Seperti mentari itu baru terlihat memercikkan semangat baru, dirimu hadir dan sengaja mengubah arah perjalananku. Sosok yang sesungguhnya tak pernah kuinginkan sebelumnya. Kaku, sok tau dan sedikit keras kepala. Hanya berdiam diri mengamati, seolah memiliki sihir membuat diri ini tertarik untuk mengintip sedikit fokusmu, lalu aku berlahan membuka diri kala itu kau tawarkan untuk sedikit mengerti harimu yang membosankan--katamu dan mungkin bagi mereka.
Aku mulai terbiasa, membuka diri dan membiarkan imajinasiku mengikuti arus yang kau ciptakan. Aku tau ini tidak salah karena sebenarnya duniamu tak begitu berbeda. Aku menyukai perubahan kecil yang kau lakukan, sesekali menghadirkan tawa tanpa kuduga. Hei, kau tau? Aku pernah merasa dipermainkan waktu. Aku bertanya-tanya. Apa kau sengaja? Mengajariku melukis lebih ceria, mencampurkan warna lebih indah. Tapi apa kau sadar kau tetap sama? Hanya memiliki abu-abu dan biru saja.
Aku melangkah ke Timur hingga aku mengabaikan sesuatu yang berharga. Kamu, kamu yang sengaja kubiarkan memudarkan warnamu hariku. Aku gagal menyusuri jalan ini. Aku masih mencampurkan warnamu dengan warna-warna indah di sini. Dan, kau kembali. Aku tersenyum lebih. Di senja itu, meski waktu kita tak sama, warna langit kita tak sama, dan duduk jauh ditempat berbeda. Ada rindu kita tersampaikan melalui suara diam meresapi alam sesekali suara malu-malu ingin bertanya.
"Terlalu banyak warna indah di sini. Aku hampir lupa bagaimana memilih yang benar, semuanya membuatku bahagia. Mungkin yang sedikit pudar lebih baik dan menarik."
Malu-malu ku katakan rinduku. Aku yakin kau memahaminya. Tersirat yang tersampaikan, begitu selama ini kau mengajariku. Dan, semua lebih terasa menyejukkan. Tak perlulah kita berteriak sekuat tenaga dan berlari terlalu kencang. Cukuplah jujur pada perasaan dan harapan. Bukankah begitu?
Telingaku terlalu peka, aku menangkap suara-suara pelukis bahagiamu, kau menahan tawa dan sengaja menahan diri untuk cepat menanggapi.
"Ehem."
Ada kesal yang tertahan, kala bayangan teresenyum-senyum menahan tawa dan bahagiamu yang membludak terlintas di benak ku.
"Apa ada yang salah?"
Tanya ku meluruskan. Kau malah lebih banyak bicara, pipiku menjadi merah yang tersamarkan merah senja. Kurasa selama ini aku kurang peka untuk menyadari kita tetap sama. Sadarkah kita terlalu banyak waktu terlewati begitu saja hingga kita tak bisa mengingat semuanya, yang kutau, dirimu yang suka menyendiri itu adalah sosok yang tidak bisa terabaikan, dan aku pernah menangis tersedu-sedu tanpa malu pada mahluk sok jenius sepertimu.
Ya. Kini kita telah jauh berjalan. Pada harapanku, pada harapanmu, dan mungkin impian kita. Tunggulah waktu berpihak pada kita lagi, tunggulah. Bukankah kita percaya takdir dan kita serahkan padaNYA. Amin.
I need you. Your special.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Salam kenal. Semoga bermanfaat. Thanks atas kunjungan dan komentarnya.