Beberapa hari lalu hanya terlintas dibenakku. Tentang bimbingan belajar di desaku. Bagaimana aku mengajak anak-anak untuk belajar sedangkan aku bukan salah satu guru dari mereka. Bahkan aku tergolong jarang berada di desa ini, desa Maruat. SMP kos karena sekolah jauh dari rumah, SMA kos lalu tinggal dengan salah seorang guru karena sekolah lebih jauh lagi. Lalu kuliah di ibu kota provinsi membuatku lebih jarang menyaksikan perkembangan dan aktivitas di desaku. Lalu 2014 saya pergi ke ujung timur Indonesia. Papua. Sebagai seorang pendidik.
Bagaimana mengajak adik-adikku di desa ini untuk belajar jika tidak begitu akrab. Ragu, namun tetap ku coba.
Membina anak-anak desaku melihat dunia. Tidak ingin mereka mengalami hal yang sama denganku duli, mencari sendiri dengan meraba-raba demi mengimpikan masa depan. Berusaha keras sendiri dalam keterbatasan dan terus berlatih dalam bayang-bayang dilema takut akan terhenti.
Sejak SMP, aku sudah bermimpi suatu saat didesaku ada perpustakaan. Jika pemerintah tidak membantu suatu saat akan kubuatkan, begitu tekatku. Alhamdulillah sudah ada, digagas oleh salah seorang guru 'Indonesia Mengajar'--Ibu Vivin.
Kini sudah ada bangunan sendiri meski kecil dan kekurangan buku--menurutku. Itu sudah patut di syukuri.
.
Kamis, 1 Desember 2015.
Kutemu sang pengelolah--penanggungjawab--yang mengurusi--yang memegang kunci. Salah satu staf di kantor desa yang tergolong seumuran denganku.
Isna sangat setuju dengan ideku 'Bimbingan Gratis'.
Melalui dialah aku mengajak anak-anak, tentu jika aku bertemu dijalan kuberitahukan sendiri, atau mampir sejenak kerumah warga menginformasikan kepada orang tua.
.
13 Desember 2015
Hari ini desa kami diguyur hujan lebat. Sekarang sudah pukul 13.45. Aku mulai was-was.
"Ada tidak ya anak yang datang." Pikirku berharap hujan cepat selesai.
Beberapa menit sekali aku melirik jam dinding. Sedangkan hujan masih turun disertai angin kencang. Aduh, jadi gak ya hari ini mulai bimbel.
Bersyukur saat jarum jam melewati angka 2 siang. Hujan berhenti.
Aku bersama adikku yang kelas 2 SMP meninggalkan rumah menuju tempat yang disepakati. Pepustakaan Matahari. Kami membawa sebuah papan tulis berukuran 1x1 meter. Tentu aku telah menyiapkan spidol sejak hari pertama aku memiliki ide kegiatan ini.
Motor kami tak menghiraukan becek jalanan. Sampai ditempat tak seorangpun di sana. Bersyukur tadi kami telah meminta kunci sehingga kami bisa menyapu ruangan sebari menunggu--jika ada yang datang.
Sekitar 2 menit kemudian datanglah dua orang, disusul seorang lagi.
Sekarang kami menyusun beberapa buku sebari bercanda atau berkeluh tentang sedikitnya anak manusia di sana (dalam ruangan perpus), datanglah seorang lagi. Seorang lagi.
Lama menunggu, aku memulai kegiatan.
Aku membagikan kertas yang sudah kusiapkan darirumah, kuberikan kepada setiap yang hadir. Hanya enam, tapi aku tetap senang.
"Tuliskan kata 'bahasa inggris' yang kalian ketahui lalu tulis juga bahasa indonesianya. Aku kasih waktu 20 menit."
"Tulis sebanyak-banyaknya. Nanti kita koreksi dan lihat seberapa banyak yang kalian ketahui. Okey?"
Semua sudah paham dan bersiap.
"Silahkan mulai."
Semua mengambil posisi 'PW'. Ada yang asik tengkurap, ada yang mengambil kursi dan menjadikannya meja. Ada yang menjadikan buku sebagai alas menulis, ada yang menjadikan lututnya sanggahan untuk menulis. Ada-ada saja. Sebelum waktu habis datang dua orang anak lagi.
.
Waktu habis. Dikumpulkan dan dikoreksi.
Kami tertawa bukan meledek hanya menghibur diri. Ada yang banyak menulis tapi salah dan terksan lucu.
Biar saja. Toh ini belajar, salah untuk nanti menjadi benar.
Setelah dikoreksi dan di skor diperolehlah pemenang pengetahuan kata. Tapi ini hanya lomba untuk mengetes diri.
Waktu habis. Dikumpulkan dan dikoreksi.
Kami tertawa bukan meledek hanya menghibur diri. Ada yang banyak menulis tapi salah dan terksan lucu.
Biar saja. Toh ini belajar, salah untuk nanti menjadi benar.
Setelah dikoreksi dan di skor diperolehlah pemenang pengetahuan kata. Tapi ini hanya lomba untuk mengetes diri.
Diakhir saatnya aku yang beraksi. Memberikan kesimpulan dari proses kegiatan tadi.
.
Ternyata pengetahuan tak terbatas oleh usia dan jenjang pendidikan. Otak kita adalah ciptaan Tuhan yang luar biasa. Meskipun semakin tinggi jenjang pendidikan harusnya semakin baik. Jadi wajar jika semakin dianggap lebih tau.
Belajar adalah kuncinya. Meng-update otak kita salah satu caranya.
Aku memberikan motivasi perorangan dan mengambil contoh untuk keseluruhan.
Dan khusus kesimpulanya proses bimbel hari ini
"Perbanyak kosa kata. Perbanyak menulis, membaca, mendengarkan dan berbicara. Karena bahasa inggris butuh itu."
"Selamat berjuang"
--minggu depan belajar memperkenalkan diri.
.
Toh sore ini, adik-adikku (murid bimbel) terdiri dari beberapa jenjang. Seorang SD, dua SMP, beberapa SMA dan juga pekerja yang sudah lulus SMA beberapa tahun lalu.
Jadi, inilah yang aku suka, karena belajar tak terbatas usia dan keadaan.
---
Semoga kedepannya lebih banyak yang datang.
Amin.
---
Terima kasih semuanya untuk hari ini.
Terima kasih Tuhan karena menurunkan hujan hingga para petani di desa ini bisa mulai menanam padi.
Terima kasih mama bapak yang tanpa lelah berjuangan demi masa depan kami. Termaksud pendidikan kami.
Terima kasih yang sudah hadir hari ini untuk sama-sama kita berlajar.
---
Semoga ilmu yang kita peroleh bermanfaat.
Amin
---
Semoga yang baca blog ini gak lupa komen. :D
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Salam kenal. Semoga bermanfaat. Thanks atas kunjungan dan komentarnya.