Sabtu, 26 September 2015

Testimoni SM3T (Nurmiati - Jayawijaya, Papua)



“Pelangi Papua”
Siapa aku?
Ingin rasanya menjawab begini, “Anak bangsa yang memiliki hak yang sama dan berharap menjadi orang yang bermanfaat. Menjadi pendidik yang berguna bagi bangsa dan negara.”
 Hahaha. Mungkin kamu tertawa dan menganggap itu terlalu berlebihan. Mau dikata apapun, jawabanku akan tetap sama karena mimpu itu nyata. Salah satu cara mewujudkan harapanku adalah ikut program SM3T. Apa itu SM3T? Cari saja di internet akan muncul berbagai informasi tentang SM3T. Ya, meskipun aku pertama kali tau tentang program ini bukan dari internet tapi dari dosen yang membicarakannya, lalu rasa ingin tahuku membuatku menggali informasi dari senior angkatan sebelumnya. Setelah resmi menjadi sarjana pendidikan berjurusan Pendidikan Fisika sebagai lulusan Universitas Mulawarman, aku mendaftarkan diri, alahmdulillah aku lulus hingga tahap tes terakhir dan berangkat menuju daerah penempatan. Kami semua 30 orang guru dengan amanah SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, Tertingga) mendarat di kabupaten Jayawijaya yang lebih terkenal dengan kota Wamena pada tanggal 28 Agustus 2014.
Senang rasanya para senior menyambut kami. Apa yang menjadi pusat perhatianku pertama kali? Wah, ada yang gak pake baju. Wah, ini bandaranya? Kok gini banget ya? Ini bandara? Usut punya usut memang habis terbakar jadi sangat sederhana kini sambil menunggu pembangunan kembali. Dan, yang gak pake baju itu, orang-orang asli yang masih menggunakan Koteka. Yang dalam keseharian selama setahun pengabdianku, menjadi pemandangan yang biasa.
***
Sore ini setelah makan dan menyimpan barang-barang di kamar penginapan. Kami semua bersama dosen pengantar dan senior yang akan kembali dua hari lagi duduk di halaman penginapan membentuk sebuah lingkaran. Senior kami bercerita banyak, ada rasa khawatir di raut wajah teman-teman tapi tak sedikit tips yang diberikan senior kami mampu membuat kami siap untuk menjalani hari, lagipula tekat kami sudah bulat, kami juga sudah belajar banyak selama 12 prakondisi sebelum keberangakatan. Apapun yang akan terjadi nanti, inilah takdir Tuhan, tidak ada cobaan dan masalah yang Tuhan berikan melampaui batas kemampuan hambanya. Bismillahi Rohmanirohim.
1 September 2014, upacara penyerahan peserta SM3T kepada dinas pemerintahan daerah. Kami  mendapatkan teman 36 dari LPTK Riau. Setelah upacara itu, kami langsung berpencar sesuai dengan pembagian sekolah kemarin. Kepala sekolah yang memilih kami.
Siang ini, bus dinas perhubungan berhenti di depan pagar sekolah, SD Inpres Isaima. Anak-anak itu berlarian menghampiri. Mereka tersenyum menyambutku dan temanku turun dari bus. Mereka bahkan berebut untuk mengangkat barang-barang kami.
Setelah menyimpan barang-barang itu di rumah satu-satunya milik sekolah, aku dan kawanku menuju sekolah. Kami membariskan siswa/i itu di depan kantor. Menyapa mereka, mengajarkan yel-yel yang menyemangatkan, mengucapkan beberapa kalimat perkenalan dan ucapan terima kasih karena telah disambut. Bahagianya mengetahui mereka sengaja menunda kepulangan sekolah hanya untuk menyambut kami.
***
Diawal keberadaanku di sini, terasa sedih dengan keadaan sekolah yang tidak terurus. Jujur, aku mendapati kantor yang tidak tertata baik, bahkan buku-buku di lemari belum pernah disusun baik sejak bertahun-tahun buku bantuan itu diserahkan. Siswa/i yang sedikit masuk sekolah, datang sangat terlambat dan ingin pulang cepat. Angka sebelas yang selalu mewarnai pemandangan wajah mereka, sesekali bersuara saat ditarik kembali. Aduh, belum lagi mereka yang memakai seragam kotor karena jarang dicuci malah dipakai bermain sepulang sekolah. Bersyukur masih memakai seragam, ternyata banyak juga yang tidak memiliki seram, oh Tuhan. Jangan kira mereka memakai sepatu, bahkan kaki dan tangan mereka berwarna lain karena lumpur telah mengering dan menyatu dengan kulit mereka. Kelas? Kelas mereka jarang disapu, sapu juga bisa dihitung jari dan tentu keadaanya tak sebaik yang diharapkan.
Bagaimana aku bisa mengajar dengan baik, jika ruangan kelas V dan VI terdiri dari satu ruangan yang disekat. Suaraku keras. Suara kawanku, Wira juga keras. Kami sering bernyanyi dan melakukan permainan sederhana saat belajar. Oh tidak! Kenapa banyak yang tidak membawa alat tulis, aku harus meminjamkan pulpenku atau aku harus meminta selembar kertas pada siswa yang lain demi memberikan kepada temannya. Hei, bagaimana ini? Siswa kelas V tidak hapal abjad? Tidak hapal perkalian 1. Belum lagi hal lain yang membuatku bertekat melakukan perubahan secepat mungkin. Jadi guru di sini memang harus S3 (Sangat Sabar Sekali).
***
Sejak hari pertamaku mengajar. Mereka harus terbiasa berbaris rapi sebelum masuk kelas. Cara mengucap salam harus diperbaiki. Di setiap kelas harus ada pemilihan ketua kelas secara demokrasi. Berbagai cara kulakukan agar mereka tidak menjadi pemalu, lebih semangat ke sekolah, mereka semangat belajar dan tentu agar mereka lebih disiplin serta tau sopan satun yang baik.
Aku juga mengajak mereka olahraga rutin setiap hari kamis, sering mengajak mereka melakukan permain sederhana yang mendidik. Aku juga selalu menyisipkan nasehat-nasehat sederhana setiap kegiatan. Pernah siswa/i ku menangis hanya karena nasehat-nasehatku tentang keseharian mereka. Ternyata mereka anak-anak yang peka dan mudah terharu.
Aku mengajarkan mereka cara menjaga kebersihan dengan baik. Mengajarkan cara mencuci tangan dan menggosok gigi. Mengharuskan mereka membersihkan ingus sebelum mulai belajar. Memeriksa kuku setiap 2 kali seminggu, memeriksa kerapian pakaian dan tentu mengingatkan mereka untuk mandi.
Upacara sangat penting untuk membuat kita mengenang jasa para pahlawan kita, menyadarkan kita bahwa kita sudah merdeka dan kini memiliki hak untuk lebih baik serta meraih cita-cita kita.  Upacara juga menumbuhkan rasa nasionalisme, selain itu hal ini menyadarkan anak-anak Papua bahwa mereka bagian dari NKRI, generasi harapan bangsa ini untuk lebih baik. Maka ku ajarkan upacara pada mereka, hal ini tidak mudah. Bahkan lagu kebangsaan saja mereka tidak hapal, berlahan tapi pasti minggu ketigaku di sekolah ini, kami melaksanakn upacara bendera pertama kalinya sejak sekolah ini berdiri 14 tahun yang lalu.
Kuberikan bimbingan belajar, ku ajak mereka membuat perpustakaan kecil di kelas-kelas, ku jelaskan puluhan kali hal yang sama agar mereka mengerti. Ini demi memperbaiki CaLisTung (Baca, tulis, hitung) mereka
Kuajak mereka mencintai lingkungan dengan menjaga kebersihan sekolah, kelas, membuat taman sekolah, bertanggung jawab atas taman—taman di depan kelas mereka
Betapa sedihnya, jika kalian mendapati seorang guru memukul siswa tanpa tau alasan kesalahanya. Rasanya aku ingin menangis membelanya, tapi apalah daya tak bisa. Ini membuatku selalu mengajarkan saling mengasihi agar mereka tidak melakukan hal yang sama kelak pada temannya, pada saudaranya, apa lagi pada orang lain. Jujur, saya sulit memahami kondisi para guru-guru di pulau ini, terkhusus di kabupaten ini, terkhusus lagi di sekolahku ditempatkan. Bagaimana mereka? Aku tak bisa menceritakan banyak pada publik, tapi jika ingin tanyalah pribadi padaku.
Aku, temanku, pak guru dan kepala sekolah setuju kami memindahkan kelas V dan VI di kelas baru berganti tempat dengan kelas I dan II. Itulah awal segalanya dimulai.
Banyak hal terlalui. Tak selamanya yang kita lakukan disukai oleh orang, terlebih jika ia merasa iri. Guru honor di sekolah ini, sepertinya tak suka pada kami. Ia memanfaatkan keberadaan kami untuk menuntut berbagai macam hal pada sekolah. Permintaan yang tak masuk akal untuk terpenuhi. Selama tinggal bersamanya aku dan kawanku selalu bersikap sebaik mungkin padanya, anak dan istrinya. Namun, semua itu sia-sia. Sering siswaku tiba-tiba bercerita padaku tentang apa yang dibicarakan pak guru itu kepada masyarakat. Dan, di sayangkan kata-kata kasar bahkan kata usir terlontar dari mulutnya, terlebih kawanku hampir ditampar. Berbagai hal membuatnya memilih keluar dari sekolah dan rumah dinas sekolah.
***
Lain kisah dengan siswa/i ku yang suka duka itu, kisahku berusaha memahami masyarakat dan mempelajari budaya dan adat-istiadat mereka merupakan pengalaman yang juga tak terlupakan. Seru, kadang bagiku itu melelahkan namun menyenangkan dan menghadirkan warna baru dalam hari-hari pengabdianku.
Mendapat undangan adat ‘Bakar Batu’ di hari ketiga berada di desa pengabdian. Lalu seterusnya selalu mengikuti kegiatan-kegiatan adat yang diselenggarakan.  Sapaan selamat pagi, selamat siang, selamat sore yang tak pernah absen ku dengarkan setiap hari, berkali-kali, diucapkan setiap orang yang bertemu, dari anak-anak hingga sesepuh dan kepala suku. Bukan cuma menyapa, mereka juga menjabat tanganku. Tak jarang jika ada orang tua siswa yang gemas padaku langsung mendekap, mama-mama itu biasanya berkata. “Aduh sayang, ibu guru ajar kitorang anak baik sekali. Datang jauh bikin kita pu anak pintar dan rajin sekolah jadi.”
Bagaimana tidak bahagia jika mereka senang akan kehadiran kita. Mereka tak pernah mempermasalahkan hanya aku dan kawanku yang menjadi pendatang di desa ini, seolah aku menjadi artis, hingga beberapa desa tau akan kehadirnaku, di manapun aku pergi mereka pasti tau diriku ‘ibu guru’. Bahkan hanya diriku seorang yang muslim, dan itu kentara dengan jilbab yang selalu menutup kepalaku. Bagi mereka, akulah sosok harapan anak-anak mereka.
Mereka tau apa yang boleh dan tidak boleh aku makan. Perna, sengaja mereka bercanda padaku untuk menyantap babi dengan alasan yang tegas, saat aku dengan berbagai alasan berusaha menolak dengan halus. Mereka malah tertawa dan berkata “Ibu guru muslim. Kami tau tidak makan Wam. Kami, tadi masak Hipere juga tidak dicampur dengan Wam. Ibu guru bisa makan Hipere dan sayur toh? Kami juga masak ayam yang Bakar Batunya tidak dengan Wam.”
Aku tersenyum senang tiada hentinya mengucap syukur. “Wa wa wa Mama, Bapak. Saya suka makan Hipere.” Semua membalas dengan kata yang sama lalu kami tertawa bersama-sama.
Aku sering ikut ke kebun mereka melihat bahkan terkadang mencoba melakukan apa yang mereka lakukan dan tak jarang itu menjadi hal lucu bagi mereka hingga menggundang tawa. Belum lagi jika aku ikut serta menonton mereka menangkap ikan di kolam dengan tangan atau jaring yang berupa tas noken buatan para Mama.
Hei, aku juga  sering berkunjung ke rumah siswa, berjalan hingga berkilo-kilo dan mengenal keluarga mereka. Ternyata melakukan hal ini banyak maknanya, aku jadi tau banyak dan aku lebih memahami keadaan siswa.
Aku belajar menganyam membuat tas Noken, aku juga belajar menari, di mana saja aku dengan segudang pertanyaanku akan menjadi sosok yang di sambut hangat. Bahkan tidak bertanya saja mereka sering memberitahukanku. Begini ibu guru, harusnya begitu ibu guru. Ini fungsinya ini ibu guru. Itu namanya ini ibu guru.
Mereka orang yang ramah. Yah, meskipun mereka juga terkenal keras karena adat dan budaya mereka. Tenang saja, percayalah jika kita baik maka orangpun akan baik kepada kita. Toleransi mereka besar, bahasa mereka memang susah. Dimana kaki dipijak di situ langit dijunjung, begitu pribahasanya kan. Belajar saja, nanti juga bisa menyesuaikan diri. Aku? Jika mengerti kubalas, jika tidak mengerti ya bertanya pada yang kiranya mengerti, jika tidak paham juga ya senyum saja.
***
Oia, keinginanku untuk menikmati indahnya Papua tercapai. Mataku dimanjakan dengan awan putih tebal dan langit biru cerah. Gunung-gunung menjulang tinggi. Mengunjungi goa terpanjang, danau tertinggi, mumi, pasir putih di atas gunung batu, air garam di atas bukit, dan wisata-wisata lain. Pelangi yang hampir di setiap hari kulihat. Lebih special Festival Budaya Lembah Baliem, di mana saya bangga melihat murid-murid saya menari menghibur pengunjung lokal, nasional dan internasional.
Indonesia memang memiliki beragam budaya dengan berbagai adat istiadat yang berbeda di setiap daerah. Mau bagaimana orang menilainya, ya inilah budaya Papua. Papua yang juga bagian negeri tercinta ini. Memakai Koteka, Sali, memasak makanan dengan Bakar Baru, Menari, Perang-perangan dengan panah dan berbagai budaya mereka.
***
Bagi sebagian orang, setahun itu bukan waktu yang lama. Setahun pengabdian mungkin saja tak terlukis nyata perjalannya. Tapi bagi kami, setahun itulah yang menghadirkan banyak pelajaran hidup. Setahun itulah yang mengubah hidupku. Setahun itulah yang mengenalkanku pada banyak makna, banyak warna.
Setahun itulah perjuanganku dimulai. Perjuangan memberi manfaat. Setahun itulah awalku membangun ketulusan dalam diri. Setahun itulah pelangiku terlukis paling indah. Dan, setahun itulah yang tak akan terlupakan.
“SM-3T punya cerita tentang cita-cita dan cinta”
Setahun itulah yang membuatku mencintai negeriku. Membuatku malu jika kelak akan menyerah dan mengeluh.
“Wa wa wa. Terima kasih Tuhan. Terima kasih semuanya. I Love Papua. Always Love Indonesia.”
====
Wam, sebutan untuk babi
Hipere, sebutan untuk ubi jalar
Wa wa wa, Ucapan terimah kasih




Penulis,
Nurmiati, S. Pd





19 komentar:

  1. Ah, saya senang baca ceritanya. Dari dulu pengen banget ikut kegiatan ini. Sayang akhirnya belum tercapai, semoga nanti ya :)
    Tahun ini adek saya yang ikut SM3T nya, semoga sehat selalu buat kalian dan kita semua rekan pendidik dan pengajar. Salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mba Alma. Alhamdulillah jika ada yang senang membaca cerita pengalaman saya.

      Terus semangat, mungkin belum rejeki. Amin. Semoga.

      Wah. Adenya SM3T angaktan VI? Amin semoga sehat selalu. :)

      Hapus
  2. Susah sekali tidak mbak menyesuaikan dengan kehidupan disana ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Dinda. kalau di bilang susah banget, tidak juga. Setiap daerah ada tantangannya tersendiri. Susah atau tidaknya juga dipengaruhi oleh faktor diri kita sendiri dalam menyesuaikan.

      Hapus
  3. Terharu kak membacaa pengalaman kakak ... semoga kelak sy bisa mngikuti jejak kakak ... trima ksh kak untuk niat muliax n pngorbnan slma mengabdi d daerah 3T.. tiada hasil yg mengkhianati usaha kak .. luar biasa kakak2 SM3T .. ... sukses selalu buat kakak ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai @sari panese

      Amin... Amin. amin.

      semoga sari juga bisa ya...

      Semoga juga pendidikan Indonesia lebih baik lagi, merata dan memberikan hak generasinya untuk terus berprestasi. Amin.

      makasih sudah baca blog saya. ;)

      Hapus
  4. Sangat menginspirasi :) semoga nanti bisa ikut SM3T amin

    BalasHapus
  5. Sangat menginspirasi 😊, semoga nanti bisa ikutan SM3T amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai @Inda Lapinda

      Syukurlah jika menginspirasi... terima kasih sudah baca cerita saya...

      Amin. Semoga yang diharapkan dan dicita-citakan Inda terwujud.

      Hapus
  6. Sangat menginspirasi :) semoga nanti bisa ikut SM3T amin

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  8. terharu. bertanya-tanya juga apakah aku siap kalau Tuhan percayakan lulus. mkasih kk buat sharingnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama @Eka Deviana

      Jika Tuhan percayakan takdir, kita pasti bisa melaluinya. Maka yakin dan jalani dengan melakukan yang terbaik maka, manfaatnya dan bahagia itu akan menyusul usaha kita menggapainya... :D

      Hapus
  9. Mba, Nurmiati... saya sangat tertarik dg cerita Anda. Saya jadi terinspirasi utk membuat cerpen dari cerita tersebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai @sitah f

      maaf ya kelamaan baru balas... panggil Nurmi saja. ;)

      silahkan. Boleh saja. Oia, jangan lupa kirim ke saya juga ya jika sudah jadi. :)

      Hapus
  10. Mba keuntungan mba setelah ikut sm3t apa ya? Apa bener ada keistimewaan untuk masuk cpns? Setelah ikut sm3t berapa lama menunggu mba nurmi baru bisa jd pns? Kebetulan saya jg mahasiswa unmul ^^ Makasi

    BalasHapus
  11. Mba nurmi saya mau nanya, apakah bener setelah ikut sm3t ada keistimewaan khusus utk ikut cpns? Mba nurnu setelah ikut sm3t nunggu brp lama utk bisa jd pns? Makasi, kebetulan saya mahasiswa unmul juga hehe

    BalasHapus
  12. kakak , saya izin mau buat cerpen dari cerita kakak ya. terima kasih :)

    BalasHapus
  13. kakak, saya izin mau pakai cerita kakak buat cerpen yang mau saya buat ya, terima kasih :)

    BalasHapus

Salam kenal. Semoga bermanfaat. Thanks atas kunjungan dan komentarnya.