*Pukul 13.25*
Siang di Rabu itu, dua gadis sedang
berdebat kecil mengenai sesuatu. Saat di luar sana hujan deras namun
matahari bersinar jelas tak membuat mereka satu pendapat.
"Sudah ku bilang tulis saja apa yang melintas di kepalamu. Apa aja!"
"Aku
enggak tau harus nulis apa, harus mulai dari mana. Aku mau nangis kalau
begini." Sang adik merebahkan kepalanya di atas meja sambil menghela
napas putus asa menanti belas kasihan untuk di dektekan apa yang
seharusnya iya tulis.
"Ya sudah nangis. Memangnya kalau
kamu nangis itu kertas polio bakalan penuh? Lagipula sudah
kuperingatkan mengerjakan ini dari sebulan lalu karena aku tau kau tak
suka menulis. " Suara sang kakak tak keras mencekam, namun menusuk dan
sedikit ketus.
"Makanya bantuin atau sekalian buatkan."
"Ih,
mana bisa. Ini tentang hidupmu, memangnya aku tau semua yang kau alami
dan yang kau rasakan." Suara sang kakak melemah dan mulai memberi
sedikit gambaran, beberapa semenit kemudia ia kembali mengelus dada
karena sang adik tak juga mengerti. Kertas Polio itu masih saja kosong.
"Ah,
ini nanti aja. Mendingan isi yang ini dulu deh." Sang adik mengambil
kertas lain berupa formulir. Apapula ini? Masa beginian ditanyain juga.
Aku harus isi apa?" Sang adik mulai kebingungan lagi dan menatap sang
kakak yang dari tadi asik online membaca berbagai macam artikel atau
sekedar menyapa teman dunia mayanya.
"Kak. Coba bantuin isi." Rengek sang adik. Sang kakak hanya melirik lalu berkata sesuatu yang terkesan jahat.
"Ya
ampun De. Selama sekolah ngapain aja sih? Masa iya aku yang isi. Aku
isi dengan apa yang kujalani? Gak mungkin kan?" Kata-katanya membuat
sang adik menghela napas semakin kecewa.
"Iya, aku juga nyesel waktu sekolah enggak memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Tapi sekarang bantuin."
"Isi yang kiranya bisa dulu yang lain pikirkan nanti."
"Sudah."
"Terus
itu masih banyak yang kosong. Memangnya selama sekolah enggak aktif kok
sampe enggak ada satupun yang bisa kamu tulis di kolom itu."
"Ada sih tapi,"
"Ya sudah tulis!"
Sang adik kembali menunduk sebari berpikir, apakah ia akan menulis atau membiarkan kolom itu kosong. "Kak, kosongin aja ya?"
"Terserah."
"Okey.
Yang ini sudah. Terus masalah ini gimana?" Sang adik kembali menatap
polio yang masih berisi setengah tulisan tak rapi, seolah ditulis tanpa
niat dan keseriusan.
"Ya sudah, itu polio tuliskan apa
yang melintas dipikiranmu saja, coba diingat-ingat seperti masa-masa SD,
SMP dan SMA. Coba mulai menulis dari nama asli, panggilan, tanggal
lahir. Mau cantumin hal yang bagimu menyenangkan atau yang menyedihkan
juga boleh. Tulis aja dulu seperti curhat. Nanti dirapikan, tulis yang
banyak terus nanti coret yang tidak perlu." Sang kakak mengoceh panjang
lebar berharap sang adik mengerti.
---Begitu sulitkah
menulis tentang perjalanan hidup bagi sang adik hingga baru satu
paragraf ia sudah mengeluh kembali karena kembali buntuh kata apa yang
harus ia tulis.
"Kak. Gak ngerti."
"Sudah tulis aja semuanya!"
"Huh,"
Sang adik mulai menulis lagi. "Kenapa juga syarat beasiswanya pake
beginian segala. Lagian sejak kapan aku suka menulis, membaca aja kalau
enggak kepaksa enggak bakalan." Keluhnya lebih banyak lagi.
"Sudah kerjakan saja. Cepat sedikit ini sudah jam empat sore, sebentr lagi tutup. Lagian hari ini terakhir."
---Mengingat kata-kata sang kakak tadi pagi sang adik terus berusaha mengelesaikan semampunya.
*Paginya*
"Sudah selesai dua polio perjalanan hidupnya?" Sang kakak bertanya dengan tatapan harap
"Belum."
"Sudah di isi formulirnya dan sudah milih universitasnya, fakultas dan jurusannya?"
"Belum."
"Sudah foto?"
"Belum."
"Terus?!"
"Gak tau."
"Hari ini terakhir ngumpulnya loh." Mendengar itu sang adik hanya terdiam berbaring di rangjang kakaknya.
"Lalu bagaimana?"
"Apanya?"
"Ya
ampun De." Sang kakak mulai bingung harus berkata apa, ada getaran yang
mendorong emosinya sedikit di level semakin dan semakin tinggi hingga
suara ketus penuh keseriusan itu membuat adiknya semakin terdiam
berpikir. "Kamu ini loh, tau arti perjuangan enggak. Sudah aku usahakan
ini itunya, suruh nulis begitu aja sebulan enggak selesai. Lah maunya
apa?"
Sang kakak menarik napas pelan dan melanjutkan
ocehannya namun dengan volume yang lebih renda. "Mulai sekarang belajar
deh untuk memutuskan yang terbaik untuk diri sendiri. Bukan berarti
selama ini belum bisa tapi kali ini benar-benar menyebalkan. Kalau mau
daftar bilang mau, lakukan, usaha. Kalau enggak ya enggak. Terus kalau
mau kuliah ya mau, enggak juga enggak papa. Mau kerja saja ya silahkan."
Sekitar
dua menit keduanya tak bersuara. Sang kakak berdiri mengambil sebuah
map dan meletakkan di samping adiknya. "Ini, lengkapi dan antar sendiri
jika ingin mendaftar."
*Pukul 17.13*
"Sudah?"
Tanya sang kakak penasaran sambil tersenyum ketika ujung matanya
menemukan kertas polio telah terisi hampir tiga lembar.
"Belum tapi enggak tau lagi mau nulis apa."
"Ya sudah, itu juga sudah cukup."
"Ini tambahin." Sang adik mengodorkan kertas itu pada sang kakak.
"Loh?"
"Iya baca terus bagusin gitu,"
"Itu bukan tambahin tapi koreksein." Koreksi sang kakak terhadap kata-kata sang adik.
"Iya deh iya. Gimana?"
Kening sang kakak mengekerut, ia tak bersuara hingga satu kalimat mengecewakan terlontar. "Aku enggak bisa membacanya."
"Hahahaha...."
Keduanya tertawa. Tulisan sang adik juga tadi sempat menjadi perdebatan
dan saling olok-olokan mereka, itulah kenyataannya bahwa tidak rapi,
sang adik juga mengakui itu.
"Ini coba bacakan, lalu
aku ketik. Nanti aku tambahin sendiri dengan bahasa yang lebih baik.
Terus diprint lalu kamu tulis ulang." Sang kakak menyodorkan 3 lembar
kertas polio itu.
Kening sang adik mengekerut lalu dengan polosnya iya
berkata, "Aduh hancur sekali, aku juga engga terlalu bisa membacanya."
"Hah? Coba sebisamu saja atau sekalian menghayal kenangan sambil ngomong, aku yang ngetik maksudnya."
Dengan
pelan sang adik mendektekan, dengan sabar sang kakak berpikir mengolah
kalimat yang akan ia ketik. Usai mengeprint dan usai menyalinya kembali
mereka bersiap-siap untuk menuju studio foto, fotocopyan, lalu
mengantarkan berkas itu kepada alamat pengelolah beasiswa.
* Pukul 18.10*
"Semoga diterima ya." Ungkap sang adik dalam perjalanan pulang.
"Amiiin,"
"Iya. Amiiiinn."
"Oia, mulai sekarang belajar banyak hal."
"Iya. Iya."
-----
Cerita By Nurmiati, 30 Apr 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Salam kenal. Semoga bermanfaat. Thanks atas kunjungan dan komentarnya.