Foto : Frans Walela and Paskalis Mabel
Para mutiara hitamku, setahun bersamanya membuatku mengerti bahwa hidup ini sering kali tak adil.
Frans, misalnya.
Anak yang tinggal di desa Wosi, sekitar 5 Km dari sekolah (SD Inpres Isaima) setiap hari datang sangat pagi. Di awal kedatanganku anak ini tidak bisa membaca sama halnya anak-anak yang lain. Ternyata Frans anak pindah dari SD Wosi bersamaan dengan semester kedatanganku.
Seiring waktu berlalu Frans menjadi anak yang perkembangan kemampuannya sangat pesat. Menjadi anak terpandai Matematika. Mengerjakan soal pecahan dengan cepat, padahal sebelumnya anak ini hapal perhalian 1 dan 2 saja tidak. 5+7 saja tidak tau.
Frans juga sudah bisa membaca, meski pelan. Saya sangat senang anak yang awalnya tak hapal abjad ini selalu hadir saat bimbingan belajar.
Frans adalah anak yang peka dan rajin. Tanpa di suruh anak ini membuat penggaris panjang dari kayu karena saya sering menggunakan pohon kecil yang ku ambil di sekitar sekolah. Frans yang pertama kali memotong botol minuman mengisinya dengan bunga warna-warni yang diambil di pinggir jalan lalu menyimpannya di meja saya.
Anak yang tinggal di desa Wosi, sekitar 5 Km dari sekolah (SD Inpres Isaima) setiap hari datang sangat pagi. Di awal kedatanganku anak ini tidak bisa membaca sama halnya anak-anak yang lain. Ternyata Frans anak pindah dari SD Wosi bersamaan dengan semester kedatanganku.
Seiring waktu berlalu Frans menjadi anak yang perkembangan kemampuannya sangat pesat. Menjadi anak terpandai Matematika. Mengerjakan soal pecahan dengan cepat, padahal sebelumnya anak ini hapal perhalian 1 dan 2 saja tidak. 5+7 saja tidak tau.
Frans juga sudah bisa membaca, meski pelan. Saya sangat senang anak yang awalnya tak hapal abjad ini selalu hadir saat bimbingan belajar.
Frans adalah anak yang peka dan rajin. Tanpa di suruh anak ini membuat penggaris panjang dari kayu karena saya sering menggunakan pohon kecil yang ku ambil di sekitar sekolah. Frans yang pertama kali memotong botol minuman mengisinya dengan bunga warna-warni yang diambil di pinggir jalan lalu menyimpannya di meja saya.
Frans anak yang rela tidak pulang hingga jam 1 siang, menahan lapar demi mengerjakan soal dengan benar. Anak ini sering menolak saat saya menyuruhnya mengumpulkan besok. Baginya, menyerah adalah hal yang salah.
Tapi bagaimana jika keadaan tak berpihak padanya?
Tapi bagaimana jika keadaan tak berpihak padanya?
Ini bukan pertama kalinya, kepala sekolah mendatangi ruang kelasku--Kelas 5. Menanyakan hal yang sama. Surat dari kepala sekolah yang lama. Frans hanya menjawab 'tidak/belum' dengan rasa takut, aku sedih melihat ekspresi anakku satu itu.
Satu semester berlalu. Pembagian rapor. Libur sekolah. Januari 2015 masuk kembali. Sudah beberapa hari Frans tidak masuk sekolah. Aku bertanya pada teman-temannya dan dari adiknyalah aku tau alasan ketidak hadiran Frans.
Jadi apa yang terjadi dengan Frans?
#Bersambung
#SM3T #AngkatanIV #Jayawijaya #Papua
#SM3T #AngkatanIV #Jayawijaya #Papua
![]() |
| Frans Walela dan Kemai Logo (Foto By Me, 2015) |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Salam kenal. Semoga bermanfaat. Thanks atas kunjungan dan komentarnya.