Rabu, 30 April 2014

Dua Lembar Polio Perjalanan Hidup

*Pukul 13.25*

Siang di Rabu itu, dua gadis sedang berdebat kecil mengenai sesuatu. Saat di luar sana hujan deras namun matahari bersinar jelas tak membuat mereka satu pendapat.

"Sudah ku bilang tulis saja apa yang melintas di kepalamu. Apa aja!"

"Aku enggak tau harus nulis apa, harus mulai dari mana. Aku mau nangis kalau begini." Sang adik merebahkan kepalanya di atas meja sambil menghela napas putus asa menanti belas kasihan untuk di dektekan apa yang seharusnya iya tulis.

"Ya sudah nangis. Memangnya kalau kamu nangis itu kertas polio bakalan penuh? Lagipula sudah kuperingatkan mengerjakan ini dari sebulan lalu karena aku tau kau tak suka menulis. " Suara sang kakak tak keras mencekam, namun menusuk dan sedikit ketus.

"Makanya bantuin atau sekalian buatkan."

"Ih, mana bisa. Ini tentang hidupmu, memangnya aku tau semua yang kau alami dan yang kau rasakan." Suara sang kakak melemah dan mulai memberi sedikit gambaran, beberapa semenit kemudia ia kembali mengelus dada karena sang adik tak juga mengerti. Kertas Polio itu masih saja kosong.

"Ah, ini nanti aja. Mendingan isi yang ini dulu deh." Sang adik mengambil kertas lain berupa formulir. Apapula ini? Masa beginian ditanyain juga. Aku harus isi apa?" Sang adik mulai kebingungan lagi dan menatap sang kakak yang dari tadi asik online membaca berbagai macam artikel atau sekedar menyapa teman dunia mayanya.

"Kak. Coba bantuin isi." Rengek sang adik. Sang kakak hanya melirik lalu berkata sesuatu yang terkesan jahat.

"Ya ampun De. Selama sekolah ngapain aja sih? Masa iya aku yang isi. Aku isi dengan apa yang kujalani? Gak mungkin kan?" Kata-katanya membuat sang adik menghela napas semakin kecewa.

"Iya, aku juga nyesel waktu sekolah enggak memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Tapi sekarang bantuin."
"Isi yang kiranya bisa dulu yang lain pikirkan nanti."
"Sudah."
"Terus itu masih banyak yang kosong. Memangnya selama sekolah enggak aktif kok sampe enggak ada satupun yang bisa kamu tulis di kolom itu."
"Ada sih tapi,"
"Ya sudah tulis!"
Sang adik kembali menunduk sebari berpikir, apakah ia akan menulis atau membiarkan kolom itu kosong. "Kak, kosongin aja ya?"
"Terserah."
"Okey. Yang ini sudah. Terus masalah ini gimana?" Sang adik kembali menatap polio yang masih berisi setengah tulisan tak rapi, seolah ditulis tanpa niat dan keseriusan.

"Ya sudah, itu polio tuliskan apa yang melintas dipikiranmu saja, coba diingat-ingat seperti masa-masa SD, SMP dan SMA. Coba mulai menulis dari nama asli, panggilan, tanggal lahir. Mau cantumin hal yang bagimu menyenangkan atau yang menyedihkan juga boleh. Tulis aja dulu seperti curhat. Nanti dirapikan, tulis yang banyak terus nanti coret yang tidak perlu." Sang  kakak mengoceh panjang lebar berharap sang adik mengerti.

---Begitu sulitkah menulis tentang perjalanan hidup bagi sang adik hingga baru satu paragraf ia sudah mengeluh kembali karena kembali buntuh kata apa yang harus ia tulis.

"Kak. Gak ngerti."
"Sudah tulis aja semuanya!"

"Huh," Sang adik mulai menulis lagi. "Kenapa juga syarat beasiswanya pake beginian segala. Lagian sejak kapan aku suka menulis, membaca aja kalau enggak kepaksa enggak bakalan." Keluhnya lebih banyak lagi.

"Sudah kerjakan saja. Cepat sedikit ini sudah jam empat sore, sebentr lagi tutup. Lagian hari ini terakhir."

---Mengingat kata-kata sang kakak tadi pagi sang adik terus berusaha mengelesaikan semampunya.

*Paginya*

"Sudah selesai dua polio perjalanan hidupnya?" Sang kakak bertanya dengan tatapan harap
"Belum."
"Sudah di isi formulirnya dan sudah milih universitasnya, fakultas dan jurusannya?"
"Belum."
"Sudah foto?"
"Belum."
"Terus?!"
"Gak tau."
"Hari ini terakhir ngumpulnya loh." Mendengar itu sang adik hanya terdiam berbaring di rangjang kakaknya.
"Lalu bagaimana?"
"Apanya?"

"Ya ampun De." Sang kakak mulai bingung harus berkata apa, ada getaran yang mendorong emosinya sedikit di level semakin dan semakin tinggi hingga suara ketus penuh keseriusan itu membuat adiknya semakin terdiam berpikir. "Kamu ini loh, tau arti perjuangan enggak. Sudah aku usahakan ini itunya, suruh nulis begitu aja sebulan enggak selesai. Lah maunya apa?"

Sang kakak menarik napas pelan dan melanjutkan ocehannya namun dengan volume yang lebih renda. "Mulai sekarang belajar deh untuk memutuskan yang terbaik untuk diri sendiri. Bukan berarti selama ini belum bisa tapi kali ini benar-benar menyebalkan. Kalau mau daftar bilang mau, lakukan, usaha. Kalau enggak ya enggak. Terus kalau mau kuliah ya mau, enggak juga enggak papa. Mau kerja saja ya silahkan."

Sekitar dua menit keduanya tak bersuara. Sang kakak berdiri mengambil sebuah map dan meletakkan di samping adiknya. "Ini, lengkapi dan antar sendiri jika ingin mendaftar."

*Pukul 17.13*

"Sudah?" Tanya sang kakak penasaran sambil tersenyum ketika ujung matanya menemukan kertas polio telah terisi hampir tiga lembar.
"Belum tapi enggak tau lagi mau nulis apa."
"Ya sudah, itu juga sudah cukup."
"Ini tambahin." Sang adik mengodorkan kertas itu pada sang kakak.
"Loh?"
"Iya baca terus bagusin gitu,"
"Itu bukan tambahin tapi koreksein." Koreksi sang kakak terhadap kata-kata sang adik.
"Iya deh iya. Gimana?"

Kening sang kakak mengekerut, ia tak bersuara hingga satu kalimat mengecewakan terlontar. "Aku enggak bisa membacanya."

"Hahahaha...." Keduanya tertawa. Tulisan sang adik juga tadi sempat menjadi perdebatan dan saling olok-olokan mereka, itulah kenyataannya bahwa tidak rapi, sang adik juga mengakui itu.

"Ini coba bacakan, lalu aku ketik. Nanti aku tambahin sendiri dengan bahasa yang lebih baik. Terus diprint lalu kamu tulis ulang." Sang kakak menyodorkan 3 lembar kertas polio itu. 
Kening sang adik mengekerut lalu dengan polosnya iya berkata, "Aduh hancur sekali, aku juga engga terlalu bisa membacanya."
"Hah? Coba sebisamu saja atau sekalian menghayal kenangan sambil ngomong, aku yang ngetik maksudnya."

Dengan pelan sang adik mendektekan, dengan sabar sang kakak berpikir mengolah kalimat yang akan ia ketik. Usai mengeprint dan usai menyalinya kembali mereka bersiap-siap untuk menuju studio foto, fotocopyan, lalu mengantarkan berkas itu kepada alamat pengelolah beasiswa.

* Pukul 18.10*

"Semoga diterima ya." Ungkap sang adik dalam perjalanan pulang.
"Amiiin,"
"Iya. Amiiiinn."
"Oia, mulai sekarang belajar banyak hal."
"Iya. Iya."
-----

Cerita By Nurmiati, 30 Apr 2014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam kenal. Semoga bermanfaat. Thanks atas kunjungan dan komentarnya.