Tidak adil jika menjadikan kesibukan menjadi alasanku bersikap acuh kepada hal sederhana tapi penting. Diri ini sangat tau bahwa tidak bisa diabaikan atau mengabaikan, namun entah apa yang membuatku keluar dari zona itu, dan saat tersadar kini, aku sudah terlalu jauh. Aku terperangkap dalam perasaan serba salah. Ingin menghadirkan kecerianku meski sekedar berbagi senyum dan kabar, tapi aku buntu untuk memulainya. Aku perna mencoba beberapa kali sebelumnya, mungkin karena usahaku yang tak maksimal hanya membuatku kecewa, lantas menyerah, kembali berjalan di suasana kaku nan sunyi.
Aku ingin melukis hari layaknya 1/2 dari hayalanku, bisa bersikap normal (?) mangatakan rindu jika memang rindu, mengatakan tak suka jika memang itu membuatku tak nyaman, melakukan yang kumau tanpa harus berpikir telalu banyak. Ingin menyerah jika memang itu perlu. Boleh aku mencobanya lagi? Mau menjadi penuntunku belajar lebih baik. Tidak kaku, baku, dan mulai mengabaikan kesalahan lalu. Aku hanya merasa bersalah terhadap beberapa hal, entah pada diriku sendiri atau orang-orang disekitarku.
Jujur saja, aku masih merasa sepi dibegitu banyaknya keramaian yang mengelilingiku. Lelah iya. Sedih iya. Bahagia harusnya iya. Senang? sebagian iya. Tapi kembali menjadi sosok yang bertopeng dengan harapan dan kenyataan yang tak selaras.
Kubaca lagi berulang kali list yang tercatat rapi dilembar-lembar buku biruku. Tangan memain-mainkan pulpen, pikiranku melayang jauh kebelakang sebari memilah-milah tindakan apa yang harus kupilih. Layaknya memilih eskrim atau coklat, pare atau belimbing ulu. Aku nggak mau semua hal yang sangat kusuka atau tak kusuka itu. Aku mau yang lain. Normal (?), tidak menarik diri atau tidak terlalu mendekatkan diri.
Katanya jarak bukanlah suatu penghalang.
Sekarang? boleh aku menyapa? boleh aku bertanya? Lalu boleh aku kembali tersenyum dan berbagi denganmu, dengan kalian? Ah, kuharap itu mudah, tapi nyatanya memulai saja aku belum.
Peka? aku bukan orang yang peka, kau tau itu, meski tak sedikir dari kalian yang bilang aku sangat perduli. Itu dulu, saat waktu belum begitu cepat berlalu dan debu mulai menutup satu persatu lembaran hari-hari yang terlalui.
Ayolah? bantu aku. Hadirkan sedikit dukungan dengan membalas usahaku. Kutau kamu juga begitu.
Aku akan memulai lagi. Kuharap kali ini aku berhasil :D
#kangen #Kamu #Kalian #Semua
02/04/2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Salam kenal. Semoga bermanfaat. Thanks atas kunjungan dan komentarnya.