anak dari keluarga sangat sederhana, anak bangsa yang menginginkan masa depan cerah dalam satu sisi perjalanan hidupnya, jadi abaikan jika tidak penting kawan. Lebh baik waktu kau gunakan untuk hal bermanfaat. Namun, jika kiranya ini memberikan pembelajaran. Silahkan kawan. Silahkan kita koreksi diri kita msasing-masing.
Salam hangat dan salam semangat, :D
Sabtu, 28 Mei 2016
====
Ini kisahku, mana kisahmu?
*****
Thanks atas kunjungan dan komentar blognya...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Salam kenal. Semoga bermanfaat. Thanks atas kunjungan dan komentarnya.